Laporkan Masalah

Dinamika Warung Kopi sebagai Ruang Publik di Makassar

ANDI FAISAL, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa, M.A; Dr. Wisma Ch R Nugraha, M.Hum

2019 | Disertasi | DOKTOR KAJIAN BUDAYA DAN MEDIA

Penelitian disertasi ini berjudul "Dinamika Warung Kopi sebagai Ruang Publik di Makassar" yang membahas tentang bagaimana transformasi kultural dan kehidupan sosial ruang publik warung-warung kopi di Makassar beserta relasi-relasi kuasa di dalamnya, telah membentuk klasifikasi dan realitas ruang dan wacana warung kopi sebagai ruang publik di kota Makassar pada era pascareformasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dalam menyorot permasalahan yang ada, dengan metode observasi terlibat dan wawancara sebagai pengumpulan datanya. Sasaran objek penelitian yakni pemilik warung kopi, awak media radio/koran, tokoh publik, dan pengunjung/komunitas warung kopi. Data kepustakaan diperoleh melalui metode kepustakaan yang bersumber dari buku-buku, arsip-arsip, surat kabar, dan hasil laporan yang relevan. Penelitian ini disorot dalam perspektif kajian budaya dengan menggunakan kerangka spatio-publico sphere, yaitu pendekatan yang melihat ruang publik warung kopi baik dari kerangka public space maupun dari public sphere. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa era pascareformasi menjadi poin krusial terhadap transformasi kehidupan warung-warung kopi di Makassar. Produksi ruang dan wacana berubah dari sosio-kultural menjadi sosial politik dan ekonomi untuk konstruksi relasi kuasa atas publik Makassar. Setiap elemen publik hadir bersama-sama memproduksi ruang sosial warung kopi yang membuat warung kopi menjadi ruang politik (space of politics) sekaligus politik atas ruang (politics of space). Konsepsi ruang ketiga (thirdspace) tidak relevan lagi ketika publik Makassar memanfaatkan warung kopi sebagai tempat kerja (ruang kedua), ruang bersosialisasi membangun jaringan, pertunjukkan seni, dan kontestasi. Meskipun berfungsi ruang publik, warung kopi tetap memiliki publiknya masing-masing, yang membuatnya berada diantara ruang publik dan ruang privat sekaligus. Konsep tentang rasionalitas warung kopi dalam pembentukan opini (public sphere) tidak dapat sepenuhnya diterima melainkan telah diproduksi menjadi ruang-ruang abstrak agar reproduksi kuasa kapitalisme dan politik dominasi dan kontrol dapat terus menerus dijaga. Meskipun demikian, kontestasi atas dominasi dan komodifikasi warung kopi juga terus bermunculan yang menuntut hak atas ruang publik, baik melalui partisipasi kaum muda kritis maupun melalui warung kopi "alternatif" yang dibentuk oleh mereka yang bergelut di dunia aktivisme.

The dissertation entitle "The Dynamic of Coffeehouse as Public Space in Makassar", it discuss about how the cultural transformation and social life of coffeehouses happened in Makassar, and how the power relations shaped classification, function, and reality of space and discourse of coffeehouse as public space of Makassar city in post-reformation era. This research make use of an ethnographic approach in solving the problems with participant observation and interview as method of data collection. The objects of research are namely, the owner of coffeehouse, crew radio/journalist, public elites, coffeehouse community. The bibliographical data are obtained by using bibliographical methods which come from books, archives, newspaper, and relevant research reports. The research is focused on cultural studies research by using spatio-publico sphere as its main framework, which analyze the coffeehouse both as public space and public sphere. Result of the research shows that post-reformation era become a pivotal point in explaining transformation of social life of coffeehouses in Makassar. Interaction between space and power has changed from socio-cultural into socio-political economy for the production of power relation towards public of Makassar. Every public element presents together to forming reality of public space of coffeehouse and making coffeehouse to become space of politics and politics of space at once. The conception of Thirdplace is not relevant anymore when public of Makassar using coffeehouse as place of work (Second place) beside building network, performance space and contestation. Eventhough its main function as public space, but every coffeehouse has its own public (private visitors), and coffeehouse then be positioned into both public and private space. The concept concerning rationality of coffeehouse as public sphere in shaping public opinion is not fully accepted any longer, but it has been produced into abstract spaces in order to reproduction of capitalism power and control-domination can be maintained continously. However, contestation againts domination and commodification of the coffeehouses keep appearing that claim the right to the public space, which executed by both critical participation of the young and through an alternative coffeehouse formed by those who engaged in the world of activism.

Kata Kunci : Ruang Publik, Opini Publik, Relasi Kuasa, Produksi Ruang, Komodifikasi /Public Space, Public Opinion, Power Relations, Production of Space, Commodification

  1. S3-2019-353011-abstract.pdf  
  2. S3-2019-353011-bibliography.pdf  
  3. S3-2019-353011-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2019-353011-title.pdf