Prevalensi Kelainan Kuku akibat Paparan Pestisida pada Petani Sayur di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang
Adolf Adrian Kurniawan, dr. Sri Awalia Febriana, M.Kes., Sp.KK, Ph.D ; dr. Fajar Waskito, Sp.KK.(K),M.Kes
2018 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar belakang : Indonesia merupakan negara berkembang yang dimana petani merupakan salah satu kelompok kerja terbesar. Kecamatan Ngablak memiliki sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama. Petani menggunakan pesisida untuk mengatasi hama. Dari hasil pemeriksaan sampel kolincholinesterase atau uji petik darah tahun 2006, diketahui 99,8% dari 550 sampel darah petani di Kabupaten Magelang telah tercemar pestisida. Kulit, kuku, dan rambut merupakan bagian tubuh yang paling sering terpapar saat penyemprotan pestisida. Kuku pada petani merupakan bagian tubuh yang sering terpapar dalam jangka waktu lama. Hal ini dikarenakan petani menggunakan sepatu boot dan sarung tangan katun, dimana pestisida masuk melalui pori-pori sarung tangan maupun mulut sepatu boot yang longgar. Oklusi terhadap bahan likuid dalam jangka lama akan mengakibatkan iritasi. Dermatitis kontak iritan dapat menyebabkan kelainan kuku berupa onychodystrophy. Onychodystrophy adalah abnomarlitas morfologi kuku yang disebabkan oleh perubahan seberapa besar perlekatan kuku pada bantalan kuku (nail bed) atau (onikolisis), perubahan warna kuku (diskolorisasi kuku), dan perubahan permukaan kuku (deformitas kuku). Penelitian ini akan membahas tentang kejadian dermatoseis okupasional khususnya kelainan kuku pada petani sayur. Tujuan : Mengetahui prevalensi kelainan kuku (diskolorisasi kuku, onikolisis, dan deformitas kuku) akibat paparan pestisida pada petani sayur di Kecamatan Ngablak, Magelang, Jawa Tengah. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Populasi penelitian ini adalah semua petani sayur yang berada di Kecamatan Ngablak, Magelang. Subjek penelitian adalah petani sayur yang berada di Desa Ngaglik, Desa Pernolo dan Desa Seloprojo. Cara pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Terdapat 105 subjek yang telah masuk dalam inklusi. Data yang didapatkan berupa data primer dan diambil dengan melakukan wawancara sesuai kuisioner NOSQ (Nordic Occuopational Skin Questionnaire-NOSQ 2002). Kemudian dilakukan pemeriksaan dan diagnosis oleh dokter spesialis kulit dan kelamin. Hasil : Prevalensi kelainan kuku karena pestisida pada petani sayur di Kecamatan Ngablak, Magelang, Jawa Tengah berupa : diskolorisasi kuku sebanyak 28,6%, onikolisis sebanyak 22%, dan deformitas kuku sebanyak 8,6%.
Background : Indonesia is a developing country where farmers are one of the largest working groups. Ngablak District has the agricultural sector as the main livelihood. Farmers use pesticides to overcome pests. From the results of examination of chincholinesterase samples or blood sampling in 2006, it was found that 99.8% of the 550 blood samples of farmers in Magelang District had been contaminated with pesticides. Skin, nails, and hair are the most exposed parts of the body when spraying pesticides. Nails on farmers are a part of the body that is often exposed for a long time. This is because farmers use boots and cotton gloves, where pesticides enter through the pores of the glove or mouth of the loose boot. Occlusion of liquid material in the long run will cause irritation. Irritant contact dermatitis can cause nail abnormalities in the form of onychodystrophy. Onychodystrophy is the abnormality of nail morphology caused by changes in how large the nail attachment is on the nail bed (onycholysis), nail discoloration (discoloration of the nail), and changes in the nail surface (nail deformity). This study will discuss occupational dermatoses events, especially nail disorders in vegetable farmers. Aim : Knowing the prevalence of nail abnormalities (discoloration of nails, onycholysis, and nail deformity) due to exposure to pesticides in vegetable farmers in Ngablak District, Magelang, Central Java. Method : This research is an observational descriptive study. The research location was in Ngablak Subdistrict, Magelang Regency, Central Java. The population of this research is all vegetable farmers who are in Ngablak Subdistrict, Magelang. The research subjects were vegetable farmers in Ngaglik Village, Pernolo Village and Seloprojo Village. Samples were taken by purposive sampling method. There are 105 subjects who have entered inclusion. Data obtained in the form of primary data and taken by conducting interviews according to the NOSQ questionnaire (Nordic Occuopational Skin Questionnaire-NOSQ 2002). Examination and diagnosis are carried out by a skin and genital specialist. Result : The prevalence of nail disorders due to pesticides in vegetable farmers in Ngablak Subdistrict, Magelang, Central Java are as follows: 28.6% discoloration of nails, 22% onycholysis, and 8.6% of nail deformities. Keywords : Discoloration of nails, Onycholysis, Nail deformity
Kata Kunci : Diskolorisasi kuku, Onikolisis, Deformitas kuku