ANALISIS BIAYA USAHA PERLEBAHAN (Studi Kasus : UP3 Regaloh, KPH Pati PT. Perhutani (Persero) Unit I Jawa Tengah)
ADI KUNARSO, Siswantoyo Dipodiningrat, Soemardi
2002 | Skripsi | S1 KEHUTANANIndonesia mempunyai potensi untuk pengembangan usaha perlebahan karena dari segi kekayaan alamnya berupa tanaman bunga maupun berbunga serta beberapa jenis lebah madu lokal yang ada. Keberhasilan usaha perlebahan ditentukan dari berbagai faktor meliputi jenis lebah madu yang diusahakan, ketersediaan tanaman pakan lebah , pemeliharaan, kemampuan tenaga pengelola, serta permodalannya. Namun demikian usaha perlebahan di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya adalah produksinya yang rendah. Rendahya produksi tersebut menyebabkan beban biaya yang harus ditanggung perusahaan menjadi besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besamya produksi madu di UP3 Regaloh, struktur biaya produksi, serta jumlah dan biaya produksi untuk mencapai keadaan break even point, dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan metode pendekatan dengan pengamatan langsung kegiatan di UP3 Regaloh serta wawancara dengan pihak pihak terkait, guna mengumpulkan data-data mengenai jumlah produksi, jenis jenis pekerjaan, biaya yang dikeluarkan tiap jenis pekeijan, kebutuhan tenaga kerja, peralatan usaha perlebahan, serta data-data lainnya. Data-data berupa biaya dikelompokkan dalam tiap jenis pekerjaan dan digolongkan kedalam jenis biaya tetap dan biaya variabel, kemudian untuk mengetahui hubungan antar biaya-biaya, jumlah produksi, serta laba/ rugi dilakukan analisis break even point. Dari hasil perhitungan dan analisis diketahui bahwa rata-rata produksi madu sebesar 6.119,70 kg/tahun, beban biaya produksi pertahun sebesar Rp. 16.010,93/kg. Biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. 16.844,15/kg (42,70%), serta biaya variabel sebesar Rp. 9.166,75/kg (57,30%). Biaya variabel meliputi biaya stimulan, upah tenaga kerja langsung, migratory, sewa lokasi angon, pengasapan, pembelian obat-obatan, biaya panen, serta biaya prosesing. Keadaan break even point rata-rata terjadi pada produksi madu sebesar 15.194 ,66 kg. Dengan demikian usaha perlebahan yang dijalankan UP3 Regaloh mengalami kerugian yang besarnya ±Rp. 24.514.891,67/tahun.
Kata Kunci : usaha perlebahan, biaya produksi, break even point