Laporkan Masalah

Implementasi Program Pengembangan Klaster Kakao di Desa Nglanggeran Kabupaten Gunungkidul

FERI TRI HASTUTI, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, MPP.

2018 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Penelitian ini menganalisis tentang proses implementasi program pengembangan klaster kakao di Desa Nglanggeran. Argumen utamanya adalah implementasi program tersebut telah berhasil memberdayakan petani kakao di desa Nglanggeran dalam mengolah kakao dari hulu ke hilir. Dalam tulisan ini penulis menguraikan bagaimanakah proses implementasi program tersebut sehingga berhasil. Program pengembangan klaster kakao di desa Nglanggeran merupakan kerjasama yang melibatkan multiple agencies oleh karena itu dalam studi ini juga melihat tentang proses koordinasi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini penting seiring dengan munculnya kecenderungan pelaksanaan program publik yang melibatkan banyak pihak dan secara teori, implementasi yang melibatkan banyak agen memiliki kecenderungan mengalami kegagalan. Oleh karena itu dari studi ini diharapkan mampu sebagai best practice dalam pelaksanaan program lintas organisasi dan dapat di replikasi untuk pelaksanaan program lainnya. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara dengan aktor Bank Indonesia, BPTBA LIPI Yogyakarta, Dishutbun Kabupaten Gunungkidul, Gapoktan Kumpul Makaryo dan juga Anggota Purbarasa. Sumber data lain yang digunakan adalah sumber data sekunder berupa surat perjanjian dan laporan kegiatan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan dibuat deskripsi dari proses implementasi hingga koordinasi antar agen. Temuan dilapangan menunjukkan bahwa program pengembangan klaster kakao di desa Nglanggeran berhasil karena program yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran dengan agen pemberdaya yang tepat. Hal lain yang mendukung keberhasilan program adalah adanya dukungan lingkungan yakni kondisi kelompok sasaran Gapoktan Kumpul Makaryo secara organisasi sudah terbentuk dan sudah memiliki local champion yang mampu memobilisasi kegiatan petani serta kesadaran warga Nglanggeran dalam mengembangkan potensi desanya. Koordinasi dalam program ini tidak dibentuk dalam sebuah struktur formal. Sifat kerja masing-masing pihak bersifat otonom sesuai dengan bidang spesialisasinya. Dalam koordinasi ditunjang dengan adanya peran dari institutional leader dan operational leader. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan koordinasi pertama, interdependensi yang bersifat pooled namun tetap terkendali dengan adanya fungsi institutional leader dan operational leader. Kedua, faktor institusi yaitu adanya kesamaan tujuan dari masing-masing pihak dan terdapat acuan kerjasama secara formal dalam bentuk perjanjian kerjasama. Ketiga, kemudahan dalam berbagi informasi dengan menggunakan media digital. Keempat, adanya pertukaran sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Kelima, adalah adanya aksi bersama dimulai dengan pelibatan semua pihak pada saat proses perencanaan program.

This research specifically discussed the implementation process of cacao cluster development program in Nglanggeran, proposing a main idea stating that the program implementation had successfully organized cacao farmers in Nglanderan in upstream-downstream cacao processing. In conducting this research, the researcher elaborated the implementation process of the program. As the cacao cluster development program in Nglanggeran constituted a cooperation involving multiple agencies, the researcher investigated both the coordination process and factors influencing the process. This research became crucial when, since there was a tendency to implement public programs participated by multiple agents; while theoretically, such implementation tended to create failures. Therefore, this research was expected to be the best practice during multi-organizational program implementation and able to be replicated to other program implementations. Data were collected by interviewing several actors of Bank Indonesia, Research Unit for Natural Product Technology-LIPI of Yogyakarta, Forestry and Plantation Agency of Gunungkindul, Kumpul Makaryo Association of Farmers Groups, and Purbarasa members. Another data source was the secondary data source, i.e. agreement letters and activity reports. The data were analyzed and the implementation process and coordination among agents were described. Research findings revealed that cacao cluster development program in Nglanggeran was a success, because of the program acting accordingly based on the needs of targeted groups and appropriate developer agents. Additional factors supporting the program success were the environmental supports. As such, in terms of organization, the targeted group condition, Kumpul Makaryo Association of Farmer Groups, had been well established and had local champions enabling the mobilization of farmer activities. Other than that, Nglanggeran people had administered awareness in developing their village potencies. The program coordination was not formally established. Each agent had their own working nature in accordance with their expertise. The coordination was sustained by the roles of institutional leader and operational leader. There were some factors affecting the coordination success: (1) pooled but controlled interdependence by the functions of both leaders, (2) institutional factor constituting objective similarities among agents and formal cooperation reference in forms of cooperation agreement, (3) ease in sharing information by digital media, (4) resource exchange by agents, and (5) simultaneous acts conducted by involving all agents during the program planning process.

Kata Kunci : Program Implementation, Coordination, Factors Influencing Coordination

  1. S2-2018-388896-abstract.pdf  
  2. S2-2018-388896-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-388896-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-388896-title.pdf