Laporkan Masalah

Sacralizing Pleasure: Indonesia Sharia Tourism in The Age of Religious Piety

IDA FITRI ASTUTI, Dr. Samsul Maarif

2019 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Pada 30 Oktober 2013, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah meluncurkan Pariwisata Syariah Indonesia. Program ini merupakan sikap pemerintah dan MUI dalam merespons fenomena bersenang-senang sekaligus tetap menjaga kesalehan ketika berwisata, yang terjadi di skala nasional, regional dan internasional. Dalam mengembangkan program Wisata Syariah, pemerintah dan MUI melengkapinya dengan seperangkat aturan yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam sebagai pedoman untuk menyambut turis Muslim dan memenuhi kebutuhan ibadah keagamaan. Dapat dikatakan bahwa program ini merupakan intervensi agama pada pariwisata dengan menerapkan ajaran Islam ke dalam produk dan jasa seperti hotel, restoran, agen perjalanan, dan spa. Sehingga turis Muslim akan dapat menjaga kesalehan mereka selama berwisata. Penelitian ini untuk menguji fenomena yang muncul dalam industri pariwisata berdasarkan pengamatan pada orang-orang yang terlibat dalam bidang pemerintahan, intitusi agama, praktisi pariwisata yang telah melakukan berbagai upaya untuk memodifikasi program dalam memenuhi kebutuhan keagamaan dan kesenangan bagi wisatawan Muslim. Wisata Syariah ini dipandang potensial dapat meningkatkan pendapatan nasional dari sektor pariwisata dengan mempertimbangkan jumlah wisatawan Muslim di Indonesia dan di seluruh dunia. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara dan pengamatan langsung di Solo serta Yogyakarta, ditambah dengan mempelajari isu terkait yang muncul di media massa dan juga mengelaborasikannya dengan literatur dan teori yang relevan. Tiga elemen fokus penyelidikannya adalah (1) pemerintah yang merespons dan mendukung sektor prospektif ini, (2) lembaga keagamaan yang memberikan instruksi tentang bagaimana mengelola kebutuhan berwisata dan beragama, (3) juga perilaku para praktisi di bidang pariwisata. Ketiga unsur yang saling memengaruhi itu menunjukkan fenomena global tentang perilaku keagamaan kontemporer di zaman sekarang, yaitu ketika sekularisme dan agama tumpang tindih. Tesis ini berkontribusi pada studi tentang era kesalehan agama, karena mampu menggambarkan sebuah momen di mana dimensi sakral dan profan tidak dipisahkan, tetapi dilakukan pada satu waktu bersamaan.

In October 30, 2013, The Ministry of Tourism and Creative Economy together with The Indonesia Ulama Council (MUI) have launched the Indonesia Sharia Tourism. It is a leisure and travel that complies with Islamic Law on four products which are hotels, restaurants, travel agents and spas. Purpose of the study is to discuss more about how religion intervens tourism by implementing Islamic teachings to its products, therefore Muslim would able to keep their piety during involving in tourism. The government together with MUI captured this behavior by taking responsibility on developing Sharia Tourism Indonesia with regulation as guideline to welcoming Muslim tourist and meeting their religious needs in pleasure times. The importance of the research is to investigate the emerging phenomenon in tourism industry that intervened by religion or religious dimension. Those who are involving in this field, namely government, religious intitution, practitioners of tourism have been taking various efforts in modifying the program to satisfy religious and pleasure needs of Muslim tourists. This program is worth to pursue with the intention to increase national inbound revenue from tourism sector by considering that Muslim number in Indonesia and in the world are the ones who will spend more money in tourism. Number of tourist is very prospective to increase the national income, thus several efforts have been taken to develop its performance. This research was conducted using interview methods, direct observation at the research site in Solo and Yogyakarta, studying mass media discourse and also elaborating with relevant theories in order to have valuable contribution to the study of the age of religious piety. It investigates three elements; (1) the government that responds and supports this prospective sector, (2) religious institutions which give instruction on how to manage the needs and (3) also behaviour of practitioners in the field of tourism. The interplay among those three elements indicate global phenomena of contemporary religion in today�¢ï¿½ï¿½s age, when secularism and religion has been overlaping and also it is a moment of sacral and profan dimension are performing at a time. Keywords: Sacral, Profane, Pleasure, Tourism, Sharia, Piety

Kata Kunci : Sakral, Profan, Kesenangan, Pariwisata, Syariah, Kesalehan/Sacral, Profane, Pleasure, Tourism, Sharia, Piety

  1. S2-2017-357528-abstract.pdf  
  2. S2-2017-357528-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-357528-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-357528-title.pdf