STUDI PERILAKU SOSIAL KERA EKOR PANJANG DI BKPH LINGGARJATI KPH KUNINGAN JAWA BARAT
AMITIN, Djuwantoko
1994 | Skripsi | S1 KEHUTANANPenelitian ini telah dilakukan di petak 25 yang termasuk RPH Setianegara BKPH Linggarjati KPH Kuningan, Jawa Barat pada bulan Juli sampai Agustus 1993. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui perilaku sosial dalam pembentukan sub kelompok kera ekor panjang dan jenis-jenis tumbuhan pada tipe hutan alam dan daerah pertanian. Dari hasil penelitian, populasi kera di petak 25 berjumlah 37 ekor dengan rasio seks 16 : 21, ruang pengem baraan seluas 23,5 ha. Komposisi kelas umurnya yaitu dewasa 18 ekor (48,65%) , remaja 7 ekor (18,92%)dan anak 12 ekor (32,43%) . Komposisi ini akan menentukan dalam perilaku sosial dan pembentukan sub kelompok. Jumlah kelompok kera di petak 25 adalah satu kelompok, pada waktu beraktivitas di hutan alam terbagi menjadi 2 sub kelompok dan pada daerah pertanian tidak terbentuk sub kelompok. Kegiatan perilaku sosial kera terjadi pada aktivitas seperti ; makan, kawin dan berkutu-kutuan. Setiap individu ada 5 kemungkinan variasi interaksi sosial yang timbal balik kecuali untuk bayi kera hanya searah, variasi ini didasarkan pada perbedaan kelas umur dan jenis kelamin, interaksi ini dapat bersifat positif dan negatif. Hasil analisis vegetasi di hutan alam untuk tingkat pohon didominasi oleh Huru ( Actinodaphne procera) dengan INP 34%, tingkat tiang didominasi oleh Binuwang ( Octomeles sumatrana) dengan INP 61% tingkat sapihan didominasi oleh Kadoya ( Amoora aphanamixis) dengan INP 64,4% dan tingkat semai didominasi oleh Huru ( Actinodaphne procera). Pada daerah pertanian untuk tingkat pohon didominasi oleh kelapa (Cocos nucifera) dengan INP 82,7%, tingkat tiang didominasi oleh Alfukat (Persea americana) dengan INP 72,9% dan tingkat sapihan didominasi oleh Mahoni (Swiete nia macrophylla) dengan INP 92,9%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka pembentukan sub kelompok merupakan cara untuk menguasai sumber daya pakan dalam ruang pengembaraan secara efisien dan untuk menghindari kompetisi antara mereka. Adanya perbedaan pembentukan sub kelompok pada hutan alam dan daerah pertanian, mungkin dikarenakan pada daerah pertanian ancaman bahaya lebih besar dibandingkan dengan hutan alam. Dari hasil analisis vegetasi pada hutan alam dan daerah pertanian yang digambarkan secara kuantitatif yang dinyatakan dalam INP masirig-masing jenis tumbuhan, maka dapat dinyatakan bahwa habitat di petak 25 masih cukup baik untuk kelangsungan hidup kera ekor panjang.
Kata Kunci : Kera ekor panjang, studi perilaku, KPH Kuningan