DAMPAK DIBERLAKUKANNYA UNDANG-UNDANG TENTANG PENANAI\1A MODAL ASING DAN UNDANGUNDANG TENTANG PE A AMAN MODAL DALAM NEGERI TERHADAP PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DAN TENAGA KERJA YANG DISERAP (KASUS I DUSTRI PEMlNTALAN BENANG DAN INDUSTRI PERTENUNAN 1975- 1981)
Suyudi Mangunwihardjo, Dr; Soetatvo Hadivigeno, M.A.
1990 | Disertasi | S3 Ilmu EkonomiTujuan penelitian lnl adalah; (1) mengetahui perubahan arah teknologi yang terjadi sejak berlakunya Undang-undang tentang Penanaman Modal Asing (UU tentang PMA) dan Undang-undang tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (UU tentang PHON), (2) mengetahui perubahan produktivitas tenaga kerja, (3) mengetahui perubahan jumlah tenaga kerja yang diserap dalam industri pemiintalan benang CISIC 32111) dan industri pertenunan (ISIC 32112) skala besar dan sedang sejak berlakunya kedua UU tersebut, (4) mengetahui dan mengenali faktor-faktor yang mempengaruhl jumlan tenaga kerja yang diserap. Penelitian ini merupakan studi tentang dampak diberlakukannya UU tentang PHA dan UU tentang PHON terhadap produktivitas tenaga kerja dan tenaga kerja yang diserap, khususnya dalam kelompok industri pemintalan benang dan industri pertenunan. Penelitian ini menggunakan data belah silang tahun 1975 dan 1981 yang berupa jawaban daftar pertanyaan dalam survey tahunan perusahaan lndustri yang dikumpu1kan oleh Biro Pusat Statistik. Pendekatan masalahnya didasarkan pada anallsis kualitatif dan kuantitatif. Hasil-hasil utama penelitian lni adalah: Dampak diberlakukannya UU tentang PMA dan UU tentang PHON dalam industri pemintalan benang dan industri pertenunan berbeda-beda, yaitu : 1. Sejak berlakunya UU tentang PHA dan UU tentang PMON, penanaman modal dalam industri pemintalan benang dan industri pertenunan berkembang, dan teknologi yang digunak"an dalam kedua industri itu menjadi lebih padat modal, namun teknologi dalam industri pemintalan benang leblh padat modal daripada teknologi dalam industri pertenunan. Perubahan teknologi tersebut mengakibatkan: (a) Dalam industri pemintalan benang terjadi konsentrasi dalam penjualan hasil produksinya, dan perusahaan-perusahaan yang tidak menggunakan teknologi padat modal sebagian besar gulung tikar, sehingga industri tersebut menghadapi pasar oligopoli. (b) Oalam industri pertenunan terjadi duallsme dalam teknologi sebab perusahaan-perusahaan yang tidak menggunakan teknologi padat modal dapat mempertahankan hidupnya dengan mengadakan pembedaan hasil produksinya dengan hasil produksi perusahaan lain. Selain itu dalam industri pertenunan tidak terjadi konsentrasi dalam penjualan hasil produksi, sehingga terdapat pasar persaingan monopolistik. 3. Produktivitas tenaga kerja balk dalam industri pemintalan benang maupun dalam industri pertenunan naik dalam kurun waktu 1975-1981, namun kenaikan dalam industri yang didirikan sebelum berlakunya UU tentang PMA dan UU tentang PMDN, lebih besar daripada industri yang didirikan sesudahnya. 4. Pertambahan jumlah tenaga kerja yang diserap akibat penanaman modal baru, balk yang digunakan untuk memperluas perusahaan maupun untuk mendirikan perusahaan baru, lebih besar daripada pengurangan jumlah tenaga akibat penggantian teknologi yang lebih padat modal sehingga jumlah tenaga kerja yang diserap keseluruhan bertambah. 5. Perbedaan bentuk pasar yang dihadapi industri pemintalan benang dan industri pertenunan, menyebabkan efisiensi teknik dalam industri pertenunan lebih tinggi daripada dalam industri pemintalan benang. 6. Jumlah tenaga kerja yang diserap dalam industri pemintalan benang dan pertenunan lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan teknologi dan jumlah hasil produksi, sedang tingkat upah, harga faktor produksi lain, dan harga hasil produksi sangat kecil pengaruhnya. Kesimpulan utama dari hasil anallsis penelitian ini, adalah : 1 . Sejak berlakunya UU tentang PMA dan UU tentang PHON, industri pemintalan benang dan industri pertenunan menjadi lebih penting peran sertanya dalam pembangunan di Indonesia sebab; (a) produktivitas tenaga kerjanya menjadi makin besar, akibat penggunaan teknologi yang lebih padat modal sehingga dapat menaikkan taraf hidup masyarakat, dan (b) jumlah tenaga kerja yang diserap dalam kedua kelompok industri tersebut naik. 2 . Sejak berlakunya UU tentang PHA dan UU tentang PMDN, makin padat modal teknologi yang digunakan dalam penanaman modal, makin tinggi produktivitas tenaga kerja dan makin besar pula kesempatan kerja yang ditimbulkannya. Untuk menambah jumlah tenaga kerja yang diserap dapat diusahakan dengan menggunakan teknologi yang padat modal agar pemasaran produknya dapat bersaing dengan produk sejenis balK ' dari impor maupun dari perusahaan lain, dan dengan menambah jumlah hasil produksi apabila permintaan pasar memungkinkan. 3. Diberlakukannya UU tentang PMA dan UU tentang PMDN diharapkan dapat mendorong kenaikan produktivitas tenaga kerja dan penyerapan tenaga kerja, namun karena adanya struktur pasar yang berlaku untuk industri-industri yang ada, aspek normatif dalam kedua UU tersebut belum mampu sepenuhnya mendukung perkembangan s emua perusahaan yang ada. Oleh karena itu dampak diberlakukannya kedua UU tersebut terhadap produktivitas tenaga kerja dan tenaga kerja yang diserap berbeda-beda antara industri satu dengan industri yang lain.
The objectives of this study are fourfold. First, to investigate the direction of impact of the technological change in the yarn and thread manufacturing industry (!SIC number 32111) and the veaving mills except yute and plastic veaving products (!SIC number 32112), since the foreign investment law and domestic investment lav vere announced. Second, to determine labour productivity changes. Third, to determine the opportunity of employment in the large and medium scale firms of both industrial groups. Fourth, to determine some factors vhich influenced the opportunity of labour employment. This study deals vith the impact of the establishment of the foreign investment lav and domestic investment law on labour productivity and labour absorbed in the both industrial groups. The cross sectional data of 1975 and 1981 used vas primary data on industrial statistics collected by Biro Pusat Statistik and processed especially for this research. The analysis employed vas quantitative and qualitative analysis. Some of the main results of this research vere: Some impacts of the establishment of the foreign investment lav and the domestic investment law, in the yarn and thread manufacturing industry and the veaving mills, were different from one another: 1. After the foreign investment law and the domestic investment lav were established, investment activities in the yarn and thread manufacturing industry and the veaving mills increased, and there vere capital intensive technological changes in the both industrial groups, but in the yarn and thread manufacturing industry was more capital intensive than in the veaving mills. The technological changes caused the following items: (a) There vas a concentrated of the product sales in the yarn and thread manufacturing, and the manufacturing firms vhich used labour intensive technology were eliminated, so that they faced an oligopolistic market. (b) There was technological dualism in the veaving mills, because the manufacturing firms which used labour intensive technology had to product differentiated products for their survival,and there was a lack of concentration in the product sales in the weaving mills, so that they faced monopolistic competitive markets. 3 . There was an increasing labour productivity in both industrial groups, during the period of 1975-1981, but the increasing rate in the manufacturing industries established before the establishmet of the foregn investment law and the domestic law was greater than the one in the manufacturing industries established after. 4. The decrease of the labour absorption which was caused by the technological changes was smaller than the increasing labour absorption caused by the newly establised manufacturing during the same period, so that the establising after foreign investment law and domestic investment law had increased labour absorption in both industrial groups. 5. In 1975 and 1981 the technical efficiency of the weaving mills in greater than the one of the yarn and thread manufacturing industry, because the former industry faced the monopolistic competition market and the latter industry faced the oligopolistic market. 6. The labour absorption in the both industrial groups vere effected by the' technological changes, and the amount of product and the changes of the wage rate, interest rate, raw materials prices and the product price did not effected them. The main conclusion of this study, were: 1. After the foreign investment law and the domestic investment lav vere established, the yarn and thread manufacturing industry and the veaving mills except yute and plastic veaving products had important roles in the Indonesian economic development, because: (a) the capital intensive technological changes had increased their labour productivity, and thus it might increase the standard of living of society, and (b) there was an increase in the opportunity of labour employment in both industrial groups. 2. After the foreign investment law and the domestic investment law vere announced, the intensity of capital used had increased the labour productivity and the labour absorption . In Order to enlarge the amount of the labour absorption, it is recommended to invest in capital with a capital intensive technology or to enlarge the amount of the product. 3. Some objectives of the establishment of the foreign investment law and the domestic investment law were to encourage increasing of the labour productivity and the labour absorption, but caused of the market structure of industries, the normative aspect of the both laws had not urged all of the development of the indus-trial firms. So the impact of the establishment of the both laws on labour productivity and labour absorption, in many industries, was different one another.
Kata Kunci : produktivitas tenaga kerja, tenaga kerja, industri