Laporkan Masalah

PERBANDINGAN EFEKTFVITAS PENERAPAN METODE UNIFORM SYSTEMATIC SAMPLING DAN POINT SAMPLING UNTUKINVENTARISASITEGAKAN TUSAM (Studi Kasus di RPH Kemiri, BKPH Parworejo, KPH Keda Selatan)

BAROROH WISTA ANGGRAENI, Djoko Suhamo Radite

2002 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Untuk mengatasi beberapa kesulitan pembuatan PU di lapangan dengan metode Uniform Systematic Sampling terdapat altematif metode inventarisasi hutan yang lain yaitu dengan metode Point Sampling, terutama pada tegakan tusam yang berada pada kondisi topografi yang beragam. Berdasarkan hal itu, tujuan penelitian ini adalah membandingkan kedua metode tersebut supaya dapat diketahui metode yang efektif. Dengan metode USS, dari penelitian ini juga dapat dilakukan pemilihan nilai IS dengan mengetahui hubungan antara presisi dan IS. Sedangkan dengan Point Sampling dapat digunakan untuk mengetahui nilai BAF yang lebih cermat pada berbagai tingkat kelas umur tegakan. Pertimbangan nilai CV, P, Cl; dengan metode USS untuk mengetahui IS yang sesuai dengan kecermatan yang diperlukan, pada Point Sampling dapat digunakan untuk mengetahui nilai BAF yang mempunyai kecermatan paling baik. Perbandingan Lbds/ha dan N/ha kedua metode yang dilakukan dengan uji T, waktu rata-rata, keperluan tenaga pelaksana lapangan, dan tingkat kecermatan dilakukan untuk mengetahui metode mana yang lebih efektif di antara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inventarisasi tegakan tusam di RPH Kemiri pada KU muda lebih efektif menggunakan metode USS dan pada KU tua dengan Point Sampling karena uji T Lbds/ha dan N/ha kedua metode pada KU muda diperoleh hasil yang berbeda nyata dan pada KU tua tidak berbeda nyata. Selain itu dengan 4 tenaga pelaksana, 1 regu keija metode USS; pada KU muda dapat dibuat 17 PU/hari selama 17:31 menit/PU, KU tua 9 PU/hari selama 30:47 menit/PU. Dengan 2 tenaga pelaksana, 1 regu kerja Point Sampling dapat dibuat; 54 titik sampel/hari selama 5:30 menit/titik sampel pada KU muda, dengan KU tua 49 titik sampel/hari selama 6:04 menit/titik sampel. Dengan USS; IS 10% pada KU muda dan 20% untuk KU tua diperoleh kecermatan sampling yang lebih baik daripada; IS 5%, 2,5%, 1,25% dan 10%, 5%, 2,5%. Dengan 15 titik sampel pada Point Sampling, BAF 1 lebih sesuai untuk inventarisasi tegakan tusam KU muda dan BAF 4 untuk KU tua.

Kata Kunci : Metode Inventarisasi Hutan, Efektif, Tegakan Tusam

  1. S1-FKT-2002-106558-abstract.pdf  
  2. S1-FKT-2002-106558-bibliography.pdf  
  3. S1-FKT-2002-106558-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FKT-2002-106558-title.pdf