Laporkan Masalah

ANALISIS DESKRIPTIF PENERAPAN SISTEM PERTANIAN ORGANIK DI DESA RINGGIT, KECAMATAN NGOMBOL, KABUPATEN PURWOREJO

Taufik Fauzan, Prof. Dr. Susetiawan, S.U.

2019 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Pertanian organik menjadi alternatif para petani untuk meningkatkan produksi pertanian. Pertanian organik pada saat ini merupakan pertanian organik yang mana harus mengolah lahan yang telah terkontaminasi bahan kimia menjadi lahan yang bersih dari bahan kimia. Sistem ini mengedepankan pertanian jangka panjang di mana petani akan semakin mudah merawat lahannya dan menghasilkan panen yang lebih baik seiring berjalannya waktu. Namun, hal tersebut tidak serta merta menjadikan para petani menerapkan pertanian organik yang notabene memberi manfaat berjangka panjang. Di Desa Ringgit, pada awal pengenalan pertanian organik, petani berbondong bondong menerapkan pertanian organik namun lambat laun petani yang menerapkan pertanian organik secara utuh hanya segelintir saja. Pertanyaannya adalah bagaimana petani Desa Ringgit menerapkan pertanian organik sedangkan mayoritas petani masih menerapkan pertanian konvensional dengan bahan kimia? Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan mengutamakan narasi subjektif individu. Teknik pengambilan data yang dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam. Dengan metode analisis data melalui kategorisasi data dan sintesisasi. Kerangka teoritik yang digunakan yaitu rasionalitas petani dengan mempertimbangkan aktor, sumber daya pertanian dan tindakan. Hal ini dilakukan untuk mencoba melihat alasan petani memilih pertanian organik atau konvensional. Hasil penelitian ini menunjukkan adalah perbedaan pandangan, prioritas, dan risiko antara petani organik dan konvensional. Penyebab utama perbedaan tersebut yaitu kepemilikan lahan yang tidak merata di Desa Ringgit juga pengetahuan tentang pertanian organik yang kurang.

Organic agriculture has become an alternative for the farmers in order to increase their agricultural product. Recently, what is understood as organic agriculture is an agricultural system which is done by turning a chemicals-contaminated land into a free-chemicals land. This system signifies its long-term agriculture characteristic by which it enables the farmers to take care of their land more easily and to gradually produce a better harvest. Nevertheless, these benefits are not adequate enough to influence the farmers in applying the system which is basically giving a long-term benefit for them. In Ringgit, at the beginning of introducing the system, most farmers are exitedly applying organic agriculture, but then the number is gradually decreasing only a few farmers who are still using the system. The question is how could these Ringgit farmers choose to still apply organic agriculture while most farmers persist in applying conventional agriculture by using chemicals? This research uses descriptive analysis method which prioritizes subjective individual narration. The data is collected through observation, in-depth interview and documentation. The analyzing data is done by conducting categorization and synthesis. The used theoretical framework is farmers rationality which take the actor, agricultural resource and action into consideration. It is done in order to see the farmers reason in choosing between organic and conventional agriculture. The research result indicates the difference between organic and conventional farmers in the aspects of view, priority, and risk. The predominant causes of the difference are uneven land ownership and also the lack of knowledge about organic agriculture in Ringgit.

Kata Kunci : pandangan, prioritas, risiko, kepemilikan lahan / view, priority, risk, land ownership

  1. S1-2019-378677-abstract.pdf  
  2. S1-2019-378677-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-378677-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-378677-title.pdf