Laporkan Masalah

PENGARUH LEVEL SERAT KASAR DALAM PAKAN DAM SEKEKTOMI TERHADAP PERFORMAM ENTOG (Cairlim moschata)

Sudarto, Dr. Ir. Zuprizal, DEA

2003 | Skripsi | S1 ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan entok dalam memanfaatkan serat kasar dalam pakan serta melihat fungsi dan peran seka dalam sistern pencernaanya dengan tolak ukur kecernaan serat kasar, AME (Apparent Metabolisme Energi), konsumsi pakan pertambahan berat badan harian, dan konversi pakan. Penelitian dibedakan menjadi penelitian biologis dan penelitian laboratorium. Penelitian biologis menggunakan 42 ekor entog jantan lokal umur 6 minggu terdiri dari 21 ekor entog normal dan 21 ekor entog sekektomi. Penelitian laboratorium diambil 18 ekor entok jantan lokal umur 6 minggu terdiri dari 9 ekor entok normal dan 9 ekor entok sekektomi. Entok dialokasikan dengan percobaan Faktorial (2x3) dengan faktor perlakuan sekektomi dan aras serat kasar ransum (5,10 danl5%). Data diuji dengan analisis variansi dilanjutkan dengan uji Duncenfs New Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa sekektomi tidak menunjukan perbedaan secara nyata terhadap kecernaan serat kasar, AME, konsumsi pakan, pertambahan berat badan harian, dan konversi pakan. Sedangkan level serat kasar ransum menunjukan perbedaan sangat nyata (P<0,01) terhadap kecernaan serat kasar, AME pertambahan berat badan, konversi pakan dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini bahwa sekum pada entok umur 6 minggu kurang berperan dalam mencerna serat kasar, dengan semakin tingginya serat kasar yang terdapat dalam ransum, entok normal dan sekektomi akan menurunkan nilai kecernaan serat kasar, AME, pertambahan berat badan harian dan akan meningkatkan konsumsi pakan serta konversi pakan. (Kata kunci : Entok, Seka, Level serat kasar, Sekektomi Serat kasar)

The experiment was aimed to find out the capability of digestibility of crude fibre and to evaluate the function of cecum in digestion system based on crude fiber digestibility, Apparent Metabolism Energy (AME,), feed intake, daily gain and feed convertion ration. The experiment was divided into biological experiment and laboratory experiment. The biological experiment used 42 male local muscovy ducks aged 6 weeks consist of 21 normal ducks and 21 caecectomi ducks. The laboratory experiment used 18 male local ducks aged 6 weeks consist of 9 normal ducks and 9 caecectomi ducks. The ducks were alocated by factorial experiment (2x3) with treatment factor included cecectomi and crude fibre ration level (5, 10 and 15%). The data were analized by analysis of variance continued by Duncan's New Multiple Range Test (DMRT). The result showed that caecectomi was not significant to crude fibre digestibility, feed intake, daily gain, and feed convertion ration. While the level of crude fibre ration showed a significant different (P<0,01) to crude fibre digestibility, (AME), daily gain and feed convertion and Significantly affect (P<0,05) to feed intake. It was concluded that cecum in duck aged 6 weeks was less in role of digesting crude fibre, as the higher of crude fibre in ration formula, normal duck and cecectomi duck would decrease crude fibre digestibility value, Apparent Metabolism Energy (AME), daily gain and increase feed intake and feed convertion ration. Key words : Muscovy duck, Cecum, Crude Fibre level, Cecectomi, Crude fibre

Kata Kunci : Entok, Seka, Level serat kasar, Sekektomi Serat kasar

  1. S1-FPT-2003-SUDARTO-abstract.pdf  
  2. S1-FPT-2003-SUDARTO-bibliography.pdf  
  3. S1-FPT-2003-SUDARTO-tableofcontents.pdf  
  4. S1-FPT-2003-SUDARTO-title.pdf