Laporkan Masalah

PENGARUH KETERSEDIAAN, AKSESIBILITAS, DAN PENGGUNAAN RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP JUMLAH KASUS PENYAKIT SPESIFIK DI KOTA YOGYAKARTA

IKA KRISTINA N, M. Sani Roychansyah, S.T., M.Eng., D.Eng

2019 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Penghargaan yang diperoleh oleh Kota Yogyakarta dalam kategori Kota Sehat seharusnya cukup memberikan gambaran mengenai kesehatan kota serta individu di dalamnya. Namun pada kenyataanya Kota Yogyakarta masih menduduki peringkat tinggi untuk beberapa jenis penyakit spesifik. Hal ini terjadi karena konsep kota sehat yang selama ini diterapkan oleh pemerintah memiliki kelemahan pada indikator yang digunakan diantaranya tidak pada performa kesehatan individu. Untuk itu perlu diteliti mengenai kesehatan individu dikaitkan dengan penerapan penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur ketersediaan, aksesibilitas dan penggunaan RTH di Kota Yogyakarta, mengukur jumlah kasus penyakit spesifik sebagai salah satu indikator kota sehat di Kota Yogyakarta, dan menguji pengaruh diantara keduanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif kuantitatif. Analisis ketersediaan RTH menggunakan data citra WorldView-2 tahun 2015 dengan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan divalidasi dengan kondisi di lapangan tahun 2018. Analisis terhadap variabel aksesibilitas dan penggunaan RTH serta jumlah kasus penyakit spesifik menggunakan data kuesioner tahun 2018 didasarkan pada analisis statistik menggunakan statistik deskriptif, pearson�s correlation dan multiple regression. Sampel sebanyak 100 responden dengan metode proportional (random) sampling pada setiap kecamatan di Kota Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Kota Yogyakarta masih belum memenuhi standar luasan RTH Publik minimal sesuai dengan ketentuan UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang maupun ketentuan dari WHO yaitu baru 10,98%. Aksesibilitas RTH di Kota Yogyakarta sangat mudah karena sebagian besar RTH dapat diakses secara gratis dengan berjalan kaki. Sebagian besar pengguna memanfaatkan RTH untuk berolahraga dengan intensitas kunjungan yang cukup beragam diantaranya 1 kali seminggu selama kurang lebih 1 jam. Penelitian ini juga menemukan bahwa jumlah kasus penyakit yang paling banyak adalah penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Terdapat pengaruh signifikan secara simultan (bersama-sama) antara ketersediaan RTH, aksesibilitas yang RTH (akses jarak,dan moda transportasi sehat), dan penggunaan RTH (berolahraga, intensitas, dan durasi) terhadap jumlah kasus penyakit spesifik. Variabel yang paling dominan mempengaruhi jumlah kasus penyakit spesifik adalah variabel intensitas penggunaan RTH

The awards obtained by Yogyakarta City in the category of Healthy Cities should provide enough description of urban health and the individuals in it. But in fact, Yogyakarta City still had a high rate for certain types of specific diseases. This happened because the concept of healthy cities that had been implemented by the government had weaknesses in the indicators used including not on individual health performance. For this reason, it is necessary to examine the health of individuals associated with the application of green open space (GOS) both in terms of quantity and quality. This study aims to measure the availability, accessibility, and utilization of GOS in Yogyakarta City, measuring the number of specific disease cases as an indicator of healthy cities in Yogyakarta City and testing the influence between both. This study uses a quantitative deductive approach. Analysis of the availability of GOS using WorldView-2 image data in 2015 with the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) method and validated with conditions in the field in 2018. Analysis of accessibility and utilization of GOS variables and the number of specific disease cases using questionnaire data in 2018, based on statistical analysis using descriptive statistics, Pearson's correlation, and multiple regression. A sample of 100 respondents with a proportional (random) sampling method in each sub-district in Yogyakarta City. The results showed that the availability of GOS in Yogyakarta City still did not meet the minimum standards of public green space in accordance with the provisions of Law Number 26 of 2007 concerning Spatial Planning and the provisions of the WHO, which was only 10.98%. Accessibility of GOS in Yogyakarta City is very easy because most of the GOS can be accessed for free by walking. Most of the users using GOS to exercise once a week for approximately 1 hour. The study also found that the highest number of cases of the disease is Acute Respiratory Infection (ARI). There is a simultaneous significant influence between the availability of GOS, the accessibility of GOS (access, distance, and healthy transportation modes), and the utilization of GOS (exercise, intensity, and duration) to the number of specific disease cases. The most dominant variable affecting the number of specific disease cases is the variable intensity of using GOS

Kata Kunci : kota sehat, ruang terbuka hijau, penyakit spesifik

  1. S2-2019-419407-abstract.pdf  
  2. S2-2019-419407-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-419407-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-419407-title.pdf