Evaluasi Peresepan Antibiotik dalam Terapi Empirik dan Definitif pada Infeksi Aliran Darah karena Serratia marcescens
Wenny Yolanda, Dr. dr. Osman Sianipar, DMM., M.Sc., Sp.PK-K ; Dr. dr. Andaru Dahesihdewi, M.Kes., Sp.PK-K ; dr. Riat El Khair, M.Sc., Sp.PK
2019 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLATAR BELAKANG : Infeksi aliran darah merupakan permasalahan kesehatan global karena angka kesakitan dan kematian yang semakin meningkat di seluruh dunia. Dikarenakan kejadiaan infeksi semakin meningkat maka penggunaan antibiotik juga meningkat. Penggunaan antibiotik terapi dapat bersifat empirik dan definitif. Menurut penelitian sebelumnya pada tahun 2015 di salah satu rumah sakit Yogyakarta, jenis antibiotik empirik yang sering digunakan ialah sefalosporin, kemudian pada tahun 2009 pada pasien dewasa yang terdiagnosis sepsis di bangsal rawat inap penyakit dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta didapatkan ada 15,4% ketidaktepatan antibiotik definitif berdasarkan hasil kultur dan sensitifitas antibiotik. Secara keseluruhan di Indonesia ditemukan 30%-80% penggunaan antibiotik tidak berdasarkan indikasi, hal tersebut akan mengakibatkan angka resistensi semakin meningkat. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi angka resistensi ialah menerapkan penggunaan antibiotik secara bijak atau rasional, salah satu caranya dengan mengevaluasi peresepan atau penggunaan antibiotik secara intensif dan berkesinambungan. TUJUAN : Mengetahui proporsi ketidaktepatan dalam peresepan antibiotik definitif serta mengetahui proporsi peresepan sefalosporin sebagai antibiotik empirik pada infeksi aliran darah karena Serratia marcescens. METODE : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Data berupa rekam medis dan kultur darah pasien infeksi aliran darah karena Serratia marcescens periode Januari 2017-Oktober 2018 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. HASIL : Antibiotik empirik lebih sering diresepkan dari golongan non sefalosporin kombinasi sebanyak 58,7% daripada non sefalosporin tunggal sebanyak 2,2%, dan sefalosporin kombinasi sebanyak 39,1%. Sementara itu, untuk antibiotik definitif yang paling sering diresepkan yakni dari golongan non sefalosporin kombinasi sebanyak 58,8%. Kemudian jika membandingkan jenis antibiotik definitif dan hasil uji sensitivitasnya pada tiap subjek maka ditemukan 79,4% peresepan yang tidak tepat. KESIMPULAN : Antibiotik empirik dan definitif lebih banyak diresepkan dari golongan non sefalosporin kombinasi dan didapatkan ketidaktepatan antibiotik definitif yang cukup tinggi yaitu 79,4% pasien infeksi aliran darah karena Serratia marcescens periode Januari 2017-Oktober 2018 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
BACKGROUND: Bloodstream infection is a global health issue due to its high morbidity and mortality around the world. Because incidence of infection is increase, the use of antibiotics also increase. The use of antibiotic therapy can be empirical and definitive. According to previous research in 2015 in one of the Yogyakarta hospital, group of empirical antibiotic that is often used is cephalosporin, then in 2009 in adult patients diagnosed with sepsis in the inpatient ward of the RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta found that there were 15.4% inaccurate of prescribing definitive antibiotic based on the results of culture and antibiotic sensitivity. Overall in Indonesia, 30%-80% of antibiotic use is not based on indications, this will result in increasing numbers of resistance. Efforts made to reduce resistance numbers are to apply the use of antibiotics wisely or rationally, one way is to evaluate prescription or use of antibiotics intensively and sustainably. OBJECTIVE: To find out the proportion of inaccurate in prescribing definitive antibiotic and to know the proportion of cephalosporin prescribing as empiric antibiotic in bloodstream infections due to Serratia marcescens. METHOD: This study used a descriptive observational study design with retrospective data collection. Data in the form of medical records and blood cultures of patient with bloodstream infection due to Serratia marcescens period January 2017-October 2018 in RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta RESULTS: Empirical antibiotics were prescribed more frequently from non cephalosporin combination groups as much as 58.7% than single non cephalosporins as much as 2.2%, and combined cephalosporins as much as 39.1%. Meanwhile, for the most commonly prescribed definitive antibiotics, that is from the combination of non cephalosporin groups as much as 58.8%. Then when comparing the definitive types of antibiotics and the results of their sensitivity tests on each subject, it was found that 79.4% prescribing was incorrect. CONCLUSION: Most empirical and definitive antibiotics are prescribed from non cephalosporin combination groups and obtained high inaccurate in prescribing definitive antibiotic 79.4% of patients with bloodstream infection due to Serratia marcescens period January 2017-October 2018 in RSUP. Dr. Sardjito. Yogyakarta
Kata Kunci : infeksi aliran darah, Serratia marcescens, peresepan antibiotik empirik, peresepan antibiotik definitif, ketidaktepatan peresepan antibiotik definitif