Kewargaan Dalam Kehidupan Sehari-hari: Eksklusi Etnis Non-Tionghoa Terhadap Etnis Tionghoa di Kota Bandar Lampung
TABAH MARYANAH, Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A.
2019 | Disertasi | DOKTOR ILMU POLITIKDisertasi ini merupakan studi tentang kewargaan. Fokus studi ini adalah tentang inklusi dan eksklusi warga tertentu, yakni eksklusi etnis non-Tionghoa terhadap etnis Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari. Kajian-kajian tentang eksklusi terhadap etnis Tionghoa selama ini dilakukan dari perspektif etnis Tionghoa dan dikaji dalam konteks politik formal, serta non-diskursif. Disertasi ini menawarkan perspektif alternatif, yakni mengkaji dari perspektif etnis non-Tionghoa yang menjadi pelaku eksklusi dan mengajinya dalam kehidupan sehari-hari yang diskursif. Perubahan tatanan institusional dan simbolik sebagai upaya untuk menginklusi etnis Tionghoa di wilayah politik formal tidak menghentikan eksklusi terhadap etnis Tionghoa. Dalam kehidupan sehari-hari etnis Tionghoa masih dieksklusi oleh sesama warga secara diskursif, melalui metode tidak diaprehensi dan diperlakukan secara sinis. Konsekuensinya jelas bahwa perjuangan menegakkan kewargaan tidak tercapai jika hanya diselesaikan dalam wilayah politik formal. Struktur sosial ekonomi yang timpang menempatkan etnis non-Tionghoa mengalami problem kewargaan sebagai kelompok warga yang terdominasi. Ketidakadilan sosial ekonomi mendorong etnis non-Tionghoa untuk melakukan perlawanan dengan cara mengeksklusi etnis Tionghoa. Hubungan patron klien yang masih terus berlangsung, kekeliruan pemerintah dan etnis Tionghoa dalam merespon eksklusi, serta tatanan simbolik yang tidak memungkinkan etnis non-Tionghoa melakukan eksklusi di wilayah politik formal menyebabkan etnis non-Tionghoa mengeksklusi etnis Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari. Etnis Tionghoa masih terus mengalami problem kewargaan, hanya saja berpindah arena eksklusinya. Semua ini berarti bahwa institusi yang baik tidak selalu menghasilkan warga yang baik. Penghapusan diskriminasi pada level institusional tidak mampu menghilangkan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan eksklusi etnis non-Tionghoa terhadap etnis Tionghoa bukan saja karena rendahnya toleransi atau kuatnya sikap primordial yang dimiliki oleh etnis non-Tionghoa, tetapi karena eksklusi terkait dengan persoalan kewargaan. Dengan demikian disertasi ini menunjukkan bahwa perjuangan untuk mencapai kewargaan yang inklusif dalam kehidupan sehari-hari sama pentingnya dengan perjuangan menegakkan kewargaan yang inklusif di wilayah politik formal.
This thesis is a study of citizenship, focus on the inclusion and exclusion of certain citizens, namely the exclusion of the Chinese Indonesians by non-Chinese Indonesians in everyday life. The existing works about exclusion of the Chinese Indonesians have been carried out on Chinese Indonesians perspective, studied in a formal political context, and non-discursive aspect of exclusion. This thesis suggests an alternative perspective, study on non-Chinese Indonesians perspective whom being excluder and in everyday life discursively. Changes in the institutional and symbolic order as an effort to include the Chinese Indonesians in the formal politics did not stop the exclusion of the Chinese Indonesians. The Chinese Indonesians are still excluded by fellow citizen discursively in everyday life, by not apprehending methods and cynically treated. The consequence is clear that the struggle for citizenship is not effective if it is only do in the formal political area. The unequal socio-economic structure places the non-Chinese Indonesians have citizenship problems as a group of citizens who are dominated. Socio-economic injustice encourages non-Chinese Indonesians put up resistance in ways that exclude Chinese Indonesians. The ongoing patron client relationship, the mistakes of the government and Chinese Indonesians in responding to exclusion, as well as the symbolic order that did not allow non-Chinese Indonesians to exclude in the formal political area caused non-Chinese Indonesians to exclude Chinese Indonesians in their daily lives. Chinese Indonesians are still having citizenship problems, only changing its exclusion arena. It means that good institutions do not always produce good citizens. Elimination of discrimination at the institutional level is not able to eliminate discrimination in everyday life. The issue of the exclusion of Chinese Indonesian by non-Chinese Indonesians is not only because of their low tolerance or the strong primordial attitude of non-Chinese Indonesians, but because exclusion is related to citizenship issues. This thesis showed that struggle for inclusive citizenship in everyday life as important as struggle for inclusive citizenship in formal politics.
Kata Kunci : Kata kunci: aprehensi, sinis, perlawanan dalam kehidupan sehari-hari, kewargaan, inklusi, eksklusi, diskursif.Keywords: apprehenshion, cynic, everyday life resistance, citizenship, inclusion, exclusion, discursive.