KEHAMILAN USIA REMAJA SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING DAN WASTING PADA BALITA USIA 6 - 23 BULAN DI INDONESIA (STUDI ANALISIS IFLS 5)
JUSTIYULFAH SYAH, Dr. rer. nat. dr. BJ. Istiti Kandarina.; Dr. Drs. Abdul Wahab, MPH
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Kejadian wasting dan stunting saling terkait dengan peningkatan mortalitas terutama ketika keduanya dialami oleh anak yang sama. Data Riskesdas 2013 menunjukkan angka kejadian stunting pada balita sebesar 37,2% dan kejadian wasting sebesar 12,1%. Kehamilan dan kelahiran pada usia remaja berkontribusi dalam meningkatkan angka kejadian kesakitan dan kematian perinatal di Indonesia. Angka perkawinan pada anak usia remaja yang tinggi ditunjukkan dari hasil SDKI 2012 yaitu sebesar 48 per 1000 remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya risiko kehamilan usia remaja terhadap kejadian stunting dan wasting pada anak usia 6-24 bulan di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS) periode ke5 dengan rancangan penelitian nested case-control study dengan kelompok kasus merupakan anak yang memiliki status gizi stunting dan wasting, serta kelompok kontrol adalah anak dengan status gizi normal. Hasil: hasil analisis bivariabel kejadian stunting dan wasting tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kehamilan usia remaja dengan nilai p=0,39 (OR=1,30; CI 95 = 0,67-2,48). Hasil analisis multivariat kejadian stunting dan wasting dengan kehamilan usia remaja dengan mengikut sertakan variabel berat badan lahir, tinggi badan ibu, penyakit infeksi, dan lokasi tempat tinggal tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai p=0,47 (OR=1,25; CI 95%=0,67-2,35). Kesimpulan: Penelitian ini didapatkan bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan antara kehamilan usia remaja dengan kejadian stunting dan wasting, namun tetap di perlukan startegi untuk menurunkan angka kehamilan usia remaja melalui sosialisasi dan edukasi bahaya pernikahan dini guna mendapatkan generasi dengan status kesehatan yang lebih baik.
Background: The incidence of wasting and stunting is interrelated with increased mortality, especially when both are experienced by the same child. The 2013 Riskesdas data showed that the incidence of stunting in infants was 37.2% and wasting was 12.1%. Pregnancy and birth in adolescence contribute to increasing the incidence of perinatal morbidity and mortality in Indonesia. The high marriage rate for children of adolescence is shown in the results of the 2012 IDHS, which is 48 per 1000 adolescents. This study aims to analyze the risk of pregnancy in adolescents to the incidence of stunting and wasting in children aged 6-24 months in Indonesia. Method: This study was an observational study using the secondary data of the Indonesian Family Life Survey (IFLS) in the 5th period with a nested case-control study design with a case group of children who had nutritional status stunting and wasting, as well as a control group with children normal nutrition. Results: the results of the bivariable analysis of the incidence of stunting and wasting did not have a significant relationship to pregnancy in adolescence with a value of p = 0.39 (OR = 1.30; CI 95 = 0.67-2.48). The results of multivariate analysis of events stunting and wasting with gestational age adolescents by including variables of birth weight, maternal height, infectious disease, and place of residence did not have a significant relationship with p = 0.47 (OR = 1.25; 95 % CI = 0.67-2.35). Conclusion: This study found no significant relationship between the gestational age of adolescents and the incidence of stunting and wasting, but still in need of a strategy to reduce the number of teenage pregnancy through socialization and education dangers of early marriages in order to get a generation with better health status.
Kata Kunci : Kehamilan usia remaja, stunting- wasting, IFLS 5, Teenage pregnancy, stunting-wasting, IFLS