ANALISIS BIAYA PENGUSAHAAN HUTAN JATI (STUDI KASUS Dl BAGIAN HUTAN NGANDONG, KPH NGAWI, PROPINSI JAWA TIMUR)
Lembah Wahyu Prihanto, Siswantoyo
1995 | Skripsi | S1 KEHUTANANSalah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkat kan keuntungan suatu perusahaan adalah dengan mengelola kegiatan produksi, khususnya biaya produksi secara efisien. Untuk itu, penguasaan informasi mengenai aspek biaya pro¬ duksi sangat penting. Dengan informasi tersebut dapat dike tahui antara lain biaya produksi yang harus dikeluarkan dibandingkan dengan jumlah produk yang dihasilkan, serta tindakan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisi ensi biaya produksi di perusahaan tersebut. Hal ini juga berlaku bagi KPH Ngawi sebagai bagian dari BUMN yang menge ¬ lola sumber daya hutan, khususnya hutan jati di wilayah Ngawi dan sekitarnya. Studi ini akan membahas mengenai biaya produksi yang dikeluarkan dalam pengusahaan hutan jati dalam satu unit produksi. Secara khusus studi ini bertujuan untuk mengeta hui besarnya biaya pelaksanaan kegiatan serta biaya yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan tersebut per meter kubik hasil di salah satu unit produksi di KPH Ngawi. Berdasarkan hal itu, maka dapat dilakukan analisis lebih lanjut mengenai besarnya biaya pengusahaan hutan jati per meter kubik hasil di KPH Ngawi. Sebagaimana diketahui, hingga saat ini studi mengenai analisis biaya pengusahaan hutan jati, khususnya biaya produksi yang harus dikeluarkan per satuan volume hasil, belum banyak dilakukan. Untuk itu, studi ini dapat menyumbang informasi dan data yang berkaitan dengan hal tersebut. Untuk mewujudkan tujuan di atas, maka penelitian dilakukan di bagian hutan yang memiliki seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pengusahaan hutan jati. Sehingga dengan keadaan tersebut, analisis yang dilakukan tidak hanya berlaku di Bagian Hutan yang dijadikan sampel, namun juga dapat menggambarkan kondisi di tingkat KPH. Berdasarkan kriteria tersebut ditentukan Bagian Hutan Ngandong sebagai unit analisis. Metode yang digunakan adalah metode analisis statistik dari biaya waktu lalu, dengan menggunakan data pelaksanaan lapangan kegiatan pada tahun 1990, 1991, dan 1992. Berdasarkan data tersebut maka dilakukan analisis untuk mengetahui biaya pengusahaan hutan per volume hasil hutan per tahun. Dari hasil analisis diketahui, bahwa biaya pengusaha ¬ an hutan untuk per satuan hasilnya (Rp 96.801,10) relatif rendah dibanding dengan harga jual, yang per satuan hasil nya sebesar (Rp 281.690,00). Hal ini tentunya mencerminkan produktifitas KPH Ngawi, yang mana dapat tergolong perusahaan yang produktif. Adapun penggunaan biaya pengusahaan itu sendiri adalah sebagai berikut : Rp 47.604,88 /m3/th atau 49,18% diperuntukkan pelaksanaan langsung, dan Rp 49.196,30/m3/th atau 50,82% diperuntukkan belanja umum, untuk produksi, maka dapatlah dikatakan bahwa pengusahaan hutan jati belum bekerja secara efisien.
Kata Kunci : Biaya produksi, hutan jati