Laporkan Masalah

KEANEKARAGAMAN JENIS TANAMAN BERKAYU PENYUSUN PEKARANGAN DI DAERAH PERSAWAHAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA ( Studi Kasus di Kecamatao Ngaweo, Gunung Kidul )

TEGUH SETYAJI, Moch. Sambas Sabarnurdin, Soewarno Hasanbahri

1994 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Tingginya laju konversi lahan produktip menjadi pemukiman maupun areal usaha, menyebabkan makin turun nya kemampuan (produktifitas) lahan sebagai penghasil kebutuhan pokok manusia. Sementara kebutuhan manusia, seiring dengan pertumbuhan jumlah manusia itu sendiri, semakin bertambah dalam jumlah maupun kualitanya. Keadaan tersebut memaksa manusia untuk mengeksploitasi lahan < yang makin terbatas luasnya) secara habis-habisan. Eksploitasi lahan yang tidak mengindah kan kaidah-kaidah konservasi akan banyak menimbulkan kerugian. Bangsa Indonesia sebagai bangsa agraris sebenarnya telah memiliki pola-pola pengelolaan lahan yang mampu menjaga aspek-aspek kelestarian dan ekologisnya, yang sekarang ini lebih dikenal dengan istilah agroforestry. Salah satu bentuk agroforestry di Indonesia adalah pekarangan. Pekarangan, disamping sebagai sumber pemasok kebutuhan sehari-hari, juga merupakan suatu bentuk usaha menyesuaikan dan menjaga keseimbangan alamsekitar. Pekarangan di daerah persawahan banyak dipenuhi tanaman berkayu tahunan dengan beraneka ragam jenisnya, yang merupakan hasil interaksi faktor-faktor biofisik, sosial budaya, sosial ekonomi serta kebutuhan dasar pemiliknya. Dalam penelitian terdahulu oleh Sudaryanto (1993), kelapa dan bambu (yang semestinya merupakan tanaman inti penyusun pekarangan) tidak dimasukkan sebagai bagian dari keanekaragaman jenis tanaman berkayu penyusun pekarangan. Hal tersebut ternyata menimbulkan perbedaan yang cukup besar terhadap variabel variabel yang mempengaruhi terbentuknya keanekaragaman jenis tanaman berkayu penyusun pekarangan bila keanekaragaman tersebut ditinjau secara menyeluruh. Keadaan tersebut kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan bila suatu jenis tanaman akan di konversi dari pekarangan. Kelapa dan bambu meskipun secara ekonomis dianggap kurang menguntungkan, namun secara tradisi keduanya bisa dikatakan tidak dapat dilepasakan dari kehidupan sehari-hari petani maupun masayarakat desa pada umumnya.

Kata Kunci : Agroforestry, keanekaragaman, tanaman berkayu

  1. S1-FKT-1994-67073-abstract.pdf  
  2. S1-FKT-1994-67073-bibliography.pdf  
  3. S1-FKT-1994-67073-tableofcontent.pdf