DINAMIKA DAN PERSEPSI ORANG TUA DALAM PROSES MEMINTA IZIN MENIKAH PADA MAHASISWA AKTIF MASA STUDI DI UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAUZIAH PUTRI S, Drs. Andreas Soeroso, M.S
2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIMahasiswa jenjang sarjana (S-1) seringkali dihadapkan dengan kewajiban untuk menyelesaikan beban akademik serta mempersiapkan diri untuk dapat bersaing di dunia profesional yang kompetitif. Kondisi tersebut kemudian membentuk suatu asumsi untuk menunda pernikahan sebelum menyelesaikan masa studi, terlebih pada masa tersebut para mahasiswa belum memiliki kondisi keuangan yang stabil. Meskipun begitu tetap terdapat beberapa kalangan mahasiswa yang memutuskan untuk menikah dalam masa studinya. Oleh karenanya penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seperti apa dinamika proses perizinan menikah di kalangan mahasiswa jenjang sarjana serta faktor apa yang menjadi penentu dalam pertimbangan orangtua ketika memberikan atau tidaknya izin untuk menikah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan beberapa tahapan proses penelitian yakni pengumpulan data lapangan, reduksi data, pemaparan hasil data dan menarik kesimpulan dari hasil penelitian. Informan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang yang telah menikah pada saat masih menjalani studi jenjang sarjana di Universitas Gadjah Mada. Metode pengambilan data dilakukan dengan wawancara secara mendalam (in-depth interview) menggunakan pedoman wawancara (interview guide) sebagai panduannya. Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan bahwa nilai yang menjadi pedoman hidup orangtua berpengaruh besar terhadap kelancaran proses izin menikah pada mahasiswa. Orangtua yang agamis yang ditandai dengan menjadikan nilai agama sebagai landasan hidup keluarga lebih besar kemungkinanannya untuk memberikan izin menikah pada mahasiswa, sekalipun belum menyelesaikan studi dan mempunyai kemapanan secara finansial. Hal ini dikarenakan prioritas orangtua untuk melindungi anak dari pergaulan yang diluar batas norma sosial dan agama. Pernikahan kemudian dinilai menjadi pilihan rasional terbaik sebagai solusinya. Faktor lain yang berperan dalam kelancaran perizinan menikah yakni kebudayaan, dimana mencakup dimensi tekanan sosial lingkungan sekitar untuk segera mengakhiri masa lajang karena telah memasuki usia yang secara kultur masyarakat dianggap layak untuk menikah; kesiapan calon pasangan, dalam segi kematangan pribadi dan kemapanan ekonomi; serta pola asuh orangtua yang cenderung mengkombinasikan antara memberikan kebebasan anak untuk memilih setiap keputusan dalam hidup namun tetap mengontrol anak agar sesuai dengan nilai yang ditanamkan orangtua. Adapun hambatan dalam proses perizinan menikah mahasiswa, dipengaruhi oleh faktor tradisi kebudayaan keluarga pasangan, yang harus melalui sejumlah pertahapan dan persyaratan secara adat sebelumnya serta ketidaksiapan informan dan pasangan dalam segi finansial dan studi yang belum terselesaikan. Proses penyelesaian hambatan sendiri dilakukan dengan menggunakan metode mediasi melalui pihak ketiga serta metode negosiasi.
Undergraduate students are often faced with the obligation to complete academic burdens and prepare themselves to be able to compete in the competitive professional world. This condition then formed an assumption to postpone marriage before completing the study period, especially at that time the students did not have a stable financial condition. Even so, there are still a number of students who decide to get married during their studies. Therefore this research was conducted to find out what the dynamics of the licensing process is among undergraduate students and what factors determine in the consideration of parents when giving or not permission to get married. This research uses descriptive qualitative method with several stages of the research process, namely field data collection, data reduction, presentation of data results and drawing conclusions from the results of the study. The informants in this study amounted to 8 people who were married while still undergoing undergraduate studies at Gadjah Mada University. The method of data collection is carried out by in-depth interviews using the interview guide as a guide. The results of the study indicate that there is a tendency that the values that become parental life guidelines have a major influence on the smoothness of the marriage permit process for students. Religious parents who are characterized by making religious values the basis of family life are more likely to give permission for marriage to students, even if they have not completed their studies and have established financially. This is due to the priority of parents to protect children from relationships that are outside the limits of social and religious norms. Marriage is then considered to be the best rational choice as the solution. Other factors that play a role in the smooth running of licenses are culture, which includes the dimensions of the surrounding social pressure to immediately end the single period because it has entered an age that is considered appropriate for the culture of marriage; readiness of potential partners, in terms of personal maturity and economic stability; and parenting parents who tend to combine between giving children the freedom to choose every decision in life but still control their children so that they are in accordance with the values instilled by parents. The obstacles in the licensing process are married students, influenced by the cultural traditions of the couple's family, which must go through a number of stages and requirements in a traditional manner as well as the unpreparedness of informants and partners in financial and unresolved studies. The process of resolving barriers themselves is carried out by using mediation methods through third parties and negotiation methods.
Kata Kunci : pernikahan, keluarga, orangtua, motivasi