Laporkan Masalah

GERAKAN RATU ADIL IMAM SAMPURNA 1888: GERAKAN SOSIAL PARA BEKEL DI SURAKARTA PADA ABAD XIX

FEBRI ADY PRASETYO, Julianto Ibrahim, M. Hum

2019 | Skripsi | S1 SEJARAH

Mangkunegaran adalah principality paling modern di Vorstenlanden. Mangkunegaran mengalami persinggungan yang kuat dengan birokrasi barat. Pada abad ke-19, Mangkunegaran melakukan berbagai eksperimen politik dan ekonomi seperti penghapusan sistem apanage dan perubahan birokrasi ke arah legal-rasional. Pada periode ini muncul sebuah pemberontakan messianisme dan millenarisme yang subversif terhadap Mangkunegaran dan pemerintah kolonial. Pemberontakan tersebut didukung oleh elit desa, yakni para bekel. Studi ini berusaha mengungkap motif para bekel mendukung gerakan messianisme tersebut. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahap, yakni penentuan tema, pencarian sumber, verifikasi sumber, interpretasi sumber, dan penulisan. Sumber yang dipakai adalah sumber primer dan sekunder. Sumber primernya arsip mengenai pemberontakan dan koran sezaman. Sumber sekundernya adalah jurnal, esai, dan buku-buku yang memiliki keterkaitan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bekel di Mangkunegaran telah kehilangan hak-hak istimewanya. Penghapusan tanah apanage dan masuknya elemen barat yang legal-rasional dalam bentuk perkebunan menyebabkan bekel terdeprivasi. Bekel yang awalnya sangat berkuasa bagaikan klein vorst di desa, terpaksa harus menyerah pada perkebunan. Selain itu krisis yang memuncak pada 1888 turut menambah runyam keadaan Mangkunegaran. Sebagai pelampiasan atas akumulasi kekecewaan, bekel sebagai elit desa akhirnya bergabung dengan pemberontakan messianisme dan millenarisme yang digerakkan oleh Iman Sampurna. Imam Sampurna mengklaim dirinya sebagai Ratu Adil atau Juru Selamat yang berusaha mengembalikan tatanan lama, mengusir elemen asing, dan mengembalikan kejayaan masa lalu. Imam Sampurna yang berasal dari keluarga bekel dianggap sebagai patron yang dapat mengembalikan kejayaan para bekel sebelum masuknya birokrasi barat dan perkebunan.

Mangkunegaran was the most modern principality in Vorstenlanden. It strongly came into contact with the Western bureaucracy. In the nineteenth century, Mangkunegaran conducted experiments in politics and economics, abolishing apanage system and reforming its bureaucracy toward a legal-rational authority. This period also saw a subversive messianic and millenarian rebellion against Mangkunegaran and the colonial government supported by the village elite called bekel. This study aims to shed a light on why the bekel supported the rebellion. This research was conducted using a historical method comprising of five stages: selecting a subject, collecting evidences, verifying evidences, interpreting evidences, and writing a history. The primary sources were archives pertaining to the rebellion and newspapers, while the secondary ones were relevant journals, essays, and books. It was concluded that bekel in Mangkunegaran lost their privileges. The abolishment of apanage and the influence of Western elements, i.e. plantation, deprived them. Bekel which had previously been very powerful like klein vorst in villages, had to submit to the plantation. Furthermore, a crisis culminating in 1888 also made matters worse in Mangkunegaran. Due to their disappointment, bekel as the village elite eventually joined the messianic and millenarian rebellion led by Iman Sampurna. He claimed to be Ratu Adil (the Just King) or Messiah who attempted to restore the old order, get rid of the foreign elements, and restore the past glory. Imam Sampurna, coming from a bekel family, was deemed to be able to restore the glory of bekel prior to the age the Western bureaucracy or plantation.

Kata Kunci : bekel, messianisme, millenarisme, Imam Sampurna, Mangkunegaran, Ratu Adil.

  1. S1-2019-335215-abstract.pdf  
  2. S1-2019-335215-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-335215-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-335215-title.pdf