Memahami Strategi dan Diskursus Gerakan Penolak Energi Panas Bumi di Banyumas
PRIYO FAJAR SANTOSO, Dr. Bevaola Kusumasari, S.I.P., M.Si.
2019 | Skripsi | S1 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIKEnergi panas bumi saat ini dianggap sebagai energi terbarukan yang ramah terhadap lingkungan sekitar. Namun berdasarkan fakta empiris di berbagai negara, produksi energi panas bumi ternyata kerap menimbulkan kerugian sosial-ekologis bagi masyarakat. Berbagai gerakan environmental justice kemudian muncul untuk melakukan penolakan dan memberikan konter wacana terhadap persepsi dominan yang menyatakan energi panas bumi merupakan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Artikel ini bertujuan untuk memahami bagaimana strategi dan diskursus gerakan Aliansi Selamatkan Slamet dalam menolak pembangunan PLTPB Baturraden di Banyumas dengan menguraikan elemen-elemen kunci dan kondisi spesifik yang dihadapi. Dengan menggunakan kerangka kerja teoritis berupa elemen-elemen kunci strategi gerakan (tuntutan, arena, dan taktik), artikel ini mengkaji bagaimana Aliansi Selamatkan Slamet menentukan pemilihan target, framing, waktu, relasi, dan berbagai dilema yang ada dalam gerakan resistensi. Metode yang digunakan berupa pendekatan kualitatif dengan merujuk data primer berupa wawancara dan mempelajari dokumen-dokumen tertulis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kondisi sosio-politik, hubungan antar organisasi, dan kultur organisasi turut berpengaruh dalam strategi dan diskursus yang dibangun gerakan Aliansi Selamatkan Slamet.
Geothermal energy is currently considered a renewable energy that is friendly to the surrounding environment. However, based on empirical facts in various countries, geothermal energy production often results in social-ecological losses for the community. Various environmental justice movements emerged to refuse and provide a counter discourse on the dominant perception that geothermal energy is renewable and environmentally friendly. This article aims to understand how the movement's strategy and discourse of the movement Aliansi Selamatkan Slamet in rejecting the construction of the Baturraden PLTPB in Banyumas by outlining the key elements and specific conditions faced. Using a theoretical framework in the form of key elements of the movement strategy (demands, arena, and tactics), this article examines how the Aliansi Selamatkan Slamet determines the selection of targets, framing, time, relations, and various dilemmas in resistance movements. The method used is in the form of a qualitative approach by referring to primary data in the form of interviews and studying written documents. The results of this study indicate that the socio-political conditions, relations between organizations, and organizational culture also influence the strategies and discourses that the Aliansi Selamatkan Slamet movement built.
Kata Kunci : Energi panas bumi, environmental justice movement, strategi gerakan, diskursus gerakan