Kajian Kerawanan Longsor pada Objek Pariwisata Swafoto di Desa Wisata Mangunan, Dlingo, Bantul
RUMAISHA, Dr. Eko Haryono, M.Si.
2019 | Skripsi | S1 GEOGRAFI LINGKUNGANDesa Wisata Mangunan merupakan salah satu desa di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Mangunan memiliki potensi wisata yang sedang berkembang pesat berupa ekowisata swafoto. Secara fisik, wilayah tersebut memiliki potensi lain berupa ancaman terjadinya bencana longsor yang dapat memberikan dampak buruk bagi kelangsungan pariwisata di desa tersebut. Untuk itu perlu dilakukan sebuah kajian mengenai kerawanan longsor di daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1) mengidentifikasi tingkat kerawanan tanah longsor pada objek pariwisata swafoto 2) menganalisis pola persebaran objek pariwisata swafoto serta karakteristiknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan masing-masing tujuan. Tujuan pertama menggunakan metode tumpang susun lima parameter (curah hujan, kemiringan lereng, geologi, kedalaman tanah dan penggunaan lahan) yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerawanan tanah longsor. Bobot masing-masing parameter dicari dengan metode Analytical Heirarcy Process (AHP). Tujuan kedua menggunakan metode analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebarannya, sedangkan untuk karakteristik dilakukan identifikasi lapangan dan wawancara kepada pengelola objek wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek wisata yang berada pada tingkat kerawanan tinggi sebanyak lima objek, yaitu Watu Lawang, Hutan Pinus Sari, Seribu Songgo Langit, Jurang Tembelan dan Kebun Buah Mangunan. Objek wisata dengan tingkat kerawanan sedang sebanyak dua objek, yaitu Telaga Giri dan Bukit Mojo. Objek wisata dengan tingkat kerawanan rendah juga terdapat dua objek, yaitu Bukit Panguk dan Watu Mabur. Pola persebaran objek wisata swafoto di Desa Wisata Mangunan adalah seragam. Empat objek wisata berada di bentuklahan karst sedangkan lima objek wisata lainnya berada di bentuklahan struktural. Objek wisata yang pertama kali berdiri adalah Kebun Buah Mangunan pada tahun 2007 yang kemudian diikuti objek wisata lainnya hingga sekarang.
Mangunan Tourism Village is one of the villages in Dlingo District, Bantul Regency. Mangunan is a rapidly growing swafoto tourism site. On the other hand, the due area is prone to landslide hazard which have a detrimental effect on the sustainability of tourism in the village. For this reason, it is necessary to study on the susceptibility of landslides in the area. This research aim at 1) identifyimg the seuceptibility of landslides in swafoto tourism site in Mangunan Tourism Village, Dlingo, Bantul 2) analyzing the pattern of distribution swafoto tourism objects and their characteristics in Mangunan Tourism Village, Dlingo, Bantul. Landslide susceptibility was conducted by overlaying five parameters (rainfall, slope, geology, soil depth and land use). The weight of each parameter was determind by the Analytical Heirarci Process (AHP) method. Pattern of ditribution was conducted by using analysis method of the nearest neighbor, while for the characteristics carried out field identification and interviews with tourist managers. The results shows that the five tourist object are at a high of susceptibility, namely Watu Lawang, Hutan Pinus Sari, Seribu Songgo Langit, Jurang Tembelan and Kebun Buah Mangunan. There are two objects with moderate susceptibility namely telaga giri and bukit mojo. The objects with low susceptibility also have two objects, namely the Bukit Panguk and Watu Mabur. The results showed that the pattern of distribution selfie tourism objects in Mangunan Tourism Village was uniform. Four tourism objects are in the karst landform while the other five objects are in structural landforms. The first found- tourism object was the Kebun Buah Mangunan in 2007 which was followed by other tourism objects until now.
Kata Kunci : Kerawanan Longsor, Pariwisata, Swafoto, Desa Wisata Mangunan