ANALISIS MODAL KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU (Studi Kasus di IPK PT. INHUTANI I Gresik, Jawa Timur)
FAHRURRAZI YUS, Siswantoyo
2002 | Skripsi | S1 KEHUTANANKelangsungan hidup sebuah perasahaan menuntut adanya kelancaran operasi dan produksi yang dalam prakteknya sangat ditentukan oleh adanya jaminan dana operasional atau modal kerja. Oleh karena itu perusahaan harus mampu mengelola modal kerjanya secara tetap dengan cara membuat perhitungan yang cermat tentang kebutuhan modal kerja, termasuk kebijaksanaan dalam penggunaan dan pengalokasian jumlah modal kerja yang optimal sehingga menjamin kelancaran operasi dan produksi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe-tipe modal kerja, periode perputaran dan jumlah kebutuhan masing-masing modal kerja serta efisiensi penggunaan modal kerja di IPK PT. INHUTANI I Gresik. Data yang dikumpu'kan berupa data sekunder selama dua tahun (1998 - 1999) yang meliputi aliran kas setiap bulan, data persediaan dan data-data lain yang dianggap perlu. Analisis data dilakukan secara kuantitatif menggunakan analisis rasio aktivitas dan analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di IPK PT. INHUTANI I Gresik terdapat dua tipe modal kerja yaitu modal kerja perrnanen yang terdiri dari modal kerja primer dan modal kerja normal serta modal kerja variabel yang terdiri dari modal kerja musiman dan modal kerja darurat. Tahun 1998 dan 1999 periode rata-rata perputaran modal kerja primer masing-masing adalah 0,13 dan 0,12 bulan dengan jumlah rata-rata kebutuhan modal keija primer Rp. 9.522.956 dan Rp. 11.064.578. Untuk modal kerja normal pada tahun 1998 dan 1999 periode rata-rata perputaran moual kerjanya masing-masing adalah 9,34 dan 8,85 bulan dengan jumlah rata-rata kebutuhan modal kerjanya Rp. 8.009.836.604 dan Rp. 10.857.644.550. Untuk modal kerja musiman pada tahun 1998 dan 1999 periode rata-rata perputaran modal kerjanya masing-masing adalah 7,7 dan 7,61 bulan dengan rata-rata jumlah kebutuhan modal kerjanya Rp. 4.410.696.588 dan Rp. 6.566.014.389. Sedangkan periode rata-rata perputaran modal kerja darurat pada tahun 1998 dan 1999 masing-masing adalah 9,34 dan 8,85 bulan dengan jumlah rata-rata kebutuhan modal kerja sebesar Rp. 1.047.725.976 dan Rp. 1.139.158.655. Penggunaan modal kerja di IPK PT. INHUTANI I Gresik masih belum efisien. Hal ini tampak dari adanya perbedaan antara jumlah modal kerja ideal dengan jumlah modal kerja aktual. Pada tahun 1998 modal kerja kotor aktual Rp. 6.862.654.087 sedangkan modal kerja ideal Rp. 4.452.113.119, atau terjadi kenaikan modal kerja sebesar 54 %. Sedangkan pada tahun 1999 modal kerja kotor aktual Rp.8.713.399.504 dan modal kerja idealnya sebesar Rp. 7.515.763.419 (terjadi kenaikan sebesar 16 %).
Kata Kunci : Modal Kerja, efisiensi, periode perputaran