PROSES DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN EKS TAHANAN POLITIK 1965 DI LEMBAGA KIPRAH PEREMPUAN (KIPPER) YOGYAKARTA
PIPIT RATNAWATI, Nurhadi, S.Sos., M.Si., Ph.D.
2018 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANPasca tragedi yang terjadi pada tahun 1965 atau yang dikenal sebagai G30S PKI merupakan insiden berdarah yang menewaskan enam jenderal dan perwira tinggi Angkatan Darat yang kemudian memunculkan narasi bahwa pelaku insiden berdarah tersebut adalah PKI. Adanya narasi tersebut menyebabkan tentara dan warga sipil menangkap ratusan ribu orang baik laki-laki maupun perempuan yang mereka curigai sebagai anggota PKI dan simpatisannya, termasuk organisasi yang memiliki ideologi seperti ideologi PKI untuk disiksa, dibunuh, dan ditahan tanpa proses pra peradilan. Penderitaan yang dialami khususnya pada perempuan tidak hanya pada saat berada ditahanan, tetapi juga setelah keluar dari tahanan. Dengan disandangnya label perempuan eks tahanan politik 1965 sehingga menyebabkan adanya perlakuan diskriminatif dari pemerintah maupun masyarakat, semakin menyulitkan mereka dalam melakukan aktivitas hidup. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui proses dan strategi pemberdayaan perempuan eks tahanan politik 1965 di Lembaga KIPPER. Dalam penelitian ini, konsep yang digunakan untuk membantu memahami realitas dibalik fakta yaitu konsep penyadaran dari Paulo Freire; konsep proses pemberdayaan dari Sulistiyani; konsep proses pemberdayaan perempuan dari Sumodiningrat; dan strategi pemberdayaan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian ini yaitu di Lembaga KIPPER (Kiprah Perempuan) yang terletak di Gang Wiyono, Keparakan Kidul, Mergangsan, Kota Yogyakarta. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive. Informan berjumlah 16 orang yang terdiri dari Pengurus Lembaga KIPPER, Anggota Lembaga KIPPER, perempuan eks tahanan politik 1965, Pengurus Lembaga FOPPERHAM, Sutradara Teater Tamara, dan anggota perkumpulan eks tahanan politik 1965. Terdiri dari dua unit analisis yaitu Lembaga KIPPER dan perempuan eks tahanan politik 1965. Terdiri dari dua jenis data yaitu data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Uji keabsahan data dengan teknik triangulasi, dan jenis triangulasi sumber data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh Lembaga KIPPER sudah sesuai dengan proses pemberdayaan dan strategi pemberdayaan. Kegiatan pemberdayaan dilakukan melalui tiga proses yaitu keberpihakan dan peningkatan kesadaran perempuan; penyesuaian kapasitas dan pemeliharaan kesadaran; pendampingan dan peningkatan wawasan. Kegiatan pemberdayaan juga dilakukan melalui 4 strategi yaitu pendampingan; penyerapan aspirasi melalui diskusi; menjalin kemitraan dengan berbagai pihak terkait; dan pengutamaan peran masyarakat. Akan tetapi masih ada kendala dalam pelaksanaan proses pemberdayaan yaitu terkait dengan faktor usia, pasang surut relawan, dan faktor ekonomi (finansial).
After the tragedy that occurred in 1965 or known as the G30S PKI was a bloody incident that killed six generals and high-ranking Army officers who later brought up a narrative that the perpetrators of the bloody incident were PKI. The existence of the narrative causes soldiers and civilians to capture hundreds of thousands of men and women whom they suspected of being members of the PKI and their sympathizers, including organizations that had ideologies such as the PKI ideology to be tortured, killed, and detained without pre-trial proceedings. Suffering experienced especially for women not only when they were detained, but also after leaving prison. The label as women ex political prisoners 1965 causing discriminatory treatment from the government and the community, it is increasingly difficult for them to carry out life activities. This study intends to find out the process and strategy of empowering women ex political prisoners 1965 at the KIPPER Institute. This study intends to find out the process and strategy of empowering women ex political prisoners 1965 at the KIPPER Institute. In this study, concepts are used to help understand the reality behind the facts is the concept of awareness of Paulo Freire; the concept of the empowerment process from Sulistiyani; the concept of the empowerment process of women from Sumodiningrat; and empowerment strategies from the Community and Village Empowerment Service of West Sumatra Province. The research method used is descriptive qualitative method. The location of this study is at the KIPPER Institution (Kiprah Perempuan) located in Gang Wiyono, Keparakan Kidul, Mergangsan, Yogyakarta City. The informant determination technique uses a purposive technique. There were 16 informants consisting of KIPPER Institution Board members, KIPPER Institute Members, women ex political prisoners 1965, Board of FOPPERHAM Institution, Tamara Theater Director, and members of the former political prisoners of 1965. Consisting of two units of analysis is KIPPER Institution and women ex political prisoners 1965. Consisting of two types of data is primary and secondary data. Data collection techniques with observation, interviews, documentation and literature. Data analysis techniques with data reduction, data presentation, and data verification. Test the validity of the data with triangulation techniques and types of data source triangulation. The results of this study indicate that the empowerment activities carried out by the KIPPER Institute are in accordance with the empowerment process and empowerment strategies. Empowerment activities are carried out through three processes is partisanship and increased awareness of women; capacity adjustment and maintenance of awareness; mentoring and enhancing insight. Empowerment activities are also carried out through 4 strategies is mentoring; aspiration absorption through discussion; establish partnerships with various related parties; and prioritizing community roles. However, there are still obstacles in the implementation of the empowerment process, which are related to age, the ups and downs of volunteers, and economic (financial) factors.
Kata Kunci : Lembaga KIPPER, Pemberdayaan Perempuan, Perempuan eks tahanan politik 1965, Proses Pemberdayaan, Strategi Pemberdayaan