Penaksiran Potensi dan Penentuan Etat Tebangan pada Hutan Rakyat di Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman
Rina Itsnatussholihah, Teguh Yuwono, S.Hut., M.Sc.
2019 | Skripsi | S1 KEHUTANANPengelolaan hutan rakyat bertujuan untuk melestarikan sumberdaya hutan agar tetap terjamin persediaannya dimasa yang akan datang. Pengelolaan hutan rakyat kebanyakan masih bersifat individual dan belum memiliki manajemen yang formal. Hal ini dibuktikan dengan adanya sistem tebang butuh yang dilakukan oleh pemilik lahan tanpa memperdulikan daur dan jumlah maksimal pohon yang boleh ditebang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran informasi potensi hutan rakyat, menyajikan hasil perhitungan etat tebangan per tahun, dan persepsi anggota kelompok tani hutan rakyat dalam menerapkan penebangan sesuai etat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Von Mantel untuk menghitung etat berdasarkan volume pohon dan metode Brandis untuk menghitung etat berdasarkan jumlah pohon. Jumlah responden pemilik hutan rakyat yang dijadikan sampel sebanyak 30 orang yang dipilih secara purposive sampling dengan kriteria anggota kelompok tani hutan rakyat yang masih aktif. Pengukuran pada potensi tegakan dilakukan secara sensus. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa potensi kayu hutan rakyat di Desa Wukirsari seluas 86 Ha sebesar 452,22 m3. Hasil tebangan berdasarkan volume untuk jenis kayu jati sebesar 3,38 m3/tahun, jenis kayu jabon sebesar 44,51 m3/tahun, jenis kayu sengon sebesar 109,78 m3/tahun, dan jenis kayu campuran sebesar 8,74 m3/tahun. Sedangkan hasil tebangan berdasarkan jumlah pohon untuk jenis kayu jati sebanyak 6 pohon/tahun, jenis kayu jabon sebanyak 33 pohon/tahun, jenis kayu sengon sebanyak 138 pohon/tahun, dan jenis kayu campuran sebanyak 11 pohon/tahun. Petani hutan rakyat yang bersedia menerapkan penentuan etat tebangan sebanyak 27%, sedangkan yang tidak bersedia sebanyak 73%.
Community forest management aims to preserve forest resources so that their supplies are guaranteed in the future. Community forest management is still individual and has no formal management. This is evidenced by the existence of a logging system that needs to be carried out by landowners regardless of the cycle and the maximum number of trees that can be cut down. This study aims to describe the information of forest stand, present the results of annual allowable cut logging calculations/year, and the perceptions of members of community forest farmer groups in applying ethical logging. The method used in this study is Von Mantel method for calculating annual allowable cut based on tree volume and Brandis method for calculating annual allowable cut based on the number of trees. The number of respondents who owned community forests was sampled as 30 people who were selected by purposive sampling with the criteria of active members of community forest farmer groups. Measurements on standing stock are carried out by census. Based on the results of the study it was revealed that the stocking of community forest wood in Wukirsari Village was 452,22 m3. Volume-based felling for Tectona grandis is 3,38 m3 / year, Anthocephalus cadamba is 44,51 m3 / year, Falcataria moluccana is 109,78 m3 / year, and blend wood is 8,74 m3 / year. While the yield of logging is based on the number of trees for Tectona grandis as 6 trees / year, Anthocephalus cadamba species as 33 trees / year, the type of Falcataria moluccana wood as 138 trees / year, and the type of blend wood as 11 trees / years. Community forest farmers who are willing to implement an annual allowable cut logging decision as 27%, while those who are not willing as 73%.
Kata Kunci : Pengelolaan hutan rakyat, potensi tegakan, etat tebangan, kesediaan petani