Etnosemantik Nama-nama Makanan Khas Belanda
LIDWINA CHASTITY M Y, Dr. Hayatul Cholsy, S.S., M.Hum.
2019 | Tesis | MAGISTER LINGUISTIKSetiap suku bangsa tertentu memiliki kosakata khusus untuk menamai benda atau hal yang dianggap penting bagi budayanya. Variasi kosakata tersebut bergantung pada keadaan alam dan kebiasaan hidup masyarakat. Sebagai sumber energi bagi manusia, makanan dapat mencerminkan budaya suatu masyarakat. Untuk mengetahuinya, analisis etnosemantik digunakan sebagai cara memandang budaya konsumsi masyarakat Belanda yang dapat mencerminkan elemen budaya lainnya, yaitu keadaan alam dan kebiasaan hidup. Data dikumpulkan dengan metode simak teknik sadap, yaitu menyadap nama-nama makanan khas Belanda dari sumber-sumber tertulis seperti buku dan laman resep makanan Belanda. Wawancara juga dilakukan untuk verifikasi. Data kemudian dianalisis dengan metode padan translasional untuk menerjemahkan nama-nama makanan ke bahasa Indonesia. Teori struktur nomina bahasa Belanda digunakan untuk menganalisis bentuk-bentuk kebahasaan. Untuk membedakan antara bentuk majemuk dan frase digunakan metode agih dengan teknik sisip, ubah ujud, dan baca markah. Untuk mengungkapkan cerminan budaya, metode etnosemantik digunakan sebagai alat bantu analisis. Proses morfologis yang menamai antara lain sufiksasi dan pemajemukan. Secara sintaksis, ditemukan berbentuk frase preposisional dan endosentrik atributif. Penamaan dilakukan secara literal dan figuratif. Analisis etnosemantik digunakan untuk menganalisis variasi makanan olahan kentang dan biji-bijian yang dikenal masyarakat Belanda sebagai sumber karbohidrat utama. Cerminan budaya yang diperoleh ialah bahwa variasi makanan Belanda menunjukkan adanya empat musim yang berbeda. Konsumsi jenis karbohidrat menunjukkan bahwa Belanda memiliki stuktur tanah berpasir yang cocok ditanami kentang dan biji-bijian. Selain itu, didapatkan pula gambaran kebiasaan hidup masyarakat, yaitu gaya hidup sederhana, mengedepankan gezelligheid, dan toleransi.
Every nation has a set of special vocabularies to name important things on their culture. Those variations depend on natural situation and people's habit of life. As the main source of energy, foods could mirror the culture of a society. To discover it, ethnosemantics analysis applied to obtain the consumption culture of the Dutch which can reveal the other cultural elements, which are the natural situation and the Dutch's habit of life. Data gathered with metode simak teknik sadap, which taking typical Dutch food's names from written source such as recipe books and websites providing recipes. To verify the data, researcher did interviews with some Dutchmen. Gathered data analyzed with metode padan translasional which translating the names in Dutch. Noun structure theory also used to analyze the language forms occurred. To distinguish between compounds and phrases, metode agih applied with insert-in, form-changing, and marks-reading techniques. To reveal the cultural mirror, ethnosemantics method applied. Morphologically, names formed due to suffixation dan compounding. Names are come with prepositional and attributive endocentric phrases. Those foods named both literally and figuratively. Ethnosemantics analysis used to analyze food's variation from potato and breads that is Dutch's main source of carbohydrate. The cultural mirrors obtained are that Dutch food's variation showed a variety of seasons in Netherlands. Sort of carbohydrate that consumed tells about Netherland's sandy ground structure which is suitable to grow potatoes and grains. Besides, the Dutch's habits of life are obtained as well, which are their modest lifestyle, emphasizing gezelligheid, and their high level of tolerance.
Kata Kunci : Penamaan, bentuk kebahasaan, etnosemantik, cerminan budaya.