Laporkan Masalah

Ketahanan Pangan dan Strategi Rumah Tangga Miskin di Pulau Karimunjawa

BUDI SETIAWAN, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc.; Prof. Dr. M. Baiquni, M.A.

2019 | Disertasi | DOKTOR KEPENDUDUKAN

Pulau kecil memiliki keterbatasan dalam hal akses dan produksi bahan pangan pokok, namun pulau kecil memiliki potensi kekayaan alam dan wisata yang sangat besar, sepertinya halnya Pulau Karimunjawa. Penelitian ini bertujuan: 1) menganalisis kondisi kerentanan rumah tangga miskin di Pulau Karimunjawa; 2) menganalisis status ketahanan pangan dan variabel demografi serta sosial ekonomi yang mempengaruhi ketahanan pangan; dan 3) Menganalisis strategi bertahan hidup pada rumah tangga miskin di Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed methods. Penelitian ini merupakan suatu langkah penelitian dengan menggabungkan dua bentuk penelitian yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian ini akan memadukan metode studi kasus dan survai. Secara khusus, metode studi kasus akan menjawab pertanyaan penelitian mengapa kerentanan dan kerawanan pangan terjadi di Pulau Karimunjawa dan bagaimana strategi bertahan hidup rumah tangga miskin di Pulau Karimunjawa. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor mempengaruhi dalam ketahanan pangan di Pulau Karimunjawa maka dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan metode survai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rumah tangga di Pulau Karimunjawa telah mampu memenuhi kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan). Namun, baik di tingkat komunitas maupun rumah tangga, aset terkait produktivitas sangat minim, yang ini menghasilkan situasi 'kemiskinan aset produksi'. Pada konteks kerentanan wilayah di Pulau Karimunjawa terdiri dari tren dan musiman. Tren mencakup 1) peningkatan jumlah wisatawan; 2) peningkatan pembangunan infrastruktur; 3) Ketimpangan akses ke kegiatan yang menghasilkan pendapatan; 4) Tingginya permintaan dan berkurangnya produksi ikan. Berdasarkan metode Household Food Insecurity Assessment Survey (HFIAS), sebagian besar rumah tangga miskin Karimunjawa memiliki status tahan pangan (53,3%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa di Pulau Karimunjawa tidak hanya strategi coping dan adaptasi yang digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan, namun ketahanan sosial ekonomi menjadi faktor yang sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan. Ketahanan sosial ekonomi yang teridentifikasi di masyarakat Karimunjawa adalah transformasi sosial ekonomi, penghidupan ke sektor pariwisata, promosi keunikan "lokal" dan promosi modal sosial "ngalay nyaur".

Small islands have limitations in terms of access to and production of staple food, but small islands have enormous potential for natural wealth and tourism, it seems like Karimunjawa Island. This study aims: 1) analyze the vulnerability conditions of poor households on Karimunjawa Island; 2) analyze the status of food security and demographic and socio-economic variables that affect food security; and 3) analyzing survival strategies for poor households in Karimunjawa. The method used in this study is mixed methods. This research is a research step by combining two forms of research, namely qualitative research and quantitative research. This research will integrate case study and survey methods. In particular, the case study method will answer the research question why food vulnerability and vulnerability occur on Karimunjawa Island and how the strategies for surviving poor households on Karimunjawa Island. To identify the influencing factors in food security on Karimunjawa Island, a quantitative approach was used with survey methods. The results of this study indicate that households on Karimunjawa Island have been able to fulfill basic needs (food, clothing, shelter). However, at both the community and household levels, productivity-related assets are very minimal, which results in a 'production asset poverty' situation. In the context of vulnerability the area on Karimunjawa Island consists of trends and seasonality. Trends include 1) increased number of tourists; 2) increasing infrastructure development; 3) Inequality of access to income-generating activities; 4) High demand and reduced fish production. Based on the Household Food Insecurity Assessment Survey (HFIAS) method, the majority of poor households in Karimunjawa have food security status (53.3%). This study concluded that on Karimunjawa Island not only coping and adaptation strategies were used to improve food security, but socio-economic resilience became a very important factor to improve food security. The socio-economic resilience identified in the Karimunjawa community is socio-economic transformation, livelihood to the tourism sector, local "uniqueness" promotion and promotion of social capital "ngalap nyaur".

Kata Kunci : ketahanan pangan, rumah tangga miskin, coping, adaptasi, ketahanan pangan, Karimunjawa.

  1. S3-2019-352703-abstract.pdf  
  2. S3-2019-352703-bibliography.pdf  
  3. S3-2019-352703-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2019-352703-title.pdf