Laporkan Masalah

STUDI KONSUMSI KAYU BAKAR INDUSTRI GENTING DI KECAMATAN SRUWENG KABUPATEN KEBUMEN

BUDIYOSO, Heru Iswantoro

1995 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Kayu bakar telah banyak digunakan sebagai sumber energi tidak hanya oleh masyarakat desa tetapi juga oleh industri-industri, diantaranya pada industri genting. Industri genting mengkonsumsi cukup banyak kayu bakar untuk pembakarannya. Studi konsumsi kayu bakar pada industri genting di Kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen mempunyai tujuan: (a) untuk mengestimasi volume konsumsi kayu bakar pada industri genting, < b) untuk menghitung biaya kayu bakar, dan (c > untuk mengetahui sumber kayu bakar yang dikonsumsi industri genting di Kecamatan Sruweng. Tiga desa yang paling banyak memproduksi genting di Kecamatan Sruweng dijadikan sebagai sampel yaitu Desa Sruweng, Jabres, dan Giwangretno. Dalam mengumpulkan data digunakan teknik wawancara dan kuesioner. Industri genting diklasifikasikan ke dalam tiga katagori didasarkan pada jumlah pemilikan mesin kempa yakni kecil (1-2 buah mesin kempa), sedang (3-4 mesin kempa) dan besar (lebih dari 5 mesin kempa). Hasil penelitian mengindikasikan bahwa kayu bakar yang dikonsumsi industri genting adalah sebesar 120.773,47 stapple meter per tahun. Kebanyakan kayu bakar yang dikonsumsi berasal dari hutan rakyat (82,12%), sedangkan yang lain berasal dari Perhutani (5,95%), dan dari perkebunan (11,92%). Biaya penggunaan kayu bakar industri genting adalah 31,28% dari biaya total. Jika dibandingkan dengan sumber energi yang lain dalam hal ini campuran kayu bakar dan batu bara, biaya yang dikeluarkan lebih tinggi bila hanya menggunakan kayu bakar saja. Biaya yang dikeluarkan bila hanya . menggunakan kayu bakar adalah Rp 667.000,00, sedangkan bila menggunakan campuran kayu bakar dan batu bara biaya yang dikeluarkan Rp 640.000,00. Dengan demikian akan lebih menguntungkan bila menggunakan campuran kayu bakar dan batu bara sebagai sumber energi pada pembuatan genting, di samping itu juga dapat menurunkan konsumsi kayu bakar.

Fuelwood has been used as main source of energy not only by rural people but also by industries, among other thing roof tile industry. Such a industry consumes a lot of fuelwood . Study on fuelwood consumption of roof tile industries in Sruweng sub district, Kebumen Regency has been conducted . The objectives are: (a) to estimate fuel-wood consumption of roof tile industries in the sub district (b). to examine cost of fuelwood consumption; and (c). to trace sources of fuelwood consumed by the industries. Three villages, major producing roof-tile areas in the sub district are taken as sample; those are Sruweng, Jabres, and Giwangretno. Semi structure interview are used in gathering primary data. The roof tile industries are classified into three categories based on the number of press machine ownership: small (1-2 machines), medium (3-4 machines) , and large (more than 5 machines). The study indicates that fuelwood consumed by the roof tile industries are 120.773,47 stapple meters per year . The majority of fuelwood comes from community forest land (32,12%) and the others are from government-owned forest land (5,95%) as well as from plantation (11,92%). The cost of fuelwood consumption is 31,28% from total cost of roof tile making. If compared to combination fuel wood and coal as source of energy, the cost of fuelwood only is higher. The use of fuelwood only costs Rp 667.000,00., while the cost of using fuelwood-coal combination is Rp 640.000,00. Therefore, it will be profitable using fuelwood-coal combination as source of energy of making roof tile and it will hopefully decrease fuelwood consumption.

Kata Kunci : Industri genting, kayu bakar, studi konsumsi

  1. S1-FKT-1995-Budiyoso-abstract.pdf  
  2. S1-FKT-1995-Budiyoso-bibliography.pdf  
  3. S1-FKT-1995-Budiyoso-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FKT-1995-Budiyoso-title.pdf