Isolasi dan Uji Kemampuan Bakteri Pereduksi Sulfat dari Limbah Tambang Batubara
DENITA SOFIANIS KHADIJAH, Dr. Ir. Handojo Hadi Nurjanto, M.Agr.Sc. ; Dr. Ir. Eny Faridah, M.Sc.
2019 | Skripsi | S1 KEHUTANANIndonesia merupakan salah satu negara penghasil dan pengekspor batubara terbesar di dunia. Salah satu dampak negatif pertambangan batubara adalah adanya air asam tambang. Saat ini sedang dikembangkan metode pengolahan air asam tambang menggunakan bakteri pereduksi sulfat untuk memperbaiki kualitas air asam tambang yang ekonomis dan ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah populasi dan memeroleh isolat bakteri pereduksi sulfat yang diisolasi dari kawasan tambang batubara serta mengetahui kemampuan isolat bakteri pereduksi sulfat pada lingkungan yang memiliki pH asam sehingga dapat digunakan untuk pengolahan air asam tambang. Penelitian ini dilakukan di PT. Kaltim Prima Coal dan Laboratorium Silvikultur Intensif Fakultas Kehutanan UGM pada bulan September 2018 sampai Februari 2019. Sampel tanah diambil dari sungai, muara, kolam air asam tambang, kolam bekas tambang, lahan reklamasi dan hutan di kawasan pertambangan PT. Kaltim Prima Coal. Bakteri pereduksi sulfat ditumbuhkan pada media Postgate B cair dengan pH 7 dan diinkubasi selama 14 hari dalam kondisi anaerob. Kemudian dilakukan perhitungan jumlah bakteri dengan metode Most Probable Number, pengamatan waktu tumbuh dan skoring kepekatan warna hitam. Bakteri pereduksi sulfat yang diperoleh dari tahap isolasi lalu diuji pada media Postgate B cair yang memiliki pH 2, 3 dan 4 serta diinkubasi selama 14 hari. Selanjutnya dilakukan pengamatan jumlah tabung positif dan nilai pH akhir media. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bakteri pereduksi sulfat terbanyak ditemukan pada lahan reklamasi (3,2 x 10 pangkat 7 sel /g tanah). Bakteri tersebut juga tumbuh paling cepat dan paling banyak mereduksi sulfat. Namun demikian, dalam penelitian ini belum diperoleh bakteri pereduksi sulfat yang mampu tumbuh pada media dengan pH 2, 3 dan 4. Hal ini diduga karena bakteri yang diuji merupakan bakteri yang tumbuh optimal pada pH 7 sehingga pertumbuhannya terhambat saat diuji pada pH yang asam.
Indonesia is one of the world largest coal producers and exporters. One of the negative impact of coal mining industries is the presence of acid mine drainage. High contaminant of acid mine drainage can be reduced by sulfate reducing bacteria as an economical and environmentally friendly treatment. The aims of this research were to find out the population of sulfate reducing bacteria, to isolate sulfate reducing bacteria from coal mining area and to analyze the ability of sulfate reducing bacteria in acidic medium so they can be used for acid mine drainage treatment. The study was conducted at PT. Kaltim Prima Coal mining area and Intensive Silviculture Laboratory of Faculty of Forestry UGM from September 2018 to February 2019. Soil samples were collected from river, estuary, acid mine drainage sump, coal mining void, reclamation area, and forest in PT. Kaltim Prima Coal mining area. Population of sulfate reducing bacteria in the soil sample was enumerated using Most Probable Number method in screwcap tubes containing liquid medium of Postgate B pH 7. The tubes were incubated anaerobically for 14 days and the positive reaction was indicated by the blackening of the medium. The day of black colour formation and the degree of black colour was recorded. The sulfate reducing bacteria then were tested on liquid Postgate B medium adjusted to pH 2, 3 and 4. The day and number of positive tubes were recorded and the pH was determined after 14 days incubation period. The result showed that soil from reclamation area contained the highest population of sulfate reducing bacteria (3,2 x 10 square 7 cell/g soil). Those bacteria also had the fastest growth and the highest capability in reducing sulfate. Tests in Postgate B medium with pH 2, 3 and 4, however, failed to demonstrate the capability of increasing pH. This might be happened because the tested bacteria were those that optimally grow in pH 7, so their growth was inhibited by acidic pH.
Kata Kunci : Air asam tambang, bakteri pereduksi sulfat, bioteknologi ; Acid mine drainage, biotechnology, sulfate reducing bacteria