RELATIONSHIP BETWEEN HUSBANDS' SMOKING BEHAVIOR AND PREVIOUS LOW BIRTH WEIGHT IN NORTH LOMBOK AND BIMA
NAAFILA YASMINE P W, Dr. Retna Siwi Padmawati, MA; dr. Rosalia Kurniawati Harisaputra, MPH
2019 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar belakang: Indonesia merupakan negara ketiga dengan populasi perokok tertinggi di dunia. Pada tahun 2013, sebanyak 64,9% laki-laki dewasa merokok setiap harinya. Nusa Tenggara Barat adalah satu dari lima provinsi dengan populasi perokok tertinggi di Indonesia. Seperti yang sudah diketahui, merokok ketika kehamilan dapat meningkatkan resiko kelahiran mati, kelahiran premature and berat badan lahir rendah. Hubungan antara perilaku merokok suami dan berat badan lahir rendah masih belum jelas, terutama di Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi mengenai hubungan antara perilaku merokok suami terhadap berat badan lahir rendah pada kelahiran. Tujuan: Penelitiannya ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok suami dan berat badan lahir rendah kelahiran sebelumnya di Lombok Utara dan Bima. Metode: Penelitian cross sectional menggunakan data yang diambil dari studi primer dengan judul "Dampak Pengurangan Paparan Asap Rokok di Dalam Rumah terhadap Prevalensi Berat Badan Lahir Rendah dan Kesehatan Bayi" oleh PEER Health Research Project, USAID, RTI Interanational, dan FKKMK UGM. Data baseline digunakan dalam penelitian ini yang terdiri dari data terkait dengan kehamilan sebelumnya dan perilaku merokok suami. Analisis dilakukan untuk melihat hubungan antara kejadian berat bayi lahir rendah pada kehamilan sebelumnya dan perilaku merokok suami, umur ibu, tinggi ibu, pendidikan ibu dan akses kesehatan. univariabel dilakukan untuk mengetahui karakteristik subjek pada penilitian. Analisis multivariabel dilakukan untuk mengetahui variabel penganggu. Hasil: Di Lombok Utara dan Bima, sebanyak 86,5% dan 91,9% BBLR terjadi pada kelompok suami yang merokok di dalam rumah. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara perilaku merokok suami dan berat badan lahir rendah kelahiran sebelumnya di Lombok Utara (p = 0,7646) dan Bima (p = 0,3148). Setelah mengendalikan variabel penganggu, hasil dari hubungan antara perilaku merokok suami dan berat badan lahir rendah kelahiran sebelumnya tetap menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Akan tetapi, suami perokok berat di Lombok Utara menurunkan risiko ibu hamil untuk memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 77% (p = 0,0038). Hubungan yang tidak signifikan juga tidak ditemukan antara berat badan lahir rendah pada kelahiran sebelumnya dengan umur ibu, tinggi ibu, pendidikan ibu dan akses kesehatan di Lombok Utara dan Bima. Kesimpulan: Proporsi bayi dengan berat lahir rendah pada kelahiran sebelumnya lebih banyak ditemukan pada keluarga suami perokok di dalam rumah. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara perilaku merokok suami dengan berat badan lahir rendah kelahiran sebelumnya di Lombok Utara dan Bima.
Background: Indonesia is the third country with the highest number of smokers in the world. In 2013, as much as 64.9% of adult men in Indonesia smoke cigarettes every day. West Nusa Tenggara is one of five provinces with the highest smoker proportion in Indonesia. While smoking during pregnancy increased the risk of stillbirth, preterm birth, and low birth weight, the relationship between husband smoking behavior and low birth weight need to be sought. Objective: This research aims to determine the relationship between husbands� smoking behavior and previous birth weight in North Lombok and Bima West Nusa Tenggara (NTB). Method: This study used the baseline data from primary research entitled "Impact of Reduced in-home Secondhand Smoke Exposure on Low Birth Weight Prevalence and Neonate Health in NTB" conducted by Center for Health Policy and Management funded by PEER-USAID. This research analyzed the baseline data consisted of previous pregnancy data and husbands' smoking behavior. Analysis was performed to show the relationship between previous low birth weights and husbands' smoking behavior, maternal age, maternal height, maternal education and health access. Multivariate analysis was conducted to determine confounding factors. Result: As much as 86,5% and 91,9% low birth weight infants have father who smoke inside the house in North Lombok and Bima respectively. Insignificant relationship was found between husband smoking behavior and previous low birth weight in North Lombok (p = 0,7646) and Bima (p = 0,359). After controlling confounding variables, the result in both areas remained insignificant. Husband with cigarette consumption more than twelve per day in North Lombok reduced the risk of low birth weight by 77% (p = 0,0038). There was no significant relationship found between previous low birth weight and maternal age, maternal height, maternal education, and health access in North Lombok and Bima. Conclusion: Among low birth weight infants from previous birth, the proportion was higher in husband who smoked cigarette inside the house. However, there was no significant relationship found between husband smoking behavior and previous low birth weight in North Lombok and Bima.
Kata Kunci : husband smoking behavior, maternal education, health access, low birth weight