Laporkan Masalah

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN MELALUI PROGRAM ZAKAT PRODUKTIF USAHA ANGKRINGAN (KOMPARASI BAZNAS KOTA YOGYAKARTA DAN LAZIS YBW UII)

Nuni Novia Qisthi Syuhada, Danang Arif Darmawan, S.Sos., M.Si.

2019 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Berbagai upaya yang dilakukan oleh aktor-aktor mengatasi kemiskinan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat miskin. BAZNAS Kota Yogyakarta (pemerintah) dan LAZIS YBW UII (civil society) merupakan contoh aktor Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) yang menjadikan zakat sebagai instrumen mengatasi permasalahan masyarakat miskin seperti, keterbatasan materi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keterbatasan akses modal untuk usaha, perilaku konsumtif, ketergantungan dan mental yang hanya ingin dibantu. Kedua OPZ tersebut, membentuk sebuah program pemberdayaan masyarakat dengan mendayagunakan dana-dana zakat melalui program zakat produktif usaha angkringan. Angkringan dianggap sebagai usaha potensial untuk dikelola masyarakat miskin yang dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif komparatif dengan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan proses pemberdayaan dan membandingkan hal-hal apa saja yang sama dan berbeda. Konsep yang digunakan mengenai konsep pemberdayaan masyarakat menurut Soetomo dan Wrihatnolo. Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Secara garis besar proses pemberdayaan yang dilakukan oleh kedua OPZ tersebut, memiliki kesamaan namun ada pula perbedaan. BAZNAS Kota Yogyakarta lebih unggul dibandingkan dengan LAZIS YBW UII, persamaan terdapat pada tahapan yang dilakukan, seperti tahapan identifikasi masalah dan kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, serta menarik manfaat. Sedangkan perbedaan terdapat pada besaran bantuan, aktor yang terlibat, jumlah penerima manfaat, pelaksanaan pelatihan, materi yang diberikan dan monitoring berkala. Hal ini juga memperlihatkan hasil yang berbeda dari pendapatan yang diterima. Penerima Manfaat BAZNAS Kota Yogyakarta memiliki rata-rata pendapatan sebelum menerima program: Rp. 664.705,00 (14%), setelah menerima program : Rp.2.049.852,00 (36%), pendapatan lain sebesar 3%, kenaikan pendapatan Rp. 1.633.823,00 (45%) dan diperoleh persentase pendapatan penerim manfaat di atas UMP Yogyakarta Rp. 1.500.000,00 sebanyak 76%. Sedangkan pendapatan dari penerima manfaat LAZIS YBW UII, yaitu rata-rata pendapatan sebelum menerima program : Rp. 903.769,00 (24%), setelah menerima program: Rp.1.653.846,00 (27%), pendapatan lain sebesar 7%, kenaikan pendapatan Rp. 1.073.076,00 (42%), dan persentase pendapatan di atas UMP Yogyakarta Rp. 1.500.000,00 sebanyak 69%. Selain itu penerima manfaat juga mendapatkan manfaat lain yaitu menambah ketrampilan berdagang, mampu mengedukasi zakat, mampu berzakat dan penggunaan uang hasil penjualan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok serta biaya sekolah anak.

Various efforts made by actors to overcome poverty in realizing the welfare of the poor. BAZNAS of Yogyakarta City (government) and LAZIS YBW UII (civil society) are examples of Zakat Management Organization (OPZ) actors who make zakat as an instrument to overcome poor people's problems, such as limited material to meet their daily needs, limited access to capital for business, behavior consumptive, dependency and mentality that only wants to be helped. The two OPZs formed a community empowerment program by utilizing zakat funds through the angkringan productive zakat program. Angkringan is considered a potential business to be managed by the poor who can help meet their daily needs. This study uses a descriptive comparative method with a qualitative approach to describe the empowerment process and compare what is the same and different things. The concept used is the concept of community empowerment according to Soetomo and Wrihatnolo. The data collection technique used in the study is by observation, interviews, and documentation. Broadly speaking, the empowerment process carried out by the two OPZs has similarities but there are also differences. BAZNAS Yogyakarta City is superior compared to LAZIS YBW UII, the equation is in the stages carried out, such as the stages of problem identification and needs, planning, implementation, monitoring and evaluation, and attracting benefits. Whereas differences are in the amount of assistance, actors involved, number of beneficiaries, implementation of training, material provided and periodic monitoring. This also shows different results from the income received. Yogyakarta City BAZNAS Beneficiaries have an average income before receiving the program: Rp. 664,705.00 (14%), after receiving the program: Rp.2,049,852.00 (36%), another income of 3%, an increase in income of Rp. 1,633,823.00 (45%) and obtained the percentage of beneficiary income above UMP Yogyakarta Rp. 1,500,000.00 as much as 76%. While the income from beneficiaries of LAZIS YBW UII, namely the average income before receiving the program: Rp. 903,769.00 (24%), after receiving the program: Rp. 1,653,846.00 (27%), another income of 7%, an increase in income of Rp. 1,073,076.00 (42%), and the percentage of income above UMP Yogyakarta Rp. 1,500,000.00 as much as 69%. In addition, beneficiaries also get other benefits, namely increasing trade skills, being able to educate zakat, being able to tithe and using the proceeds from the sale are used to fulfill basic needs and children's school fees.

Kata Kunci : Keywords : Empowerment of the Poor, Zakat Management Organizations, Productive Zakat

  1. S1-2019-379847-abstract.pdf  
  2. S1-2019-379847-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-379847-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-379847-title.pdf