Peran Puskesmas Dalam Peningkatan Pemahaman Reproductive Health Literacy Bagi Santri di Pondok Pesantren Ash-Sholihah
ZOLA PRADIPTA, Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang : Rendahnya pengetahuan remaja terhadap pelayanan kesehatan reproduksi menyebabkan pemanfaatan terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang ada di pelayanan kesehatan tidak berjalan maksimal. Berdasarkan data SDKI 2017, umur pertama kali berhubungan seksual pranikah ada pada kelompok umur 15- 19 tahun dan kejadian tertinggi pada usia 17 tahun dengan presentase 59% wanita dan 41% pria pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang tumbuh dan berkembang yang berperan dalam pengembangan sumberdaya manusia. Pendidikan terkait dengan seksualitas dan kesehatan reproduksi di pesantren masih sangat minim. Kesehatan reproduksi masih menjadi hal yang tabu di pesantren. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja masih belum sepenuhnya dapat menjangkau remaja pada umumnya, khususnya santri remaja yang ada di pondok pesantren. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran puskesmas dalam peningkatan pemahaman reproductive health literacy bagi santri di pondok pesantren Ash-Sholihah. Metode : Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. bertujuan untuk dapat mengeksplorasi peran puskesmas dalam peningkatan pemahaman reproductive health literacy bagi santri di Pondok Pesantren Ash- Sholihah. Subyek dalam penelitian ini adalah kepala puskesmas, pemegang program promkes, pemegang program kespro, kepala sekolah, kepala pondok pesantren, pemegang program poskestren dan santri. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Hasil : Program pelayanan kesehatan reproduksi di pondok pesantren sudah dilakukan oleh puskesmas, seperti penyuluhan kesehatan dan konselor sebaya. Tetapi untuk program penyuluhan dalam setahun baru dilaksanakan sekitar 1 atau dua kali dan pembentukan konselor sebaya dibentuk sekali dalam setahun. Terdapat barrier antara petugas puskesmas dan pondok pesantren dalam pemahaman mengenai kesehatan reproduksi remaja. Pihak pesantren menilai kesehatan reproduksi yang dikaitkan dengan pernikahan dini dari sudut pandangan agama adalah hal yang baik jika si anak sudah siap untuk menikah. Namun, dari segi kesehatan, hal ini akan menimbulkan masalah yang kompleks nantinya pada si anak, tidak hanya fisik anak tapi juga psikis dan kehidupan sosial mereka. Kesimpulan : Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi remaja di pesantren, puskesmas berperan sebagai penyuluh kesehatan. Puskesmas sudah memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi santri di pesantren tetapi pelayanan yang diberikan masih mengenai masalah kesehatan secara umum, belum berfokus pada kesehatan reproduksi.
Background: The low knowledge of adolescents on reproductive health services has caused the utilization of reproductive health services in health centers to be not optimal. Based on data from the 2017 IDHS, the first age for premarital sexual intercourse was in the age group 15-19 years and the highest incidence at the age of 17 years with a percentage of 59% of women and 41% of men having premarital sexual relations. Islamic boarding schools are the oldest educational institutions by adopting a growing and developing a religious education system that plays a role in human resource development. Education related to sexuality and reproductive health in boarding schools is still very minimal. Reproductive health is still a taboo thing in pesantren. Knowledge about adolescent reproductive health is still not fully able to reach adolescents in general, especially teenage students in boarding schools. Objective: This study aims to explore the role of health center in improving the understanding of reproductive health literacy for santri in the Ash-Sholihah Islamic boarding school. Method: This study is a qualitative study with a case study approach. aiming to be able to explore the role of health center in improving the understanding of reproductive health literacy for santri in the Ash-Sholihah Islamic Boarding School. The subjects in this study were the head of the health center health promotion program holders, reproductive health program holders, school principals, heads of Islamic boarding schools, poskestren program holders and santri. Data was collected through in-depth interviews. Results: Reproductive health service programs in Islamic boarding schools have been carried out by health center, such as health counseling and peer counselors. But for the extension program in the new year, it is only held about 1 or two times and the formation of peer counselors is formed once a year. There is a barrier between health center officers and boarding schools in understanding the reproductive health of adolescents. Islamic boarding schools assess reproductive health associated with early marriage from the point of view of religion is a good thing if the child is ready to get married. However, in terms of health, this will cause complex problems later on for the child, not only physically but also psychiatry and their social life. Conclusion: In the implementation of adolescent reproductive health services in Islamic boarding schools, the health center acts as a health educator. The Puskesmas has provided good health centers for santri in the pesantren but the services provided are still about health issues in general, not yet focused on reproductive health.
Kata Kunci : kesehatan reproduksi, santri, pondok pesantren, reproductive health, santri, boarding school