Laporkan Masalah

PREVALENSI NYERI LEHER PADA PEMBATIK DI KECAMATAN LENDAH, KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Fandy Rachmad Dewantoro, Dr. dr. Cempaka Thursina Srie Setyaningrum, Sp.S(K) ; Prof. Dr. dr. Sri Sutarni, Sp.S(K)

2019 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN

Latar Belakang: Nyeri leher merupakan keluhan yang semakin umum di Indonesia. Morbiditas nyeri leher yang cukup signifikan dapat menurunkan kualitas hidup penderita. Terdapat beberapa faktor yang dapat mencetuskan kejadian nyeri leher, salah satunya ialah faktor pekerjaan. Tiga puluh persen pekerja usia 25-29 tahun dan 50% pekerja usia lebih dari 45 tahun mengeluhkan satu atau lebih kejadian baik itu nyeri leher maupun kekakuan leher. Pembatik adalah salah satu pekerja yang berisiko terhadap kejadian nyeri leher. Batik merupakan warisan budaya asli Indonesia. Sentra batik yang cukup terkenal di Indonesia dan merupakan salah satu sentra terbaik di area Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah adalah sentra batik di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo. Nyeri pada leher dapat timbul apabila pembatik khususnya bagian mencanting melakukan pekerjaannya dengan postur yang salah dan posisi yang kurang ergonomis secara terus-menerus. Proses mencanting juga memerlukan kejelian dan ketelitian yang menuntut pembatik untuk lebih menunduk saat duduk dalam jangka waktu yang cukup lama. Hingga saat ini belum pernah dilakukan penelitian terkait prevalensi nyeri leher pada pembatik sehingga perlu dilakukan penelitian guna mengetahui prevalensi kejadian nyeri leher pada pembatik di Indonesia khususnya di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo. Tujuan: Mengetahui besar prevalensi nyeri leher pada pembatik di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Besar sampel ditentukan dari besar populasi terjangkau dan teknik pengambilannya menggunakan purposive sampling. Dari besar populasi terjangkau sebanyak 60 orang, didapatkan besar sampel sebanyak 47 orang. Data yang didapatkan berupa data primer dan diambil dengan melakukan anamnesis spesifik terkait nyeri leher, pengukuran skala nyeri Visual Analog Scale (VAS), dan pengisian kuesioner Neck Disability Index (NDI) versi Bahasa Indonesia. Hasil yang terkonfirmasi positif terhadap kejadian nyeri leher ditentukan berdasarkan hasil positif pada masing-masing poin kriteria di atas. Hasil: Terdapat sebanyak 24 orang (51,1%) dengan hasil positif nyeri leher dari sampel sebanyak 47 orang (100%). Kejadian nyeri leher tertinggi terdapat pada pembatik perempuan, pembatik berusia >45-55 tahun, pembatik dengan pendidikan terakhir rendah (SD), pencanting dengan sikap kerja duduk dan membungkuk, durasi kerja yang lama (≥6 jam/hari) dan masa kerja yang lama (>5 tahun). Simpulan: Terdapat kejadian nyeri leher pada pembatik di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo dengan prevalensi sebesar 51,1%.

Background: Neck pain is an increasingly common complaint in Indonesia. Significant morbidity of neck pain can reduce quality of life of patients. There are several factors that can trigger the incidence of neck pain, one of which is occupational factor. Thirty percent of workers aged 25-29 years and 50% of workers over the age of 45 complain one or more occurrences, both neck pain and neck stiffness. Batik workers have occupational risk for developing neck pain. Batik itself is an indigenous cultural heritage of Indonesia. The batik center which is quite well known in Indonesia and is one of the best centers in the area of Special Region of Yogyakarta and Central Java is the batik center located in Lendah Subdistrict, Kulon Progo Regency. Pain in the neck can arise if the batik workers do their work with the wrong posture and less ergonomic position continuously. The process of canting also requires carefulness and precision which forces them to look down while sitting for a long period of time. Until now no research has been conducted regarding the prevalence of neck pain in batik workers in Indonesia. Objective: Knowing how much the prevalence of neck pain in batik workers in Lendah Subdistrict, Kulon Progo Regency, Special Region of Yogyakarta. Method: This research is a descriptive study with cross sectional design and conducted in Lendah Subdistrict, Kulon Progo Regency, Special Region of Yogyakarta. The sample size was determined from the accessible population size and the sampling technique used in this research was purposive sampling. From accessible population size of 60 people, it was obtained a sample size of 47 people. The data was obtained in the form of primary data and collected by performing a specific history taking or anamnesis related to neck pain, measuring the pain using Visual Analog Scale (VAS), and filling the Indonesian version of Neck Disability Index (NDI) questionnaire. Confirmed positive results for the occurence of neck pain were determined based on the positive results in each of the criteria above. Result: There were 24 people (51.1%) with positive results of neck pain from total sample of 47 people (100%). The highest prevalence of neck pain in batik workers were in female workers, age >45-55, batik workers with low education (elementary school), canting workers with sitting position and bending postures, long daily working duration (≥6 hours/day) and long working period (> 5 years). Conclusion: There were occurences of neck pain in batik workers in Lendah Subdistrict, Kulon Progo Regency with the prevalence of 51.1%.

Kata Kunci : prevalence, neck pain, batik workers, batik, Lendah, Kulon Progo

  1. S1-2018-377936-abstract.pdf  
  2. S1-2018-377936-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-377936-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-377936-title.pdf