Migrasi Desa-Kota Pemuda petik dua Studi Mengenai Pemuda yang Memilih Menetap dan Pemuda yang Memilih Bermigrasi Di Desa Kebon, Kabupaten Klaten petik dua
DWI SANTOSO, Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, MA
2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIFenomena migrasi desa kota dari waktu ke waktu semakin meningkat dan kebanyakan dilakukan oleh pemuda. Migrasi desa kota ini menjadikan pemuda menjadi dua kelompok yaitu pemuda bermigrasi dan pemuda menetap di desa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hal-hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara pemuda yang bermigrasi dengan pemuda yang memilih tetap tinggal di desa. Penelitian ini dilakukan di Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan melibatkan 12 informan. Penelitian ini berfokus kepada aspirasi yang dimiliki pemuda serta tantangan yang dihadapi pemuda sehingga mereka memutuskan untuk bermigrasi atau tidak. Selain itu penelitian ini juga menyinggung masalah modal sosial yang dimiliki oleh para pemuda. Kedua hal ini dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, jenis kelamin serta status perkawinan. Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa asprasi, tantangan dan modal sosial yang dimiliki antara pemuda bermigrasi dengan pemuda menetap berbeda. Negosiasi antara aspirasi, tantangan dan juga modal sosial yang dimiliki setiap pemuda akan berimplikasi terhadap keputusan yang mereka ambil. Hal inilah yang menjadikan terjadinya perbedaan keputusan untuk bermigrasi atau tidak.
The phenomenon of urban village migration from time to time is increasing and mostly done by youth. This rural-urban migration made the youth into two groups, namely youth migrating and youth settled in the village. This study aims to understand the things that cause differences between youth who migrate and youth who choose to stay in the village. This research was conducted in Kebon Village, Bayat District, Klaten Regency. The approach used is descriptive qualitative by involving 12 informants. This research focuses on the aspirations of youth and the challenges faced by youth so they decide to migrate or not. In addition, this study also touched on the issue of social capital owned by youth. Both of these are seen based on education level, gender and marital status. Broadly speaking, it can be said that the aspirations, challenges and social capital between youth migrated and settled youths is different. Negotiations between aspirations, challenges, and also the social capital that each youth has, will have implications for the decisions they make. This is what makes the difference in the decision to migrate or not.
Kata Kunci : Migrasi desa-kota, pemuda, aspirasi, tantangan, modal sosial