ANALISIS SUMBER PENGHIDUPAN PELAKU UTAMA USAHA PERIKANAN DI DESA PAKUALAM KECAMATAN DARMARAJA KABUPATEN SUMEDANG
MAULANA IHSAN, Suadi, S.Pi., M. Agr., Sc., Ph.D.
2019 | Skripsi | S1 MANAJEMEN SUMBERDAYA AKUATIKPembangunan Waduk Jatigede telah mengubah sumber penghidupan masyarakat Desa Pakualam, dari bertani menjadi pelaku usaha perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aset-aset penghidupan dan permasalahan yang dimiliki nelayan dan pelaku usaha perikanan di area sekitar waduk serta menganalisis strategi penyelesaian masalah yang akan dan sedang dihadapi. Metode penelitian menggunakan metode sensus dengan jumlah responden 29 pelaku usaha perikanan yang terdiri dari 10 pembudidaya keramba jaring apung, 2 pengolah ikan, dan 17 nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aset penghidupan yang dimiliki responden berupa aset manusia meliputi orang yang memiliki keterampilan di bidang perikanan (24% responden) dan non perikanan (100% responden), jumlah keluarga yang bekerja selain responden sejumlah 65%, keikutsertaan responden dalam pelatihan 17%, dan kepemilikan asuransi kesehatan (48% responden). Aset alam meliputi pemanfaatan sumberdaya ikan (100% responden) dan pemanfaatan lahan yang dimiliki (86,2% responden), pemanfaatan lahan sebagai keramba jaring apung 38%, warung 34%, sawah 3% dan usaha lainnya. Aset fisik umum terdiri atas jalan, sekolah, dan sarana ibadah. Aset fisik milik pribadi terdiri atas kepemilikan rumah pribadi (76% responden), kendaraan (45% responden), alat komunikasi (100% responden) dan kepemilikan perahu atau rakit (79% responden) beserta kepemilikan alat tangkap (89% responden). Aset finansial terdiri atas kepemilikan tabungan (39,5% responden) dan investasi (44,8% responden). Aset sosial terdiri atas keikutsertaan dan kontribusi dalam kegiatan dan kelembagaan sosial seperti kelompok masyarakat (24% responden), gotong royong (66% responden), pengajian atau kegiatan rohani (59% responden) dan arisan (52% responden). Permasalahan yang dihadapi nelayan dan pelaku usaha perikanan di Desa Pakualam yaitu gelombang tinggi dan angin kencang (100% responden), musim paceklik (58% responden), nelayan tidak memiliki perahu atau rakit 20%, serta reponden tidak memiliki keterampilan yang cukup di bidang perikanan karena masih masa peralihan dari petani menjadi pelaku utama usaha perikanan (72% responden). Kebijakan daerah terkait pelarangan kegiatan usaha budidaya dirasakan memberikan pengaruh kepada jalannya usaha perikanan oleh 62% responden. Strategi nelayan dalam menghadapi gelombang tinggi, angin kencang, dan musim paceklik yaitu tidak melakukan penangkapan dan melakukan pinjaman kepada warung, saudara dan tetangga terdekat. Selain itu, nelayan yang memiliki latar belakang di bidang pertanian akan kembali memanfaatkan lahan kosong dan hasil alam yang dapat dimanfaatkan agar tetap bertahan hidup. Diversifikasi pekerjaan yang dilakukan adalah menjadi buruh bangunan, dan kembali menjadi petani.
The construction of Jatigede Reservoir had changed the source of livelihood of Pakualam village community, from rice farming to being a fisheries dependent community. This research aims to identify livelihood assets and problems that fisheries dependent community have in the area around the reservoir and analyze problem solving strategies that will be and are being encountered. The research method uses a census method with the number of respondents of 29 fisheries dependent community consisting of 10 floating net cage farmers, 2 fish processors, and 17 fishermen. Research result shows that the livelihood assets owned by respondents in the form of human assets are people who have skills in the field of fisheries (24% of respondents) and non-fisheries (100% of respondents), family members working besides respondents 65%, the participation of respondents in training was 17%, and health insurance ownership (48% of respondents). Natural assets include the utilization of fisheries resources (100% respondents) and owned land use (86,2% of respondents), land use as floating net cages 38%, 34% stalls, 3% rice fields and other businesses. General physical assets consists of roads, schools, and religious facilities. Private physical assets property consist ownership of private houses (76% of respondents), vehicles (45% of respondents), tools communication (100% of respondents) and boat or raft ownership (79% of respondents) along with ownership of fishing gear (89% of respondents). Financial assets consist of ownership of savings (39,5% of respondents) and investment (44,8% of respondents). Social assets consist of participation and contribution in social activities and social institutions such as community groups (24% of respondents), gotong-royong (66% of respondents), pengajian (59% of respondents) and arisan (52% respondent). Problems faced by fisheries dependent community in the village Pakualam namely high waves and strong winds (100% of respondents), musim paceklik (58% of respondents), and respondent do not have sufficient skills in the field of fisheries because it is still a transition period from farmers to fisheries dependent community (72% of respondent). Regional policies related to prohibition of floating net cage fish farming activities are felt to have an influence on the course of the business fisheries by 62% of respondents. The strategy of fishermen in facing high waves, strong winds, and musim paceklik which is not going out for fishing and committing loans to stalls, relatives and closest neighbors. In addition, respondent whose having a background in agriculture will re-use vacant land and natural products that can be used to survive. Work diversification is done by becoming a construction worker and return to being a farmer.
Kata Kunci : aset penghidupan, Pakualam, pelaku usaha perikanan, strategi penghidupan, Waduk Jatigede