Laporkan Masalah

KEANEKARAGAMAN ANGGOTA SUBCLASSIS ACARINA PADA KELELAWAR (subordo Microchiroptera) DI GUA JEPANG BUKIT PLAWANGAN D.I. YOGYAKARTA DAN GUA SEPLAWAN PURWOREJO JAWA TENGAH

DHEA GINAWATI, Soenarwan Hery Poerwanto, M. Kes,Drs. Bambang Agus Suripto, S.U., M. Sc.,Dr.rer.nat. Andhika Puspito Nugroho, M.Sc.

2019 | Skripsi | S1 BIOLOGI

Microchiropteran berperan sebagai agen pengendali hama serangga nokturnal karena pada umumnya kelelawar aktif mencari makan pada malam hari (Corbet dan Hill, 1992). Kelelawar juga dapat menjadi host atau inang Acarina khususnya Acarina yang dapat hidup pada permukaan tubuh kelelawar seperti pada kulit dan rambut inang (Hopla dkk, 1994). Acarina pada mammal kecil diketahui dapat menyebabkan kerugiaan berupa penurunan kondisi kesehatan inang, (Nurhidayat, 2013). Penelitian ini dilakukan di Gua Jepang dan Gua Seplawan, penangkapan kelelawar dilakukan saat kelelawar mencari makan pada malam hari, penangkapan dilakukan dengan menggunakan mist net, kemudian dilakukan pengukuran morfometri dan pengidentifikasian dengan menggunakan self-fieldguide. Koleksi Acarina dari permukaan tubuh kelelawar, kemudian Acarina dipreparasi untuk membuat preparat. Analisis data untuk mengetahui prevalensi dan intensitas Acarina. Kelelawar yang ditemukan di Gua jepang yaitu Miniopterus schreibersii, Rhinolophus pusillus, kelelawar yang ditemukan di Gua Seplawan yaitu M. schreibersii, R. pusillus, Rhinolophus affinis dan Hiposideros larvatus. Acarina yang ditemukan pada permukaan tubuh Kelelawar terdapat sembilan genera yaitu Periglischrus sp., Spinturnix plecotinus, Spinturnix myoti, Laelaps sp., Dendrolaelaps sp., Blattisocius sp., Macronyssus sp., Acarus sp., Glycyphagus sp.. Kategori prevalensi di Gua Jepang pada R. pussilus (17,02%) dan Gua Seplawan pada M. Schreibersii (21,28%) yaitu sering. Kategori Intensitas Acarina yang didapatkan S. plecotinus (0,53), Glycyphagus sp. dan Laelaps sp. (0,02) yaitu sangat rendah.

Microchiropteran acts as a controlling agent for nocturnal insects because bats are actively foraging at night (Corbet and Hill, 1992). Bats can also be hosts or host hosts, especially Acarina which can live on the body surface of the bat as in the skin and host hair (Hopla et al., 1994). Acarina in small mammals is known to cause injury in the form of a decrease in host health conditions (Nurhidayat, 2013). This research was conducted in Jepang Cave and Seplawan Cave, catching bats is done when bats forage at night, catching is done by using a mist net, then morphometry and identification measurements are carried out using self-fieldguide. Acarina collection from the bat's body surface, then the Acarina is prepared to make preparations. Data analysis to determine the prevalence and intensity of Acarina. Bats found in Jepang Cave are Miniopterus schreibersii, Rhinolophus pusillus, bats found in Seplawan Cave, namely M. schreibersii, R. pusillus, Rhinolophus affinis and Hiposideros larvatus. Acarina found on the body surface of bats are nine genera, namely Periglischrus sp., Spinturnix plecotinus, Spinturnix myoti, Laelaps sp., Dendrolaelaps sp., Blattisocius sp., Macronyssus sp., Acarus sp., Glycyphagus sp. in R. pussilus (17.02%) and Seplawan Cave in M. Schreibersii (21.28%) which is often. Acarine Intensity Category obtained by S. plecotinus (0.53), Glycyphagus sp. and Laelaps sp. (0.02) which is very low.

Kata Kunci : Microchiroptera,Acarina,Gua Jepang,Gua Seplawan,prevalensi dan intensitas.

  1. S1-2019-352279-abstract.pdf  
  2. S1-2019-352279-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-352279-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-352279-title.pdf