Laporkan Masalah

PERTUMBUHAN Pinus merkusii JUNGH.et de VRIESE HASIL INFUSI GENETIK DARI POPULASI ALAM BLANGKEJEREN DAN TAKENGON UMUR 4 TAHUN DI SEMPOLAN, JEMBER, JAWA TIMUR

YENNI WULANDARI, Ir. W. W. Winami , M.P., Ir. Sri Danarto, M. Agr.

2002 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Pinus merkusii Jungh. et de Vriese (tusam) merupakan satu-satunya Pinus yang tumbuh alami di Indonesia yaitu di Sumatera yang dikelompokkan menjadi provenan Aceh, Tapanuli dan Kerinci. Tusam yang ada di Jawa masih mempunyai kualitas yang kurang baik yaitu batangnya kebanyakan bengkok-bengkok, sehingga diperlukan tindakan pemuliaan. Tindakan pemuliaan yang diambil adalah dengan infusi genetik dengan menanam tusam dari populasi alaminya yaitu dari Aceh, dengan sumber benih Blangkejeren dan Takengon, dengan maksud untuk memperluas basis genetik tusam yang ada di Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan tumbuh tusam asal Blangkejeren dan Takengon di Jember, mengetahui pertumbuhan tinggi, keliling, foxtail, batang menggarpu, buah dan bunga, mengetahui nilai heritabilitas dan korelasi genetik. Penelitian dilaksanakan di Petak 31, RPH Sumberjati, KPH Jember. Bahan penelitian yang digunakan adalah pertanaman uji keturunan Pinus merkusii Jungh. et de Vriese tahun tanam akhir 1996, yang merupakan hasil eksplorasi benih dari Blangkejeren dan Takengon. Parameter yang diukur adalah persen kematian, tinggi, keliling, frekuensi foxtail, batang menggarpu, tingkat kemasakan buah dan persentase bunga jantan dan betina. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan tidak lengkap berblok (Incomplete Block Design), sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan program Genstat. Hasil pengukuran persen kematian, tinggi rata-rata, keliling rata-rata, skor frekuensi foxtail rata-rata, skor batang menggarpu rata-rata, skor tingkat kemasakan buah rata-rata, persentase bunga jantan dan betina untuk Blangkejeren berturut-turut adalah 35,59%; 6,86 m; 44,58 cm; 2,05; 5,15; 3,05; 8,3% dan 70,9%, sedangkan untuk Takengon berturut-turut adalah 32,59%; 7,025 m; 43,13 cm; 1,84; 4,82; 3,50; 21,98%; dan 93,4%. Analisis dari hasil pengukuran parameter-parameter tersebut di atas, untuk Blangkejeren semuanya berbeda nyata kecuali tinggi, sedangkan untuk Takengon semuanya berbeda nyata kecuali keliling dan batang menggarpu.

Kata Kunci : Pinus merkusii, infusi genetik, Blangkejeren, Takengon

  1. S1-FKT-2002-106595-abstract.pdf  
  2. S1-FKT-2002-106595-bibliography.pdf  
  3. S1-FKT-2002-106595-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FKT-2002-106595-title.pdf