ANALISIS JENDER DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT (Studi Kasus di Ds. Pecekelan, Kec. Sampuran, Kab. Wonosobo)
Yanti Dwisulistyo Rahayu, San Afri Awang
2002 | Skripsi | S1 KEHUTANANHutan rakyat merupakan satu bentuk pengelolaan hutan yang memposisikan masyarakat sebagai objek sekaligus subjek di dalamnya. Pembangunan hutan rakyat telah memberikan angin segar bagi pembangunan hutan, namun demikian perempuan sebagai anggota masyarakat masih belum sepenuhnya berada sebagai subjek. Perempuan sebagai anggota masyarakat masih mengalami diskriminasi dalam pengelolaan hutan rakyat. Hal itu terjadi karena adanya stereotipe bahwa perempuan itu lemah, sedangkan pekerjaan kehutanan adalah pekerjaan yang memerlukan kekuatan. Stereotipe tersebut mengakibatkan adanya ketidakadilan jender dalam pengelolaan hutan rakyat. Berdasar kenyataan tersebut penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui persepsi masyarakat secara umum terhadap hutan rakyat, dan (2) Mengetahui aktifitas kerja dan kontribusi peran perempuan dan laki-laki di bidang produktif, reproduktif dan sosial budaya berdasarkan pembagian jender. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pengumpulan data melalui wawancara dan pengisian kuesioner. Ketidakadilan jender dapat diketahui dengan melakukan analisis jender. Penelitian ini menggunakan metode analisis Harvard atau Gender Framework Analityca yang terdiri dari tiga elemen yaitu: (1) profil aktifitas, (2) profil akses dan kontrol, dan (3) faktor-faktor yang beipengaruh terhadap pembagian peran berdasar jender. Hutan rakyat bagi masyarakat desa Pecekelan merupakan pekerjaan laki laki, perempuan hanya mengelola hasilnya. Perempuan tidak sesuai dengan pekerjaan kehutanan yang diidentikkan dengan kekuatan. Hasil yang dikelola perempuan juga terbatas pada tanaman selain kayu. Berdasarkan pembagian jender dalam pengelolaan hutan rakyat, rata-rata kontribusi laki-laki dalam pekerjaan produktif (penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pasca panen, dan petemakan) adalah 74,86% dan perempuan 24,66%. Dalam pekerjaan reproduktif kontribusi laki-laki sebesar 44,64% dan perempuan 64,95%, sedangkan dalam kegiatan sosial budaya laki-laki 46,94% dan perempuan 53,06%. Kondisi tersebuut menunjukkan adanya peran ganda pada laki-laki dan perempuan, yang tidak diikuti dengan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mengembanmgkan diri dalam kegiatan pengelolaan hutan rakyat.
Kata Kunci : Hutan rakyat, jender