Tangan-Tangan Kecil di Tengah Tembakau: Studi Mengenai Nilai dan Makna Anak dalam Masyarakat Petani Tembakau di Dusun Tejolopo, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah
AMRINA ROSYADA, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phil.
2019 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAMerupakan negara penghasil tembakau terbesar kelima di dunia, Indonesia kerap digambarkan oleh media sebagai pihak yang mengambil keuntungan dari tangan-tangan mungil anak-anak di ladang dan sawah tembakau. Fenomena ini telah merebut perhatian publik terutama setelah organisasi humanitarianisme internasional, seperti Human Rights Watch dan International Labour Organizations, membuat laporan pada kasus ini yang di dalamnya menyebutkan bahwa anak-anak "menderita" dan dipaksa bekerja di bawah "lingkungan yang berbahaya" Nyatanya, isu anak-anak dan pekerjaan memang merupakan sebuah isu yang kompleks. Walaupun benar membawa isu ini ke permukaan dapat menyadarkan kita akan adanya perburuhan anak di dunia, seringkali juga bahwa pendekatan humanitarian mengabaikan fakta bahwa peran dan status anak di berbagai belahan dunia serta konsep kerja yang pantas dilakukan anak tidak dapat dipukul rata. Di samping itu, cara memandang isu demikian yang tidak kontekstual terhadap budaya dan globalitas akan menyesatkan kita: contohnya mistranslasi kerja yang edukasional sebagai kerja yang eksploitatif atau pengabaian hak berkeputusan anak dalam ekonomi. Riset etnografis ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan mendasar seperti: bagaimana anak-anak dibesarkan dalam masyarakat petani tembakau? Mengapa anak-anak turut bekerja dalam pengolahan tembakau dan bagaimana mereka bekerja? Lantas, bagaimana anak-anak diberi makna dan nilai oleh orang tua mereka? Dalam riset ini, saya menggunakan pendekatan etnografi yang berpusar pada wawancara, observasi partisipatif, juga studi pustaka. Anak-anak dan orang tua dari keluarga petani tembakau akan menjadi informan utama. Pada bagian refleksi, riset ini akan meninjau kembali tarik ulur mengenai bagaimana anak-anak dilihat dari sudut pandang gerakan humanitarian yang berhaluan Barat dengan bagaimana mereka dipandang secara kultural oleh masyarakat setempat. Hasil dari riset ini diharapkan dapat memberikan pencerahan mengenai perdebatan mengenai cara dalam membesarkan anak secara kultural di berbagai belahan dunia dengan membesarkan anak melalui pendekatan universal yang dianut organisasi humanitarian. Hasil akhir dari riset ini sama sekali tidak merupakan dukungan atas praktik eksploitasi; alih-alih, ia harus dilihat sebagai cara untuk memahami bahwa anak-anak dan masa kanak-kanak di dunia tidak pernah dapat bisa didefinisikan secara tunggal.
Being the fifth largest producer of tobacco worldwide, Indonesia has been depicted in the media for taking advantages from children in numerous tobacco plantations. This phenomenon has gained worldwide attention especially after international humanitarian organizations such as Human Rights Watch and International Labour Organizations did a report on this case, saying that children "suffers" and are forced to work in "dangerous circumstances". Children and work issues have always been a very complex issue. While addressing this issue does raise awareness on the existence of child labor, more often than none that humanitarian approach to the issue sets aside the fact that children's roles and statuses as well as desirable work are defined variedly by different cultures in the world and cannot be set in a universal standard. Adding to that, an uncareful and not culturally as well as globally contextual manner to look at this very case will lead to the mistranslation of educational work as laborous work or the taking away of children's access to economic resources and decision. This ethnographic research therefore aims to answer some underlying questions such as: how are children raised in tobacco farmer society? Why did children get involved in tobacco producing process and how do they work? How are children given meaning and value by their parents? In conducting this research, I will be using ethnographic approach that mainly balances between interviews, participant observations, as well as literature reviews. Children and their parents, especially coming from tobacco farming background, will be the main informants. In the reflection part, this research offers an insight into the longstanding debate and discussion between how children are seen by the Western-leaning humanitarian organizations and how they are seen by the cultural locals. The result of this reasearch hopefully can shed a light on differences in raising children culturally in many parts of the world, as opposed to the universal approach by humanitarian organizations. The final result of this research is not at all a justification for exploitation; instead, it should be seen as a way towards understanding that children and childhood in the world can never be defined by a single way of thinking.
Kata Kunci : tembakau, anak-anak, makna anak, nilai anak, gerakan humanitarian