Laporkan Masalah

Revisiting Australia's Strategic Culture: Australian Defence Force Interoperability Concept

M ILHAM R ADAMY, Dr. Dafri Agussalim, M.A.

2019 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Ketergantungan pada negara-negara sahabat yang hebat dan kuat telah dianggap sebagai fitur khas dalam politik luar negeri Australia. Namun, dengan perubahan geopolitik dan dinamisnya kebijakan luar negeri Australia dalam menghadapi tantangan yang terus berkembang, ada kebutuhan untuk meninjau apa arti sebenarnya dari ketergantungan dan apa implikasinya bagi pertahanan Australia. Tesis ini bertujuan berkontribusi pada perdebatan mengungkap logika di balik interoperabilitas yang semakin diadopsi dalam Angkatan Bersenjata Australia (ADF) dan Departemen Pertahanan. Interoperabilitas, sebagai aspek penting di semua lini kebijakan dan keputusan pertahanan Australia, juga dapat menyembunyikan kelemahan dan kerugian luar biasa jika tidak dipahami dengan baik. Dalam penelitian ini, budaya strategis secara efektif menjelaskan rasionalitas di balik interoperabilitas untuk membuktikan apakah itu keturunan dari budaya strategis awal, kembalinya pola atau terputusnya pola sebelumnya. Dengan melihat aspek material dan non-material budaya strategis, tesis ini dapat menentukan bahwa interoperabilitas di ADF lahir dari gagalnya upaya untuk melepaskan diri dari pola budaya strategis lama pada tahun 1970-an sampai 1980-an untuk menjembatani kesenjangan antara ketergantungan dan kemandirian, dan semakin diperkuat dengan 'Regional Defense Plus' di tahun 2000-an. Bagaimana budaya strategis membentuk interoperabilitas sendiri dapat dilihat dari berbagai kompromi pada kebijakan, pengadaan, dan operasi pertahanan agar sesuai dengan logika interoperabilitas. Pengadaan F-35 JSF untuk Angkatan Udara Australia, intervensi pengembangan kapal selam kelas Collins Angkatan Laut Australia dan Fasilitas Intelijen Bersama ADF dengan Amerika Serikat menunjukkan adopsi permanen logika interoperabilitas. Namun, seperti yang akan diungkapkan oleh tesis ini, interoperabilitas menyembunyikan kerugian signifikan karena membahayakan kemandirian ADF dengan mengurangi kuantitas dan kualitas alutsista pertahanannya, dan bahkan melanggar kedaulatan Australia itu sendiri. Pada akhirnya, kelemahan-kelemahan ini tampaknya dikesampingkan sebagai ganti bagi 'jaminan' agar dapat melakukan operasi bersama dengan negara-negara sahabat yang hebat dan kuat serta memberikan ilusi kemandirian, namun resiko tetap mengintai.

The reliance on the great and powerful friends has been considered as a distinctive feature within Australia's foreign policy. However, with the changing geopolitics and Australia's more dynamic foreign policies in facing the ever growing challenges, there's a need to look back at what exactly the reliance means and what it may present for Australia's defence. This thesis aimed to contribute in the debate to reveal the logic behind the increasingly adopted interoperability within Australian Defence Force and Department of Defence. Interoperability, as an established keystone aspect within all Australia defence policies and decision, may also hides tremendous drawbacks if not assessed properly. In the case of this research, strategic cultures are effective to explain the rationality behind interoperability, to prove whether it is a descendant from the earliest strategic culture, a return of pattern or a break off from the previous pattern. Looking from the material and non-material aspects of strategic culture, the thesis has able to determine that interoperability within the ADF was born from a failed attempt to break off from the earlier strategic culture pattern during the 1970s-1980s to bridge the gap between reliance and self-reliance, and further reinforced during the 2000s "Regional Defence Plus". How the strategic culture shapes the interoperability can be seen from the various compromised defence policies, procurements and operations to fit the logic of interoperability. The procurement of F-35 JSF for the Royal Australian Air Force, the intervened development of Royal Australian Navy's Collins class submarines and the ADF's Joint Intelligence Facilities with the United States showed a permanent adoption of interoperability logic. Yet, as the thesis will reveal, interoperability hides significant disadvantages as it jeopardizes self-reliance capabilities of the ADF where it reduced the quantity and quality of its defence equipments, and may even violate the sovereignty of Australia itself. In the end, these drawbacks seem to be ruled out in exchange of a "guarantee" to be able to conduct joint operations with the big and powerful friends and a faux sense of self-reliance, but the risks are lurking out there.

Kata Kunci : Australia, Strategic Culture, Australia's Strategic Culture, Australian Defence Force, Interoperability, Defence

  1. S1-2019-380950-abstract.pdf  
  2. S1-2019-380950-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-380950-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-380950-title.pdf