Etnokonservasi Masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga Dalam Tradisi Menumbai Di Taman Nasional Tesso Nilo
REVAN MUSTAFA, Dr.Ir. Lies Rahayu Wijiyanti Faida, M. P.
2019 | Skripsi | S1 KEHUTANANCara masyarakat lokal memanfaatkan keanekaragamanhayati di lingkungan tempat tinggalnya secara bijaksana disertai dengan perlindungan berdasarkan pada budaya mereka yang dipraktikkan dan telah menjadi tradisi masyarakat lokal disebut dengan etnokonservasi. Berbagai praktik etnokonservasi dalam bentuk tradisi, mitos dan cerita rakyat berdampak positif terhadap kelangsungan hidup tumbuhan. Salah satu bentuk pendekatan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga dapat dilihat dari tradisi Menumbai yang merupakan kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya hutan berupa madu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat tentang jenis-jenis pohon sialang serta mengetahui etnokonservasi masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga dalam tradisi menumbai di Taman Nasional Tesso Nilo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan pada masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga. Teknik pengambilan data meliputi wawancara mendalam (indepth interview) terhadap informan kunci secara snowball, observasi partisipatif atau live in yaitu tinggal di lokasi penelitian dalam waktu tertentu, dan studi pustaka. Analisis data menggunakan analisis kualitatif deskriptif dengan menggambarkan dan menjelaskan secara rinci mengenai hasil yang diperoleh di lapangan dan divalidasi dengan teknik triangulasi. Teknik triangulasi yaitu pengecakan keabsahan data dengan cara membandingkan. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat sangat memahami jenis-jenis pohon yang dianggap sebagai pohon Sialang. Pohon sialang menurut masyarakat merupakan pohon yang memiliki tuah atau pohon yang sakti. Karena memiliki tuah dan sakti inilah yang menurut kepercayaan masyarakat membuat lebah tertarik untuk bersarang pada pohon sialang tersebut. Melalui tradisi Menumbai, masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga meyakini bahwa adanya suatu hubungan yang terjalin antara masyarakat, lebah, dan pohon Sialang. Etnokonservasi yang terdapat di dalam tradisi menumbai diantaranya yaitu, masyarakat melindungi pohon sialang dengan membuat tangga yang terbuat dari kayu dan rotan, adanya hukuman bagi siapa yang sengaja menebang pohon sialang akan dikenakan sanksi berupa kain kafan sepanjang pohon sialang yang ditebang, tidak mengambil madu secara berlebihan, serta ada sanjungan di dalam lirik pantun menumbai terhadap pohon sialang. Namun kenyataannya saat ini tradisi ini sudah jarang bahkan hampir tidak lagi dilakukan oleh masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga, terjadinya perubahan waktu yang dulu masyarakat memanen madu pada malam hari sekarang beralih menjadi siang hari menjadi salah satu alasan sehingga tradisi ini tidak lagi dilakukan.
The way local communities use biodiversity in their living environments wisely accompanied by protection based on their culture that is practiced and has become a tradition of local people is called ethnoconservation. Various ethnocoservation practices in the form of traditions, myths and folklore have a positive impact on the survival of plants. One form of approach taken by the communtiy of Lubuk Kembang Bunga can be seen from the menumbai tradition which is the local wisdom of the community in utilizing forest resources in the form of honey. This research aims to determine the community's understanding of the types of sialang trees and to know the ethnoconservation of the community of Lubuk Kembang Bunga Village in the menumbai tradition in Tesso Nilo National Park This research applied the qualitative methods using ethnographic approach conducted on Lubuk Kembang Bunga villagers. The data collection techniques include in-depth interviews (in-depth interviews) with key informants in snowball, participant observation or live in, which is to stay at the research location in a certain time, and literature study. The data analysis used descriptive qualitative analysis by describing and explaining in detail the results obtained in the field and validated by triangulation techniques. Triangulation technique is checking data validity by comparing The results of the study show that the community is very understanding of the types of trees that are considered as Sialang trees. The sialang tree according to the community is a tree that has a magical tree or tree. Because it has luck and magic, what according to people's beliefs makes bees interested in nesting in the sialang tree. Through the Menumbai tradition, Lubuk Kembang Bunga community believe that there is a connection between the community, bees and sialang trees. Ethnoconservation found in the menumbai tradition includes the community protecting the sialang tree by making stairs made of wood and rattan, the punishment for those who deliberately cut the sialang tree will be penalized in the form of a shroud as long as the sialang tree is cut down, do not take honey excessively, and there is flattery in the tasseling lyrics of the sialang tree. But in reality nowadays this tradition is rarely even practiced by the Lubuk Kembang Bunga community, the change in the past time that people harvest honey at night is now turning into daylight as one of the reasons that this tradition is no longer carried out.
Kata Kunci : Lubuk Kembang Bungga community, Menumbai Tradition, Sialang Tree, Honey;Masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga, Tradisi Menumbai, Pohon Sialang, Madu