Laporkan Masalah

PENGARUH MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK DAN PERTUKARAN ATASAN-BAWAHAN TERHADAP NIAT MELAKUKAN PENGUNGKAPAN KECURANGAN: SUATU PENDEKATAN EKSPERIMEN

ASEP KURNIAWAN, Ertambang Nahartyo, M.Sc., Ph.D., CMA.

2019 | Tesis | MAGISTER SAINS AKUNTANSI

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh motivasi pelayanan publik dan pertukaran atasan-bawahan terhadap niat seorang pegawai melakukan pengungkapan kecurangan. Aparatur sipil negara memiliki peranan penting dalam melakukan pengawasan dari dalam atas setiap kecurangan yang terjadi dalam organisasi publik. Teori Prososial menyatakan bahwa orang yang terlibat dalam organisasi publik harus mampu mengutamakan kepentingan publik, salah satunya dengan pengungkapan kecurangan. Dalam kondisi lain, aktivitas pengungkapan kecurangan merupakan aktivits yang memiliki risiko. Teori Pertukaran Atasan-Bawahan menjelaskan bahwa hubungan atasan-bawahan yang baik (in-group) akan memberikan rasa aman dan nyaman pada bawahan dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawab pekerjaannya. Oleh karena itu, penting untuk menguji pengaruh antara motivasi pelayanan publik dan pertukaran atasan-bawahan terhadap niat pegawai melakukan pengungkapan kecurangan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen 2x2 antar subyek. Sebanyak 64 aparatur sipil negara yang terlibat dalam penelitian sebagai partisipan secara sukarela. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan motivasi pelayanan publik dan pertukaran atasan-bawahan tehadap niat seorang pegawai melakukan pengungkapan kecurangan. Namun tidak ditemukan bukti keberadaan pengaruh interaksi antara motivasi pelayanan publik dan pertukaran atasan-bawahan tehadap niat seorang pegawai melakukan pengungkapan kecurangan.

This study aims to examine the effect of public service motivation and leader-member exchange on an employee's intention to disclose fraud. The state civil apparatus has an important role in supervising from inside any fraud that occurs in public organizations. The prosocial theory states that people involved in public organizations must be able to prioritize public interests, one of which is disclosure of the fraud. In other conditions, fraudulent disclosure activities are risky activities. Leader-Member Exchange Theory explains that a good boss-subordinate relationship (in-group) will provide subordinates a sense of security and comfort in carrying out their work obligations and responsibilities. Therefore, it is important to examine the influence between motivation for public service and exchange of boss-subordinates to the intention of employees to disclose fraud. This research was conducted using a 2x2 experimental method between subjects. A total of 64 state civil servants were involved in research as voluntary participants. The results of this study indicate that there is a significant influence on the motivation of public service and exchange of superior-subordinate to the intention of an employee to disclose fraud. However, there is no evidence of the interaction effect between public service motivation and the leader-member exchange to the intention of an employee to disclose fraud.

Kata Kunci : fraud, whistleblow, leader-member exchange, prosocial, public service motivation

  1. S2-2019-370786-abstract.pdf  
  2. S2-2019-370786-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-370786-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-370786-title.pdf