Laporkan Masalah

EKSISTENSI NILAI-NILAI TRADISI DAN BUDAYA KERATON SEBAGAI DASAR ELEMEN PEMBENTUK KEKHASAN DAN KEBERTAHANAN TATA RUANG PERMUKIMAN BALUWARTI SURAKARTA

TRI HARTANTO, Prof. Ir. Atyanto Dharoko, M.Phil., Ph.D (promotor); Prof. Ir. T. Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D (ko-promotor)

2019 | Disertasi | DOKTOR ARSITEKTUR

Permukiman Baluwarti berada di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat. Permukiman ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Paku Buwana III, (1749-1788M). Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan terkait permukiman Baluwarti lebih menekankan dan melihat pada kondisi saat ini. Sehingga pengetahuan sejarah dan kondisi permukiman Baluwarti saat dibangun hingga perkembangannya saat ini sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep awal tata ruang permukiman ini dibangun, perkembangan dan perwujudan tata ruang, dan kebertahanan elemen-elemen tata ruangnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif induktif dengan pendekatan historical studies. Berdasarkan analisis dapat dipahami bahwa, konsep awal dari tata ruang permukiman Baluwarti dibangun adalah sebagai sistem pertahanan dan keamanan, sistem melestarikan tradisi dan budaya, dan sistem mengabdi kepada raja. Konsep ini dilanjutkan dan dipertahankan oleh raja-raja yang memerintah berikutnya, dimana elemen-elemen tata ruangnya masih dilihat keberadaannya dari masa Paku Buwana III hingga kini. Kebertahanan elemen-elemen tata ruang permukiman tidak terlepas dari paugeran yang masih dijalankan oleh raja dan kawula/ masyarakat Baluwarti. Konsep awal tata ruang permukiman Baluwarti dilandasi oleh konsep religius yang bersumber dari nilai-nilai tradisi dan budaya keraton, yaitu manunggaling kawula-gusti. Konsep ini dapat dipahami sebagai kemanunggalan/ kebersamaan antara raja dengan rakyatnya (masyarakat Baluwarti), dimana keduanya saling membutuhkan dan dibutuhkan. Seperti hubungan antara ikan dengan air kolam, dimana ikan membutuhkan air untuk hidup dan sebaliknya air kolam membutuhkan ikan untuk dapat berguna. Hubungan yang erat diantara kawula-gusti bertujuan untuk menjaga keselarasan hubungan manusia dengan Allah (hablum minnallah), hubungan manusia dangan manusia (hablum minannas), dan hubungan manusia dengan alam (hablum minna alam), untuk mencapai kesejahteraan hidup yang dinamai dengan Tri Hanakara. Konsep Tri Hanakara merupakan konsep (kebertahanan) tata ruang permukiman Baluwarti setelah masa PB. III hingga saat ini (PB. XIII), dan sebagai temuan didalam penelitian ini. Kemanunggalan keraton (raja) dan kesadaran masyarakat Baluwarti, akan menjadi faktor tetap dipertahankannya kekhasan tata ruang permukiman ini. Nilai-nilai yang menjadi pembentuk elemen kekhasan tata ruang akan menjadi rujukan bagi masyarakat sebagai pegangan hidup (way of life).

Baluwarti settlement is in the Kasunanan Surakarta Palace of Hadingrat. This settlement was built during the reign of Paku Buwana III, (1749-1788 AD). Research conducted in relation to the Baluwarti settlement emphasizes the current conditions. So that the historical knowledge and conditions of the Baluwarti settlement when it was built up to its current development are urgently needed. This study aims to find out the initial concept of this settlement spatial layout, its development, and its survival. Research methods are used qualitatively with historical studies approach. Based on the analysis it can be understood that, the initial concept of the Baluwarti settlement spatial was built as a defense and security system, a system to preserve tradition and culture, and a system of serving the king. This concept was continued and maintained by the kings who ruled the next, where its spatial elements were still seen from the time of Paku Buwana III until now. Resilience of spatial elements of settlements is inseparable from paugeran which is still run by the king and kawula / the Baluwarti community. The survival of the embodiment of the Baluwarti settlement spatial plan is based on religious concepts derived from traditional values and palace culture, namely manunggaling kawula - gusti. This concept can be understood as the unity/togetherness between the king and his people (Baluwarti community), where both need and are needed. Like the relationship between fish and pool water, where fish need water for life and vice versa the pool water needs fish to be useful. The close relationship between the two aims to maintain the harmony of human relations with God (hablum minnallah), human relations with humans (hablum minannas), and human relations with nature (hablum minna alam). Public awareness and the presence of the palace amid changing times is believed to be a peculiarity factor in the layout of this settlement.

Kata Kunci : concept, spatial layout, Baluwarti settlement, manunggaling kawula- gusti, tri hanakara.

  1. S3-2019-373530-abstract.pdf.pdf  
  2. S3-2019-373530-bibliography.pdf.pdf  
  3. S3-2019-373530-tableofcontent.pdf.pdf  
  4. S3-2019-373530-title.pdf.pdf