ANALISIS KOMPOSISI ALAT PENYARADAN, PEMUATAN DAN PENGANGKUTAN PADA KEGIATAN PEMANENAN HASIL HUTAN ( STUDI KASUS PT INHUTANI III UNIT SAMPIT KALIMANTAN TENGAH )
AGUNG PRABAWA, Haryanto, Nunuk Supriyatno
1996 | Skripsi | S1 KEHUTANANTahapan terakhir dalam suatu pengelolaan hutan adalah pemanenan hasil hutan berupa hasil kayu atau hasil lainnya sesuai dengan tujuan pengelolaannya. Wackerman (1949), menyatakan bahwa kegiatan pemanenan hasil hutan merupakan kegiatan terahir dari pengusahaan hutan. Menurut Conway (1978), mengatakan bahwa eksploitasi hutan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dimaksudkan untuk menyiapkan kayu atau memindahkan kayu dari hutan ke tempat penggunaan atau pengolahan. Dalam kegiatan ini terdapat empat tahapan utama yaitu: penebangan kayu, penyaradan, pemuatan dan pengangkutan. Keempat tahapan tersebut harus berjalan baik dan berurutan agar operasi berjalan dengan baik. Pada masing-masing fase kegiatan tersebut harus berjalan seimbang , artinya kemampuan penebangan tidak boleh lebih besar atau lebih kecil dari pada kemampuan penyaradan, kemampuan penyaradan tidak boleh lebih besar atau lebih kecil dari pada kemampuan penebangan maupun pengangkutan begitu seterusnya. Upaya untuk mencapai kondisi yang demikian adalah dengan melakukan studi prestasi kerja pada unit alat yang bekerja pada masing-masing fase kegiatan pemanenan hasil hutan. Dari hasil penelitian didapatkan unit alat yang beroperasi untuk penyaradan adalah Traktor sarad D 85 E-SS, untuk pengangkutan Logging truk TZA 52 PPN dan untuk kegiatan pemuatan dan pembongkaran dioperasikan Wheel Loader WA 420-1. Prestasi kerja Traktor sarad D 85 E-SS sebesar 81,59 m3/hari dengan jarak sarad rata-rata 347 m, prestasi kerja pengangkutan sebesar 106,18 m3/hari dengan jarak angkut rata-rata sebesar 34,285 km, prestasi kerja pemuatan sebesar 777,46 m3 /hari dan prestasi pembongkaran sebesar 1879,38 m3/hari. Dari evaluasi alat dengan parameter nilai Daya Guna Efektif menurut PT UNITED TRAKTOR (1984), didapat nilai DGE traktor sarad sebesar 39,2 %, Logging truk sebesar 43 % nilai ini jauh dari yang ditetapka PT UNITED TRAKTOR yaitu sebesar 0,7 - 0,9. Dari nilai DGE tersebut dapat diketahui bahwa waktu menganggur alat sangat tinggi yaitu sekitar 57 % dari total waktu yang tersedia walaupun secara teknis alat tersebut dapat beroperasi. Tingginya jam menganggur ini disebabkan antara lain oleh tingginya curah hari hujan per tahun serta tidak seimbangnya unit alat yang beroperasi pada masing masing fase kegiatan. Pada kegiatan pemuatan dan pembongkaran kapasitas produksi alat muat dan alat bongkar terlalu besar sehingga unit alat banyak menganggur. Untuk kegiatan pemuatan Loader hanya bekeija 37,3 % dari kapasitas produksi yang ada sedang pada Un-Loader hanya sebesar6% dari kapasitas yang ada.
Kata Kunci : Analisis komposisi alat, penyaradan, pemanenan