Bertenun Miskin, Tidak Bertenun Malu: Adat Dan Perempuan Dalam Produksi Kain Tenun Pandai Sikek
JONSON HANDRIAN G, Dr. Laskmi A. Savitri M.A
2019 | Tesis | MAGISTER ANTROPOLOGITesis ini membahas tentang relasi produksi antara induk semang dan anak tenun dalam proses produksi kain tenun Pandai Sikek. Masyarakat Nagari Pandai Sikek menjadikan seperangkat pengetahuan bertenun sebagai pusako yang diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lain, artinya, seperangkat pengetahuan tersebut harus dijaga dan tidak boleh diwariskan kepada orang, kampung, nagari, dan suku bangsa lainnya. Dalam hal ini, pusako seperangkat pengetahuan tersebut diwariskan melalui perempuan. Permasalahan yang kemudian muncul adalah kondisi ekonomi anak tenun yang sulit berkembang karena sistem yang terbangun, akhirnya anak tenun terjerat dalam sebuah "lubang", bertenun miskin, tidak bertenun malu. Studi ini saya lakuka di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Nagari Pandai Sikek adalah salah satu sentral produksi kain tenun yang dipakai sehari-hari oleh masyarakat Minangkabau dalam berbagai kegiatan formal atau informal dan seremonial adat. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan data yang disajikan bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipasi, dokumentas dan menggali sumber-sumber sekunder. Selanjutnya mengidentifikasi dan kemuadian membuat kategorisasi dan verifikasi data yang ada, kemudian menganalisis data tersebut. Dari hasi penelitian, ditemukan bahwa bentuk relasi induk semang dan anak tenun tidak tunggal, terdapat tiga bentuk relasi induk semang dan anak tenun dalam proses produksi kain tenun, yaitu bentuk relasi kapitalistik, relasi patron klien dan relasi komoditi. Sistem yang dibangun memungkinkan induk semang untuk mendapatkan margin profit yang sangat luas dan tidak ada institusi yang mengontrol harga pasar yang kemudian mengakibatkan anak tenun terjebak dalam kondisi yang statis dan induk semang terjebak dalam profit puzzle. Disisi lain, terjadi pergeseran makna padusi maha (perempuan mahal), awalnya ungkapan tersebut melekat pada perempuan yang mahir bertenun namun bergeser pada ranah materil. Pergeseran makna ini menciptakan paradoks, pada satu sisi pusako berupa seperangkat bertenun harus dijaga dan pertahankan kepada perempuan agar mendapatkan gelar padusi maha, disisi yang lain, adat secara simbolik mengizinkan perempuan untuk meraih gelar padusi maha dari ranah dan sektor lainnya.
This thesis is discussing about relation of production between induk semang and anak tenun in the production process of Pandai Sikek woven fabric. Long time a go, Pandai Sikek community decleares a set of knowledge of weaving as pusako and inherited from one generation to another, it means that, a set of knowledge must be maintained and should not be inherited to other people, villages, nagari, and other ethnic groups. In this case, this special knowledge of pusako inherited through women. The problem then arises is the economic problem of anak tenun are difficult to develop because the system is built, finally anak tenun is stuck in a dilemmatic condition, if they keep weaving, they will be poor, but if not, they will be embarrassed. This study was conducted in Nagari Pandai Sikek, sub-district of X Koto, District of Tanah Datar, West Sumatra. Nagari Pandai Sikek is one of the central producers of woven fabrics in West Sumatra that used by the Minangkabau people in various formal or informal ceremonial activities. The method used in this research is qualitative research methods and data presented descriptively. The technique of collecting data is through in-depth interviews, participant observation, documentation and exploring secondary sources. Next, identifying data and then creat the categorization and verification of existing data, and then analyze it. From the research, it was found that the form of the relation between induk semang and anak tenun is not single, there are three forms of induk semang and anak tenun relations in the woven fabric production process, first form is capitalistic relations, second patron and client relations and the last is commodity relations. The system built allows induk semang to get very wide margin profits and no one controls market prices which cause anak tenun get trapped in a stagnant economic condition and anak tenun trapped in profit of puzzles. On the other hand, there is a shift in the meaning of padusi maha (noble woman), which is revised related to women who are proficiently weaving but shifted in the material realm. Shifting of meaning padusi maha cause a paradoxical condition, on the one hand, pusako -in the form of a set of weaving knowledge- must be maintained so that it remains attached to women in order to get the title of padusi maha, on the other hand, adat symbolically allows women to get the title of padusi maha from other domains and sectors, at this point, women are no longer interpreted as traditional values but interpreted in market value.
Kata Kunci : Kain Tenun, Pandai Sikek, Relasi Sosial