Laporkan Masalah

Deteksi Transmisi Trans-Ovari Virus Dengue pada Nyamuk Aedes spp. Hasil Koleksi dari Kelurahan Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta

TITI MARSIFAH, Soenarwan Hery Poerwanto, S.Si., M.Kes

2019 | Skripsi | S1 BIOLOGI

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue dengan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama atau Aedes albopictus sebagai vektor potensial. Kasus DBD muncul pada saat tidak ada kasus DBD akibat adanya transmisi trans-ovari virus dengue pada vektor. Transmisi trans-ovari memungkinkan mekanisme pemeliharaan berbagai serotipe virus genus Flavivirus, sehingga keberadaannya tetap terjaga di alam. Pengendalian infeksi virus dengue dilakukan dengan deteksi virus untuk memprediksi ledakan penyakit dan pengendalian vektor dengue (nyamuk) dengan manajemen lingkungan, penggunaan bahan kimia (insektisida) serta kontrol biologi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan transmisi trans-ovari (vertikal), faktor yang mempengaruhi dan status resistensi nyamuk betina Aedes spp. terhadap sipermetrin yang diperoleh dari Kelurahan Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 hingga Februari 2019 dengan pengambilan sampel larva dan jentik di 100 rumah. Sampel telur dan nyamuk yang diperoleh, dipelihara hingga F1. Nyamuk Aedes spp. F1 digunakan sebagai sampel untuk pengujian imunohistokimia dan bioassay status resistensi terhadap sipermetrin. Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui bahwa transmisi trans-ovari di Kelurahan Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta ditemukan pada tiga sampel dari 100 sampel nyamuk Aedes spp. yang digunakan, dengan nilai Indeks Transmisi Trans-ovari (ITT) sebesar 3%. Transmisi trans-ovari dipengaruhi oleh jumlah atau kepadatan vektor yang terinfeksi, lokasi pengambilan sampel dan jumlah kasus DBD. Hasil pengujian bioassay menunjukkan bahwa status resistensi nyamuk Aedes spp. terhadap sipermetrin di Kelurahan Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta dikategorikan resisten sedang dan tinggi dengan mortalitas sebesar 50% - 80%.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a type of disease caused by dengue virus infection with Aedes aegypti mosquito as the main vector or Aedes albopictus as a potential vector. DHF cases arise when there are no cases of dengue due to the transovarial transmission of dengue virus in the vector. Transovarial transmission allows the maintenance mechanism of the genus Flavivirus with various serotypes, so it presence are maintained in nature. Control of dengue virus infection can be done by virus detection to predict disease outbreaks and control of dengue vectors (mosquitoes) with environmental management, use of chemicals (insecticides) and biological control. The aims of this research are to determine the existence of transovarial (vertical) transmission, the influence factors and the resistance status of Aedes spp. against cypermethrin collected from Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta. This research was conducted from September 2018 to February 2019 by sampling eggs and larvae from 100 houses. The eggs and mosquito samples obtained and rearing until F1. The F1 of Aedes spp. are used as sample for immunohistochemistry assay and bioassay resistance status to cypermethrin. Based on the results, it is known that transovarial transmission in Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta was found in three samples from 100 samples of Aedes spp., with 3% of Transovarial Transmission Index (TTI). Transovarial transmission is influenced by several factors, including the number or density of vectors infected with the virus, sampling location and dengue case. The bioassay test results showed that the resistance status of Aedes spp. against cypermethrin in Brontokusuman are moderate and highly resistant with 50% - 80% of mortality.

Kata Kunci : DBD, imunohistokimia, resistensi, trans-ovari, virus dengue