Laporkan Masalah

PERKEMBANGAN KERUSAKAN BATANG POKOK JATI (Tectona grandis L.f.j PADA BEBERAPA KELAS UMUR MUDA DI KPH KENDAL DAN KPH PATI

ETIK ERNA WATI H., Sumardi, SM Widyastuti

2002 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Pengelolaan hutan jati dewasa ini raakin dituntut untnk dapat meningkatkan produktivitas. Hutan jati tidak saja harus menghasilkan produk yang tinggi dalam hal jumlah, akan tetapi harus menghasilkan kayu yang berkualitas. Kualitas produk hutan jati ditentukan oleh kualitas batang pokok bebas cabang. Pada kenyataannya masih banyak dijumpai adanya cacat-cacat dan kerusakan pada batang jati terutama pada batang pokoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi cacat dan kerusakan yang terdapat pada tanaman jati sampai umur 15 taliun dan mengetahui pengaruh penjarangan dalam mengeliminasi cacat dan kerusakan. Tegakan sampel berupa tegakan muda sampai dengan umur 15 tahun, khususnya petak-petak yang telah dilakukan penjarangan (tahun berjalan) pada saat dilakukan penelitian. Cacat dan kerusakan diperhitungkan bila oleh karena lokasi dan severitasnya akan mempengaruhi pertumbuhan atau kualitas batang selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacat-cacat yang dominan pada batang pokok jati antara lain berupa kanker dan luka, batang patah, kematian tunas pucuk dan pembengkokan. Peran penjarangan terhadap status kerusakan sangat bervariasi, pada beberapa tempat berperan menurunkan adanya cacat dalam tegakan, tetapi justru dapat meningkatkan cacat pada tempat yang lain. Pada lokasi tertentu kerusakan pada batang pokok masih dijumpai dan bahwa intensitasnya semakin tinggi walaupun tegakan tersebut sudah dipelihara melalui pelaksanaan penjarangan. Pelaksanaan penjarangan awal di Boja dapat menurunkan adanya kerusakan, meskipun pada frekuensi penjarangan 5 kerusakan meningkat. Sedangkan di Klumobangsri kemsakan meningkat dengan adanya pelaksanaan penjarangan, dan pada penjarangan 5 kali persentase kerusakan tercatat menurun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan tegakan muda melalui penjarangan yang dilakukan pada kedua daerah penelitian beliun seluruhnya dapat meningkatkan kualitas tegakan.

Teak forest management has been recently facing a challenge of increased produktivity. Teak plantation should produce not only high quantity but also high quality of timber. Timber quality of teak plantation is mostly determined by the incidence of damage on the bole of trees. In the field, teak forest is very common suffering from variety of damages particularly those occurred on the bole. The experiment aimed to identify and evaluate the incidence of damage on young teak forests, particularly those of the boles. Samples of stand were those less than 15 years, and in particular those where thinning was applied in the same year when the experiment was done. Damages were assessed when by definition the location and severity influence the future development of trees. Results showed that dominant damages were mainly consisted of cancer and open wound, broken stem, dead of apical dominance and bent of stem. The role of the thinning on the occurance of damages varied either lowered the frequency in one spesific location but not in the other locations. Early thinning application in Boja forest district lowered the incidence of damades, although at the 5lh thinning application the damages increased. In Klumobangsri forest district the incidence of damages increased by the thinning frequency, and at the 5th thinning application decreased damage percentage was noted. It was concluded that the application of thinning in both location were still unable to increase stand quality.

Kata Kunci : cacat/ kerusakan. jati. penjarangan

  1. S1-FKT-2002-113778-abstract.pdf  
  2. S1-FKT-2002-113778-bibliography.pdf  
  3. S1-FKT-2002-113778-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FKT-2002-113778-title.pdf