THE ARTICULATION OF SADRANAN FOR ENGAGEMENT WITH ANCESTORS AND ECO-SOCIAL HARMONY
DIAN ADI MARIANTO, Dr. Samsul Maarif
2019 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYATesis ini membahas tentang ritual sadranan, ritual penghormatan terhadap leluhur, yang merupakan bagian dari agama Jawa. Latarbelakang penelitian ini adalah adanya anggapan di kalangan publik dan juga literatur bahwa ritual Sadranan adalah praktek syirik, sesat, bid`ah, animisme-dinamisme. Karena anggapan tersebut, sadranan hanya dimaknai sebagai praktek adat istiadat, budaya, tradisi, keyakinan dan tidak termasuk dalam kategori agama. Berdasarkan kategori-kategori itu, sadranan yang hari ini dilakukan dengan cara Islam telah dianggap bergeser maknanya. Dulu, sadranan dimaknai sebagai media untuk berhubungan dengan leluhur agar leluhur memberikan berkah, kesuburan, dan kesejahteraan, namun saat ini sadranan hanya dijadikan media mendoakan leluhur agar dia diampuni dosa-dosanya dan diterima di sisi Allah. Dari diskursus tersebut kemudian muncul pertanyaan mengenai apakah benar bahwa sadranan bukan bagian dari ekspresi keagamaan (Jawa)? Untuk menjawab pertanyaan ini, penelitian ini mengajukan 3 pertanyaan: (1) Bagaimana konsep leluhur yang dipahami oleh orang Jawa dalam ritual sadranan? (2) Bagaimana artikulasi sadranan di tengah kontroversi dan stigma terkait dengannya? (3) Bagaimana relasi antara sadranan dan agama bagi orang Jawa? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang pertama kali dilakukan adalah mengkaji konsep leluhur yang dipahami oleh orang Jawa dalam ritual sadranan. Dalam hal ini, penjelasan mengenai leluhur dilihat sebagai sebuah kebenaran sesuai dengan penjelasan pelakunya, terlepas dari kategori-kategori negatif tentangnya. Konsep mengenai leluhur ini kemudian dibawa pada wilayah perdebatan antara yang mendukung dan yang menolaknya. Dalam perdebatan ini akan diuraikan bagaimana pelaku sadranan mengartikulasikan sadranan. Kajian ini akan membawa kita pada makna agama yang dipahami oleh orang Jawa yang berhubungan dengan relasi kosmologi. Perspektif agama ini dipilih karena wacana akademis sebelumya tidak dapat diaplikasikan dalam memahami fenomena yang didapat di lapangan. Berdasarkan hasil riset di lapangan, ditemukan data bahwa orang Jawa masih memeluk ajaran leluhurnya dan mereka telah menghargai Islam seperti mereka menghargai agama Jawa itu sendiri. Lebih dari itu, beberapa faktor-faktor eksternal seperti globaisasi, modernisasi bukan dilihat sebuah ancaman, tapi hal-hal yang perlu diseimbangkan agar tercipta keharmonisan. Dalam hal ini, sadranan telah menjadi media untuk menjaga keharmonisan sosial, alam, dan leluhur. Dalam konteks ini, agama dipahami sebagai cara berelasi dengan seluruh kehidupan, baik makhluk hidup dan benda mati yang tidak terbatas. Relasi ini bersifat intersubjektif, reciprocal, saling menghormati, dan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan keharmonisan kosmos. Dari penemuan tersebut, konsep agama yang dipahami orang Jawa menjadi alternatif dalam memahami wacana agama, khususnya agama lokal.
This thesis was arranged to find out the relation between the sadranan ritual and religion. This is based on the Muhammadiyah and MTA Islamic organizations who consider that the sadranan ritual as a practice of shirk, heresy, bid`ah, animism-dynamism. Because of this assumption, sadranan is only interpreted as the customs, cultures, tradition, beliefs and not included in the category of religion. Based on these categories, sadranan which is carried out by the Islamic way has been considered to have shifted its meaning. In the past, sadranan was interpreted as a medium to connect with ancestors so that ancestors gave blessings, fertility, and prosperity, but now sadranan is only used as a medium to pray for ancestors so that their sins will be forgiven and accepted by Allah. From the discourse, then the question arises regarding is it true that sadranan is not part of religious expression? To answer this question, this study asks 3 questions that want to be answered including; (1) How is the concept of the ancestor was understood by the Javanese in sadranan ritual? (2) How is sadranan articulated to respond the controversies? (3) How is the relationship between sadranan and religion for the Javanese? To answer these questions, the first thing to do is examine the ancestral concept that is understood by the Javanese in sadranan ritual. In this case, an explanation of the ancestors is seen as a truth in accordance with the explanation of the practitioners, regardless of the negative categories about it. The concept of the ancestors is then brought to the area of the debate between those who support and those who reject it. In this debate, it is explained how sadranan is articulated. This study will bring us to the meaning of religion understood by the Javanese related cosmological relation. This religious perspective is chosen because previous academic discourse cannot be applied in understanding the phenomena obtained in the field. Based on the results of research in the field, it was found the data that Javanese people still embraced the teachings of their ancestors and they had respected Islam as they respected Javanese religion itself. More than that, some external factors such as globalization, modernization are not seen as a threat, but things that need to be balanced in order to create harmony. In this case, sadranan has become a medium to maintain social, natural and ancestral harmony. In this context, religion is understood as a way of relating to all life, both living beings and inanimate objects that are unlimited. This relationship is intersubjective, reciprocal, mutual respect, and full of responsibility to realize the harmony of the cosmos. From these findings, the concept of religion understood by the Javanese people became an alternative in understanding religious discourse, especially local religion.
Kata Kunci : sadranan, Javanese, cosmological relations, religion