POLITIK PERLAWANAN PEREMPUAN NU ALTERNATIF (Studi Praxis Perempuan NU Jember Melawan Kekerasan)
LINDA DWI ERIYANTI, Prof. Dr. Mohtar Mas'oed, MA
2019 | Disertasi | DOKTOR ILMU POLITIKDisertasi ini tentang politik perlawanan perempuan, yang ditelusuri melalui praxis politik perempuan NU sehari-hari di forum-forum informal (everyday life politics). Fokus utama disertasi ini adalah pada isu kekerasan, yakni, bagaimana perempuan NU melawan kekerasan dan penindasan yang dialaminya sehari-hari. Pertanyaan yang diangkat adalah (1) apa pemikiran politik perempuan NU Non mainstream? Bagaimana pemikiran tersebut berkembang? Mengapa pemikiran ini muncul? (2) Bagaimana pemikiran non mainstream berkontestasi dengan pemikiran mainstream? Mengapa kontestasi tersebut terjadi? Dengan menggunakan konsepsi dari Johan Galtung tentang kekerasan, juga perspektif feminis radikal dan postmodern, penulis menggambarkan fenomena kekerasan yang dialami oleh perempuan. Sedangkan untuk melihat hubungan kekuasaan yang melingkupi kemunculan pemikiran non mainstream, penulis menggunakan pendekatan politik informal yang membantu menjelaskan fenomena politik mikro berupa perlawanan-perlawanan yang dilakukan perempuan dalam upaya membebaskan diri dari penindasan. Lebih jauh, kontestasi diantara kedua tradisi pemikiran yang berbeda ini dijelaskan dengan genealogi Foucaultian. Menurut penulis, jawaban atas pertanyaan diatas adalah perempuan NU non mainstream memaknai kekerasan dengan cara tidak tunggal, bersifat spasial dan atomizing. Pemikiran mainstream dan non mainstream berkontestasi dalam hal memaknai dan memberikan solusi atas kekerasan yang dialami perempuan. Keduanya berkontestasi dalam ruang yang sama, yakni dengan memberikan arti penting kepada subyek perempuan, memanfaatkan forum-forum informal, dan membangun solidaritas di kalangan perempuan. Dengan demikian penulis tidak setuju bahwa hanya ada tafsir tunggal terhadap kekerasan seperti halnya yang selama ini dipahami oleh pemikiran mainstream yang melihat kekerasan sebagai hal yang bisa didefinisikan secara pasti, dirasakan secara sama, dimana semua perempuan akan berpotensi mengalami kekerasan dimanapun mereka berada. Penulis juga tidak setuju dengan pemikiran yang menganggap perempuan adalah obyek penindasan yang tidak mampu melawan dan harus diberdayakan dengan cara tertentu agar bebas dari penindasan dan kekerasan tersebut.
This dissertation is about the politics of women's resistance, which is traced through everyday NU women's political praxis in informal forums (everyday life politics). The focus of this dissertation is on the issue of violence, namely, how NU women fight the violence and oppression they experience daily. The questions raised are (1) what is the political thinking of NU Non-mainstream women? How do these thoughts develop? Why did this thought arise? (2) How do nonmainstream thoughts contradict mainstream thinking? Why did the contestation occur? By using Johan Galtung's conception of violence, also radical and postmodern feminist perspectives, the author describes the phenomenon of violence experienced by women. Whereas to see the power relations that surround the emergence of non-mainstream thinking, the author uses an informal political approach that helps explain the micro-political phenomenon in the form of resistance carried out by women to free themselves from oppression. Furthermore, this contestation between the two different traditions of thought is explained by the Foucaultian genealogy. According to the author, the answer to the question above is that non-mainstream NU women interpret violence in a non-singular, spatial and atomizing manner. Mainstream and non-mainstream thinking contest in terms of interpreting and providing solutions to violence experienced by women. Both are contested in the same space, namely by giving importance to female subjects, utilizing informal forums, and building solidarity among women. Thus, the author does not agree that there is only a single interpretation of violence as well as what has been understood by mainstream thinking that sees violence as something that can be defined definitively, felt equal, where all women will potentially experience violence wherever they are. The author also disagrees with the idea that women are objects of oppression that are unable to fight and must be empowered in certain ways to be free from oppression and violence.
Kata Kunci : Politik perlawanan, perempuan NU, kekerasan/ political resistance, NU Women, Violence