Laporkan Masalah

STUDI KOMPARASI PENGEMBANGAN DESA WISATA GROGOL DAN DESA WISATA PLEMPOH DI KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2013-2017

FINDA ROSADA, I MADE KRISNAJAYA, S.I.P., M.P.A.

2019 | Skripsi | S1 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengembangan yang dilakukan Desa Wisata Grogol dan Desa Wisata Plempoh. Selain itu, juga untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan kinerja antara kedua desa wisata tersebut. Pada klasifikasi desa wisata yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman tahun 2013, menunjukkan Desa Wisata Grogol dan Desa Wisata Plempoh masuk dalam kategori desa wisata mandiri. Tahun 2016, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman kembali melakukan klasifikasi. Hasilnya, Desa Wisata Grogol tetap konsisten menjadi desa wisata mandiri, sedangkan Desa Wisata Grogol menjadi desa wisata tumbuh. Hal ini tentu menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada Desa Wisata Plempoh. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh diuji keabsahannya dengan metode triangulasi. Selanjutnya, data dipilah, dianalisis, dan dirangkai hingga memperoleh kesimpulan yang utuh dari penelitian. Hasil penelitian menunjukkan Desa Wisata Grogol melakukan pengembangan dalam beberapa aspek, seperti daya tarik, aksesibilitas, amenitas, fasilitas pendukung, dan kelembagaan. Sedangkan Desa Wisata Plempoh mengalami stagnan. Faktor-faktor yang menyebabkan adanya perbedaan kinerja pada kedua desa wisata tersebut, antara lain: (1) Leadership; (2) Dukungan Sumber Daya Manusia (SDM); (3) Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Inovasi. Ketiganya merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan dan kegagalan Desa Wisata Grogol dan Desa Wisata Plempoh mempertahankan statusnya menjadi desa wisata mandiri. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah meskipun pada tahun 2013, Desa Wisata Grogol dan Desa Wisata Plempoh sama-sama menjadi desa wisata mandiri, namun pada tahun 2016, keduanya memiliki status yang berbeda. Hal ini menunjukkan pengembangan pada setiap desa wisata tidak selalu linear. Jika desa wisata dikelola dengan baik, maka hasilnya akan baik. Sebaliknya, jika dikelola dengan buruk, maka hasilnya juga akan buruk.

This research was intended to determine the development carried out by Grogol Tourism Village and Plempoh Tourism Village. In addition, also to find out the factors that cause differences in performance between the two tourist villages. In the tourist village classification conducted by the Sleman Regency Tourism Office in 2013, the Grogol Tourism Village and Plempoh Tourism Village were included in the category of independent tourism villages. In 2016, the Sleman Regency Tourism Office returned to the classification. As a result, Grogol Tourism Village remains consistent as an independent tourism village, while Grogol Tourism Village is a growing tourist village. This certainly shows a significant decline in Plempoh Tourism Village. This research is a qualitative research with case study method. Data collection techniques in this study were observation, interviews, and documentation. Data obtained verifiable by triangulation method. Furthermore, the data are sorted, analyzed, and arranged to obtain a complete conclusion from the research. The results showed that Grogol Tourism Village developed in several aspects, such as attractiveness, accessibility, amenities, supporting facilities, and institutions. While Plempoh Tourism Village is stagnant. Factors that cause differences in performance in the two tourist villages include: (1) Leadership; (2) Human Resources (HR) Support; (3) Utilization of Information Technology and Innovation. The three factors are the most influential factors in the success and failure of Grogol Tourism Village and Plempoh Tourism Village, maintaining their status as independent tourism villages. The conclusion in this research is that even though in 2013, Grogol Tourism Village and Plempoh Tourism Village were both independent tourism villages, but in 2016, both had different statuses. This shows that development in each tourist village is not always linear. If the tourist village is well managed, the results will be good. Conversely, if it is poorly managed, the results will also be bad.

Kata Kunci : Desa Wisata, Pengembangan Desa Wisata, Faktor/Tourism Village, Development Tourism Village, Factors

  1. S1-2019-335795-abstract.pdf  
  2. S1-2019-335795-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-335795-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-335795-title.pdf