PENGARUH IMPLEMENTATION INTENTION TERHADAP PRASANGKA IMPLISIT DAN AFEKSI PADA KELOMPOK FUNDAMENTALIS BEDA AGAMA
KUKUH RIZKI W, Dr. Sri Kusrohmaniah, M.Si.
2019 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIToleransi antar kelompok beragama menjadi sebuah permasalahan yang umum di Indonesia. Prasangka atau pandangan negatif dapat bersifat implisit yang membuatnya susah untuk di sadari sekaligus membuat individu memiliki prasangka implisit yang berarti secara tidak sadar atau susah untuk disadari ketika melakukan bias dalam pandangan dan berpengaruh pada perilaku salah satunya diskriminasi. Hal tersebut berasal dari asosiasi terhadap kelompok tertentu dimulai ketika evaluasi kognitif secara langsung maupun tidak langsung yang membentuk suatu skema dan stereotip dan bersifat otomatis atau spontan teraktivasi pada objek sosial tertentu. Bagian otak Amigdala menunjukkan reaksi ketika partisipan melakukan prasangka. Khususnya kombinasi Amigdala dan Insula yang berkesinambungan tubuh menunjukkan komponen afeksi ketika proses mentalisasi dan empati yang membuktikan terdapatnya arousal pada afeksi. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat apakah penanaman niatan dapat mempengaruhi nilai prasangka implisit dan afeksi pada kelompok beragama Islam dan Kristen (Protestan dan Katolik) di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan variabel dependen prasangka implisit dan Afeksi variabel independen yaitu penanaman niatan (implementatin inention). Penelitian melibatkan 40 partisipan dengan kriteria berusia 18-22, terdiri dari 20 beragama Islam dan 20 beragama Kristen. Desain eksperimen yaitu control group with post-test only desaign. Pada Kelompok eksperimen diberikan perlakuan berupa penanaman niatan sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberikan penanaman niatan. Pengukuran prasangka implisit menggunakan Implicit Association Test (IAT) dan pengukuran afeksi dengan Galvanic Skin Response (GSR). Analisis data menggunakan teknik analisis Kruskal-Wallis Test pada variabel afeksi dan dengan One-Way ANOVA dan post hoc LSD pada prasangka implisit. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan prasangka implisit yang signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen (F= 3,335; df= 3, 36; p < 0,01). Partisipan pada kelompok eksperimen memiliki kontrol diri yang baik sehingga mereka memiliki pandangan yang baik terhadap agama lainnya. Sedangkan pada kelompok kontrol, partisipan lebih cenderung memiliki pandangan baik terhadap agama yang dianutnya karena mereka tidak mengontrol diri mereka untuk memandang kelompok yang lain dengan baik. Afeksi pada partisipan menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen (chi-square=0,460;df= 3;p>0,05). Namun pada rerata data GSR partisipan kelompok kontrol menunjukkan skor yang lebih tinggi pada asosiasi yang bertentangan pada kepercayaan partisipan yang mengindikasikan adanya sikap negatif bila dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Dengan demikian implementation intention dapat berpengaruh pada prasangka implisit, namun tidak berpengaruh pada afeksi.
Tolerance between religious groups is a common problem in Indonesia. Prejudice or negative views can be implicit which makes it not easy to realize while individuals making an implicit prejudice which means unconsciously or hard to realize when doing bias in view and influencing behaviour, one of which is discrimination. This comes from associations with certain groups starting when cognitive evaluations directly or indirectly form a scheme and stereotype and are automatic or spontaneously activated on certain social objects. Parts of the Amigdala brain react to prejudice participants' compilation. The special combination of the Amigdala and Insula that continues in body show the components of the mentalization and empathy affection process prove the existence of arousal. The purpose of this study is to see whether the implementation intention can influence the value of implicit prejudice and affection in Muslim and Christian (Protestant and Catholic) groups in Indonesia. This research is an experimental study that uses implicit bias and affective prejudice as the dependent variable and implementation intention as the independent variable. The study involved 40 participants which criteria are aged 18-22, consisting of 20 Muslims and 20 Christians. The design of experiment is control group with post-test only. In the experimental group, the treatment was given implementation intention. On other hand, the control group was not given implementation intention. The measurement of implicit prejudice uses the Implicit Association Test (IAT) and affection measurement uses Galvanic Skin Response (GSR). Data analysis used the Kruskal-Wallis Test analysis technique on affective variables and with One-Way ANOVA and post hoc LSD on implicit prejudice. The results of this study showed that there were significant differences in implicit prejudice between the control and experimental groups (F = 3.335; df = 3, 36; p <0.01). Participants in the experimental group have good self-control so they have a good judgment of other religions. Whereas, in the control group, participants are more likely to have a good judgment of their religion because they do not control themselves to judge the other groups as well. The other result, participants (chi-square= .460; df = 3; p> 0.05). However, on average GSR data, participants in the control group show higher GSR data on incongruent association which indicated a negative attitude compared to the experimental group. Thus, based on both results, it can be concluded that the implementation intention can influence implicit prejudice, yet it has no effect on affection.
Kata Kunci : prasangka implisit, amigdala dan insula, implementation intention, the implicit-association test, sikap negatif, galvanic skin response, arousal, afeksi, fundamental agama. / implicit prejudice, amigdala and insula, implementation intention, implicit asso