Penanganan Isu Keamanan Manusia Pada Pemuda Daerah Perbatasan dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Wilayah (Studi Di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat)
ALFIAN NURDIANSYAH, Dr Dafri Agussalim, MA ; Dr Nasir Tamara, DEA, DESS
2019 | Tesis | MAGISTER KETAHANAN NASIONALIsu mengenai keamanan selalu menjadi isu yang menarik untuk dikaji. Berbagai dinamika yang terjadi di lapangan, telah dan akan selalu menjadi perhatian setiap kalangan yang menganggap bahwa rasa aman adalah mutlak untuk diperjuangkan dan diupayakan penanganannya. Sejak Human Security diperkenalkan dalam Human Development Report pada tahun 1994, konsep tersebut telah dianggap sejalan dengan pembangunan atau penanganan masalah sosio-ekonomi. Para pemangku kepentingan, terutama masyarakat sipil atau organisasi non-pemerintah, cenderung memandang Keamanan Manusia sebagai alat yang efektif untuk mengangkat berbagai masalah atau tantangan yang harus diambil sebagai masalah keamanan. Dalam konteks Indonesia, kendati pertumbuhan ekonominya relatif stabil, negara ini terus menghadapi banyak tantangan terkait keamanan manusia, di mana yang paling merasakan dampaknya adalah pemuda, yang merupakan generasi penerus bangsa. Bonus demografi yang hangat diperbincangkan dalam pencapaian pembangunan Indonesia di masa depan Pemuda di setiap wilayah di Indonesia memegang peranan penting dan sama besarnya, dan mereka ini adalah, dan akan menjadi elemen penting dari populasi untuk mencapai tujuan tersebut sehingga bonus demografi akan lebih bijaksana apabila ada pemerataan di seluruh wilayah di Indonesia. Temajuk adalah salah satu desa yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Berdasarkan data yang diambil melalui Kementerian Sosial, Desa Temajuk dikategorikan sebagai salah satu desa tertinggal di Indonesia. Penelitian ini akan melihat bahwa apa saja permasalahan pemuda di daerah perbatasan Desa Temajuk dikaji berdasarkan perspektif keamanan manusia, bagaimana penanganan dan kendala-kendala yang dihadapi, serta bagaimana implikasinya terhadap ketahanan wilayah Desa Temajuk. Peneliti mencoba menyajikan data deskriptif dalam bentuk informasi atau tanggapan dari informan (wawancara mendalam), observasi lapangan dan studi dokumen yang berkaitan dengan isu yang dikaji. Pendekatan non-tradisional untuk manajemen keamanan perbatasan lebih berfokus pada penanganan keamanan individu yang dalam hal ini pemuda Temajuk sebagai modal utama dalam mendukung tercapainya ketahanan wilayah. Upaya yang dilakukan dengan fokus utama pemuda lokal diharapkan dapat memberikan pencapaian positif bagi ketahanan wilayah tersebut.
Since Human Security was introduced in the Human Development Report in 1994, the concept has been accepted with different interpretations. Mostly associated with the development or socio-economic concerns, certain stakeholders, especially the civil society or non-governmental organizations, tend to view Human Security as an effective tool to raise various issues or challenges to be taken up as security concerns. In the context of Indonesia, in spite of its relatively stable economic growth, the country continues to face lots of challenges related to human security, where the most will feel the impact is the youth, the next generation of the nation. The demographic bonus raised to be the main topic in the achievement of Indonesian development in the future should be addressed very wisely. These young people are and will be an important segment of the population in order to achieve that goal. Temajuk is one of the villages that located right on the tail of Borneo island in the northernmost region of Sambas regency, West Kalimantan Province directly adjacent to Malaysia. Based on data taken through the Ministry of Social Affairs of the Republic of Indonesia is one of the backward villages in Indonesia where up to now most of the people are still living in poverty and limited access to infrastructure and development. This article will look at the non-traditional approach to border security management focuses more on strengthening individual security as the main capital in supporting the achievement of regional resilience. Youth is an important element in strengthening human security in border areas. Efforts to meet the basic needs of youth in Temajuk village can have an impact on the achievement of regional resilience. This article seeks to explain the need for handling human security in an effort to achieve resilience in the border area of Temajuk.
Kata Kunci : Pemuda, Keamanan Manusia, Pembangunan Perbatasan, Ketahanan Wilayah